Interest | Wellness

Mengenal 5 Tipe Apology Language

Kamis, 22 Sep 2022 15:02 WIB
Mengenal 5 Tipe Apology Language
Ilustrasi bahasa permintaan maaf Foto: Freepik
Jakarta -

Mungkin kamu sudah mengenal lima bahasa cinta atau love languages di luar kepala. Diperkenalkan oleh Gary Chapman, PhD, love language menunjukkan bagaimana kamu mengekspresikan rasa cinta atau sayang kepada orang lain. Namun, selain love language, Gary juga memperkenalkan apa yang disebut dengan apology language, yakni bagaimana cara seseorang menyampaikan atau menunjukkan maaf.

Mirip dengan konsep love language, apology language juga dibagi menjadi lima tipe guna menjelaskan bagaimana seseorang mengekspresikan cara maaf yang berbeda-beda. Berangkat dari fakta bahwa manusia terhubung secara berbeda, perilaku mereka pun belum tentu mirip antara satu dan yang lain, terutama dalam mengekspresikan rasa bersalah.

Menurut psikiater Leela R. Magavi, MD, apology language merupakan cara agar semua pihak dapat merasa didengarkan dan dihargai, sehingga nantinya diperkirakan dapat memperkuat hubungan mereka. Bahasa permintaan maaf tak hanya esensial dalam memahami pasangan lebih dalam, tapi juga penting untuk diri sendiri.

Meski hal ini mungkin tak selalu jadi pertimbangan, namun cara kita meminta maaf kepada orang lain sebenarnya penting agar pihak yang bersangkutan sama-sama bisa move on dari argumen yang pernah terjadi dan menyelesaikan konflik. Bagi beberapa orang, perkataan maaf yang dikeluarkan dari bibir sudah dianggap cukup untuk benar-benar mengekspresikan rasa bersalah mereka. Namun untuk beberapa orang, hal itu dapat terasa kosong dan dangkal.

Maka dari itu, untuk lebih mengerti tentang bahasa permintaan maaf lebih dalam, berikut ini adalah lima tipe apology language.

.Ilustrasi meminta maaf/ Foto: Unsplash

Expressing regret

Apology language yang satu ini memusatkan perhatian pada luka emosional, atau dalam artian lain adanya pengakuan bersalah dan malu karena sudah menyebabkan rasa sakit pada orang lain. Mengungkapkan penyesalan merupakan bahasa permintaan maaf yang kuat karena langsung ke intinya di mana orang yang memiliki apology language ini benar-benar mengakui kesalahan tanpa mencoba membuat alasan atau menangkis kesalahan yang mereka perbuat. Bahasa permintaan maaf satu ini juga dianggap sebagai komitmen tulus untuk memperbaiki dan membangun kembali sebuah hubungan.

Requesting forgiveness

Meski terdengar klise, namun beberapa pasangan ingin mendengar pasangannya secara fisik meminta pengampunan atau meminta untuk dimaafkan. Bagi beberapa orang, meminta untuk dimaafkan bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini dilatarbelakangi karena mereka ingin sebuah jaminan bahwa pasangan mereka menyadari apa yang dilakukannya merupakan sesuatu hal yang memerlukan pengampunan.

Namun, bagi kamu yang memiliki apology language ini, perlu menggarisbawahi bahwa meminta untuk dimaafkan merupakan hal yang berbeda dari menuntut atau memaksa untuk dimaafkan. Saat kita menuntut untuk dimaafkan, hal ini akan menghilangkan esensi dari pengampunan itu sendiri. Sebab, masalah dimaafkan atau tidak merupakan keputusan yang dipegang oleh pihak lawan.

.Ilustrasi permintaan maaf/ Foto: Unsplash

Accepting responsibility

Yes, everybody makes mistakes but acknowledging it isn't as easy for some people. Bagi banyak orang, permintaan maaf jika tidak disertai dengan mengakui kesalahan atau adanya keinginan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, akan terasa tidak bermakna. Bagi mereka yang berbicara bahasa permintaan maaf ini, jika permintaan maaf tidak diiringi dengan pengakuan kesalahan maka permintaan maaf itu sama saja tak layak untuk didengar.

Make restitution

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa kesalahan itu harus dituntut dengan keadilan. Bagi yang memiliki apology language ini melihat bahwa siapapun yang merasa mereka bersalah, maka mereka harus melakukan sesuatu untuk benar-benar menunjukkan rasa bersalah mereka. Sehingga, tak peduli sebanyak atau sesering apapun kata maaf terlontarkan, jika tidak diiringi dengan usaha yang keras untuk memperbaiki sesuatu, permintaan maaf tidak akan dianggap tulus.

.Ilustrasi permintaan maaf/ Foto: Freepik

Planned change

Untuk orang yang berbicara bahasa permintaan maaf ini menganggap bahwa membawa perubahan merupakan faktor yang meyakinkan dalam meminta maaf. Jika permintaan maaf tidak diimbangi dengan keinginan mereka untuk mengubah perilakunya, maka permintaan maaf itu dapat diragukan. Perlu diingat bahwa orang lain tidak bisa membaca pikiran, sehingga meski kamu memang bertekad untuk berubah, hal tersebut tetap harus disampaikan secara verbal agar memberikan kepastian bagi pasanganmu.

Jika kamu memiliki apology language yang berbeda dari pasangan atau orang yang kamu sayang, bersiaplah untuk berkompromi. Sebab, berusaha untuk memahami dan bertekad dalam mempraktikkan apology language satu sama lain merupakan cara untuk membuat hubungan lebih baik, menebus kesalahan, memperbaiki kesakitan, dan pada akhirnya pulih dan tumbuh bersama.

Untuk mengetahui apology language-mu, kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuis di sini.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita