Inspire | Human Stories

They Don't Talk About: Cadel

Jumat, 13 Jan 2023 16:27 WIB
They Don't Talk About: Cadel
Foto: Pexels
Jakarta -

Pernah melihat seorang anak kecil sedang diajari membaca? Mengajari anak untuk bisa membaca dengan lancar perlu diawali dari mengetahui cara penyebutan tiap huruf. Dari huruf A sampai Z, sang anak harus mampu melafalkan setiap huruf dengan baik agar ketika diajarkan membaca berbagai kata dan kalimat, mereka bisa melakukannya dengan lancar.

Namun apa yang terjadi jika setelah diajari cara membaca beberapa huruf, ia tetap tidak bisa membacanya dengan baik? Ya, di situlah posisi saya sekarang ketika sudah divonis memiliki kondisi cadel hingga detik ini, menginjak umur 29 tahun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cadel memiliki arti 'kurang sempurna mengucapkan kata-kata sehingga bunyi [r] dilafalkan [l]'. Tapi sebenarnya apa yang dijabarkan oleh KBBI sangat sempit dan tidak sesuai dengan kenyataan yang saya alami. Tidak hanya huruf 'R' saja yang sampai sekarang tidak bisa saya lafalkan dengan baik. Huruf 'L' pun juga tidak bisa. Malah kalau melihat ke masa-masa saya masih kecil, huruf 'T' pun saya lafalkan layaknya huruf 'K', sedangkan huruf 'N' seperti huruf 'Ng'.

Tidak Tahu Kalau Cadel

Tumbuh kembang saya sebenarnya sama saja dengan sebagian besar orang, termasuk kamu yang lagi membaca tulisan ini. Tidak ada perbedaan yang mencolok. Namun saya merasakan keanehan ketika bersekolah di sebuah sekolah Katolik di daerah Tangerang Selatan. Saat itu, saya disuruh maju ke depan kelas untuk membaca tulisan di papan tulis yang sudah ditulis oleh ibu guru.

Saya memang selalu merasa tegang atau takut kalau disuruh berbicara di depan orang. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian pada saat itu. Saya rasa kita semua pasti pernah merasakan hal tersebut. Tapi apa yang saya rasakan terakumulasi dengan perasaan takut ditertawakan. Ya, ketika saya mulai membaca tulisan di papan tulis, saya pasti mendengar beberapa teman langsung tertawa. Awalnya saya bingung kenapa mereka tertawakan. Padahal setiap kata yang saya ucapkan sudah benar sesuai bagaimana cara membacanya. Itulah yang saya rasakan pada saat itu.

Namun semuanya berubah saat saya mendapatkan pengakuan dari teman-teman lain yang mengatakan saya itu cadel. Ternyata ada beberapa kata yang tidak bisa dibaca dengan semestinya karena memang saya tidak mampu melakukannya. Dari sanalah saya tahu bahwa saya cadel, setelah memasuki kelas 1 SD.

Menjadi Tekanan Tersendiri

Menjadi cadel itu tidak enak. Secara langsung, saya menjadi pusat perhatian, khususnya di-bully dengan disuruh berbicara huruf 'R' dan 'L', atau disuruh mengulangi kalimat 'ular melingkar di atas pagar muter-muter'. Pelan tapi pasti, saya tumbuh sebagai anak yang tidak pede untuk berbicara di depan umum. Jangankan berbicara di depan umum, lagi ngumpul dengan beberapa orang yang memang kenal saya dengan baik pun rasanya cukup segan untuk ikut ngomong. Saya takut mereka tidak mengerti apa yang saya ucapkan.

Tekanan itu terus menerus 'memeluk' mental saya belasan tahun. Dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, hingga kuliah, saya masih tetap tidak pede untuk ngomong secara bebas seperti orang lain yang tidak cadel. Setiap ada presentasi, khususnya saat kuliah, rasa takut sangat besar di dalam pikiran saya. Bahkan saya pernah tidak masuk ke dalam satu sesi kelas karena harus presentasi. Rasa takut itu memang sama sekali tidak enak, di manapun dan apapun kondisi kita.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Seiring perjalanan hidup saya, muncul kesadaran bahwa saya tidak bisa memiliki mentalitas "kecil" seperti itu. Rasa takut itu tidak boleh selamanya mempengaruhi cara saya memandang hidup. Harus ada level up dari bagaimana saya berinteraksi dengan orang lain, serta berbicara di depan umum tanpa perlu berusaha menjadi seorang quitter seperti saat kuliah.

Saya memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri kalau inilah saya yang seutuhnya. Mengawali proses menerima diri saya sendiri memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri yang dipupuk selama bertahun-tahun hingga bisa mencapai titik finish. Tidak cuma itu saja, pengalaman saya di dunia kerja dengan konsistensi dan komitmen besar juga cukup memengaruhi bagaimana journey untuk berdamai diri sendiri.

Pada akhirnya kondisi ini membentuk diri saya untuk jadi orang yang cuek dengan tidak peduli omongan orang lain. Saya menjadi lebih kuat jika diolok-olok karena cadel. Ya, saya cadel, terus kenapa?

[Gambas:Audio CXO]

(tim/DIR)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS