Interest | Art & Culture

Eksperimen Kami: Menjadi Gen Z di Lokasi Bersejarah

Jumat, 18 Aug 2023 17:00 WIB
Eksperimen Kami: Menjadi Gen Z di Lokasi Bersejarah
Foto: CXO Media
Jakarta -

Not sure if I could speak for all the Gen Z   at least for me   we really don't have much patriotism vibrating in our chest. Bukan berarti apatis pada negara, hanya saja mungkin kebanyakan respon atau perasaannya lebih ke "Ya udah aja." Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan para pemuda dulu yang mati-matian memperjuangkan kemerdekaan.

Dipikir-pikir setelah bertahun-tahun menetap di ibukota, tak pernah sesekali terlewat di pikiran untuk melihat titik-titik penuh cerita perjuangan bangsa ini. Padahal, sejak duduk di bangku sekolah dasar, sejarah tentang Indonesia tak henti disuguhkan bahkan hingga gelar sarjana dapat disandangkan di belakang nama. But, it's better late than never, right?

Edisi Agustusan, atas alasan penasaran   dan juga tuntutan pekerjaan   saya berkunjung ke dua lokasi bersejarah di Jakarta; Gedung Joang '45 dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Sebelum berbincang dengan rekan-rekan kerja yang cukup melek dengan sejarah, saya benar-benar tak tahu seluk beluk tokoh penting dibalik kemerdekaan.

Pemahaman saya soal golongan muda yang seringkali disebut-sebut dalam buku sejarah sangat terbatas. Bahkan saya pun baru tahu jika mereka memiliki "basecamp" yang sekarang tentunya sudah menjelma jadi museum.

Gedung Joang '45 atau juga sering dikenal sebagai Menteng 31 dulunya sebuah hotel tinggalan Belanda bernama Hotel Schomper. Setelah Indonesia diakuisisi Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi asrama pemuda Indonesia yang ditempati oleh Chairul Saleh, Adam Malik, D.N. Aidit, dan kawan-kawan, dengan Ahmad Subardjo sebagai salah satu pengajar untuk pendidikan politik.

This is where the magic happens-almost feels like Hogwarts who fosters bright young wizards like Harry Potter, Ron Weasley, and Hermione Granger who are destined to save the world.

Saat menginjakkan kaki ke dalam museum, dua biografi pemuda Indonesia dipajang bersebelahan; Sukarni dan Adam Malik. Entah kenapa pikiran pertama yang terlintas di kepala adalah bagaimana nama Adam Malik bakal cukup keren jika dijadikan nama panggung untuk penyanyi.

Menyusuri Gedung Joang '45, sejarah bangsa ini mulai teringat kembali setelah hanya teringat secara samar. Informasi yang dulu mati-matian saya hafalkan untuk ujian sejarah, namanya kian bunyi kembali.

Sembari mengelilingi ruangan, sejarah perjuangan bangsa diceritakan melalui foto-foto, diorama, lukisan, hingga pameran barang-barang seperti seragam PETA, senjata, medali, dan lain-lain. Looking at the battlefield-worn uniform, to be honest I thought I could pull off that look.

.Mobil Kepresidenan RI-1 milik Soekarno/ Foto: CXO Media

Yang paling keren, museum ini juga punya tiga mobil yang dipakai oleh dua bapak bangsa selama melakukan tugas kepresidenannya, lengkap dengan plat nomor asli bertuliskan REP-1 dan REP-2. Gagah, tangguh, dan berani-itulah kesan pertama saat melihat Buick-8 keluaran AS yang merupakan mobil Pak Soekarno.

Sementara di sebelahnya, eksterior yang lebih ramping dari model serupa dan warna krem yang kalem diperuntukkan untuk Pak Hatta. Bertolak belakang layak dark & white academia, tapi cukup menggemaskan. Baru kali ini juga saya melihat mobil model jadul yang biasa hanya ditayangkan pada film noir klasik Hollywood.

Sudah cukup berkeliling sekitaran markas pemuda Indonesia dulu, Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Musnaprok) jadi destinasi selanjutnya. Masih berlokasikan di daerah Menteng, Musnaprok ini dulunya adalah rumah laksamana muda angkatan laut Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia, tak lain tak bukan Laksamana Tadashi Maeda.

Setelah kejadian Rengasdengklok, tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia langsung pergi ke Jakarta namun gagal menemukan hotel atau tempat meeting yang aman dan masih buka karena adanya sistem jam malam yang diatur oleh Jepang. Atas permintaan Ahmad Subardjo, Laksamana Maeda pun rela untuk meminjamkan rumahnya semalam agar golongan muda dan tua bisa segera mempercepat kemerdekaan.

Meski sudah disulap menjadi museum, masih ada beberapa bagian yang terasa seperti rumah. Misalnya teras belakang yang sangat luas dengan patio yang bermodelkan seperti halaman depan rumah nenek, persis seperti tempat berkumpulnya keluarga saat sore-sore untuk chill dan ngopi. Ada juga bunker yang rutenya misterius   katanya sih sudah hancur.

.Bunker di Museum Perumusan Naskah Proklamasi/ Foto: CXO Media

Ngobrol sedikit dengan pemandu museum, kabarnya rumah ini dulunya milik konsulat jenderal Inggris. Cukup menjelaskan kenapa ada pajangan plakat pelantikan raja Inggris yang terasa out of the loop. Selebihnya isi Musnaprok adalah perabotan asli seperti meja, kursi, dan piano yang dipakai sebagai alas Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi.

Ada juga biografi dan foto-foto tokoh yang hadir saat malam perumusan proklamasi. Namun dua orang di antaranya ditampilkan dengan foto yang kurang proper, entah matanya yang tertutup atau gambarnya yang blur.

Well, if i was a hero, I'd be pissed if they chose an ugly picture of me. Lain sisi, mungkin adanya keterbatasan aset foto mengingat bahwa tak semua nama-nama pemuda itu juga sering dimuat dalam buku sejarah. Sayangnya, saat itu lantai dua tak boleh dikunjungi karena sedang ada proses pengerjaan pameran untuk acara Agustusan.

Sisanya seperti ruang ketik Sayuti Melik dan ruang audiovisual yang terhubung masih dapat dikunjungi   walaupun agak horror. Dibanding lokasi sebelumnya, Musnaprok terasa lebih lively dan trendy.

Akhir kata, senang rasanya bisa mengembalikkan kembali ingatan tentang perjuangan Indonesia serta belajar lebih dalam mengenai sejarah bangsa. Sebab, perjuangan mereka tidaklah sia-sia. Makna 17 Agustus juga sekarang-meski telah sedikit bergeser-tetap hidup melalui perayaan-perayaan menarik melalui upacara dan lomba 17-an. It's all good.

Happy Independence Day!

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita

NEW RELEASE
CXO SPECIALS