Interest | Wellness

Apa itu Hoarding Disorder?

Kamis, 30 Jun 2022 10:00 WIB
Apa itu Hoarding Disorder?
Jakarta -

Apakah kamu gemar menyimpan barang-barang yang tidak terpakai lagi karena terlalu sayang untuk dibuang sehingga hanya menjadi gunungan barang yang terletak di kamar? Jika kamu kesulitan untuk berpamitan dengan barang-barang yang tidak lagi digunakan, mungkin kamu mengidap kelainan hoarding disorder. Hoarding disorder merupakan gangguan kesehatan mental yang merujuk pada kesulitan seseorang untuk membuang barang-barang yang berharga maupun tidak berharga. Barang-barang yang ditimbun biasanya termasuk majalah, surat, barang-barang rumah tangga, pakaian, kardus, dan lainnya. Kondisi ini tentunya dapat mengganggu kualitas hidup dalam berbagai aspek.

Seseorang yang memiliki hoarding disorder biasanya merasa sangat menginginkan untuk menyimpan atau menyelamatkan harta benda yang orang lain anggap tidak berharga. Mereka percaya bahwa barang-barang yang ditimbun akan berguna atau berharga suatu saat nanti. Terkadang, muncul rasa aman jika mereka dikelilingi orang barang-barang tersebut.

.Ilustrasi hoarding disorder/ Foto: Freepik

Terdapat tiga jenis hoarding disorder yang harus kamu pahami.

Animal hoarding

Pengidap gangguan mental ini ditandai dengan mengumpulkan banyak hewan sebagai peliharaan, melebihi jumlah yang seharusnya bisa dirawat.

Compulsive shopping

Orang yang memiliki tendensi untuk belanja secara kompulsif biasanya tidak mementingkan banyak faktor mengapa mereka harus membeli sebuah barang dan cenderung membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Object hoarding

Jenis hoarding disorder yang satu ini merujuk pada orang yang menyimpan atau menimbun barang-barang tertentu seperti kertas, buku, pakaian, maupun sampah.

.Ilustrasi barang-barang bekas/ Foto: Freepik

Seiring waktu, orang yang memiliki gangguan ini bisa saja kehabisan ruang untuk menyimpan barang-barangnya sehingga menempatkannya secara berantakan di satu ruangan. Hal ini tentu akan mengganggu si hoarder serta anggota keluarga yang tinggal bersamanya. Orang dengan hoarding disorder sering kali merasakan stres yang ekstrem jika harus menyingkirkan atau membuang barang-barang timbunannya, karena adanya rasa tanggung jawab terhadap barang-barang tersebut. Dalam beberapa kasus, mereka juga merasa benda mati memiliki perasaan. Namun, ada juga yang sekadar merasa bahwa barang tersebut tampak tak tergantikan, unik, sempurna, ataupun merupakan pengingat yang penting terhadap sebuah tempat, waktu, dan peristiwa yang mengikutinya.

Saat ini, peneliti belum dapat menemukan penyebab utama di balik hoarding disorder. Namun, terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental ini seperti adanya riwayat keluarga yang melakukan hal serupa, cedera otak, dan peristiwa traumatis. Penyakit ini juga sering dikaitkan dengan kondisi lain seperti OCD, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, ADHD, dan depresi.

.Ilustrasi Hoarding Disorder/ Foto: Freepik

Pengidap hoarding disorder memiliki dampak buruk seperti membuat stres dan malu dalam kehidupan sosial, keluarga, maupun lingkup pekerjaan. Kondisi ini sulit ditangani karena banyak penderitanya tidak menyadari bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang bermasalah. Terlebih lagi jika para hoarder merasa tidak butuh pertolongan. Padahal, perilaku ini sesungguhnya teramat menyiksa bagi penderita karena adanya ketidakmampuan untuk memisahkan diri dari barang-barang tersebut. Sehingga, penderita hoarding disorder umumnya tidak akan pergi ke dokter untuk konsultasi dan melakukan diagnosa.

Penanganan untuk hoarding disorder bisa dilakukan dengan psikoterapi perilaku kognitif. Pada kasus tertentu, obat antidepresan juga dapat diberikan kepada hoarder untuk membantu mereka menangani kebiasaan buruk ini. Dengan penanganan tersebut, hoarder dapat mengurangi dorongan untuk menimbun serta meredakan stres yang dialaminya.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/HAL)

Author

Hani Indita