Insight | Science

Pemanfaatan Biofuel untuk Masa Depan

Kamis, 10 Mar 2022 18:00 WIB
Pemanfaatan Biofuel untuk Masa Depan
Jakarta -

Indonesia sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa mempunyai sumber energi melimpah yang meliputi sumber energi fosil maupun non-fosil. Namun, sampai saat ini, sebagian energi yang dihasilkan dan digunakan masih berasal dari fosil yaitu sebesar 95 persen. Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil yang jumlahnya terbatas dan semakin menipis tentunya dapat menyebabkan krisis energi di Indonesia. Energi fosil sendiri terdiri dari batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Untuk itu, peralihan penggunaan energi fosil menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan.

Tanpa adanya penemuan cadangan yang baru, minyak bumi di Indonesia akan habis dalam 9 tahun ke depan, lalu gas bumi akan habis 22 tahun lagi, dan batu bara akan habis dalam 65 tahun mendatang. Kalau dilihat, sebenarnya saat ini kondisi energi dalam negeri masih tergolong melimpah, khususnya untuk sektor batu bara dan gas bumi. Hanya saja, dengan adanya perubahan konsumsi tanpa eksplorasi, membuat Indonesia semakin dekat dengan krisis energi.

Sejak awal tahun 2000-an, produksi minyak di Indonesia terus menurun. Untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri, pemerintah Indonesia melakukan impor minyak. Oleh karena itu, pemerintah juga berupaya untuk mencari bahan bakar alternatif untuk mengurangi impor minyak. Biofuel atau bahan bakar nabati (BBN) menjadi salah satu fokus pemerintah untuk dikembangkan.

Biofuel Sebagai Sumber Energi Alternatif

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), biofuel atau bahan bakar nabati (BBN) adalah bahan bakar yang dihasilkan dari bahan baku terbarukan yang melalui proses atau teknologi tertentu. Bahan baku tersebut terdiri dari bahan organik tumbuhan ataupun hewan. Di Indonesia sendiri, sebagai penghasil minyak kelapa sawit di dunia, pemerintah mengandalkan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit untuk memproduksi biofuel. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia adalah negara terbesar yang menguasai pasar sawit dunia hingga 55 persen. Melihat angka yang besar ini, Indonesia tentunya memiliki potensi besar dalam mengembangkan biofuel dari komoditas kelapa sawit sebagai energi alternatif. Tentunya hal ini menjadi pro dan kontra, dengan tingginya produksi minyak kelapa sawit di Indonesia, alhasil membuat ekspansi lahan untuk perkebunan sawit pun terjadi, sehingga menyebabkan hutan di Indonesia berkurang signifikan demi memenuhi kebutuhan pembuatan biofuel.

Biofuel sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, yakni bioetanol, biodiesel, dan biogas. Bioetanol sendiri adalah alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti, gandum, tebu, jagung, singkong, ubi, buah-buahan, hingga limbah sayuran. Untuk mendapatkan alkohol, tumbuhan tersebut tentunya harus melewati proses fermentasi terlebih dahulu. Lalu biodiesel adalah bahan bakar yang terbuat dari minyak kedelai, minyak rapeseed (sejenis bunga), hingga minyak bunga matahari. Di Hawaii, biodiesel terbuat dari minyak goreng bekas, sementara di Jepang, biodieselnya terbuat dari minyak bekas dari restoran. Sedangkan biogas adalah bahan bakar yang berasal dari hasil fermentasi sampah tumbuhan atau kotoran baik itu kotoran manusia atau hewan. Saat difermentasi, sampah atau kotoran tersebut akan mengeluarkan gas. Biogas sendiri tentunya lebih bersih bila dibandingkan dengan batu bara.

Dikutip dari BP Statistical Review of World Energy, sepanjang tahun 2020 konsumsi biofuel di dunia mencapai 1,68 juta barel ekuivalen minyak per hari (bopd). Amerika Serikat menjadi negara dengan produksi biofuel terbesar di dunia, yaitu sebesar 602 ribu bopd. Brasil di peringkat kedua dengan produksi 395 ribu bopd. Sedangkan untuk Indonesia, berada di peringkat ketiga dengan produksi biofuel mencapai 126 ribu bopd. Jumlah produksi ini naik tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar 124 ribu bopd. Dengan adanya Program Mandatori B30, semua bahan bakar diesel di Indonesia diwajibkan setidaknya memiliki campuran 30 persen biodiesel dan 70 persen solar. Bahkan pada tahun 2022 ini, pemerintah juga berencana meningkatkan kadar biodiesel menjadi B40, yang terdiri dari campuran B30 sebanyak 40 persen bahan bakar nabati dan 10 persen kandungan D100 (bahan bakar hijau yang 100 persen berbasis dari tanaman). B40 nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Perkembangan biofuel di Indonesia sendiri dimulai dari tahun 2006 ketika pemerintah menerbitkan Kebijakan Energi Nasional yang menetapkan bahwa biofuel harus meliputi sekurangnya 5 persen dari bauran energi nasional pada tahun 2025. Pada tahun 2008, kebijakan biofuel Indonesia mengalami perkembangan besar lainnya saat Kementerian ESDM menetapkan kewajiban penggunaan biofuel di sektor transportasi, industri, komersial, dan pembangkit listrik, dengan target pencampuran biofuel selama periode 2008 sampai 2025.

Pemerintah Indonesia sendiri juga berkomitmen dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan usaha sendiri, dan 41 persen dengan dukungan internasional. Salah satu upaya Indonesia dalam mendorong transisi energi tentunya dengan pengembangan biofuel.

Pemanfaatan Biofuel Bagi Ekosistem Lingkungan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, biofuel dengan jenis biodiesel dari minyak kelapa sawit banyak digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Dalam hal jejak karbon langsung, hanya minyak sawit yang mampu mencatat penurunan emisi sebesar 50 persen dibandingkan dengan minyak solar.

Biofuel juga hanya menghasilkan seperempat dari jumlah karbondioksida yang dihasilkan minyak solar konvensional. Selain itu, kelapa sawit adalah tanaman penghasil biofuel paling produktif. Tanaman ini menghasilkan produktivitas tertinggi per luas lahan dan membutuhkan lebih sedikit pestisida serta pupuk daripada tanaman penghasil biofuel lain, seperti kedelai dan kanola. Hal ini menjadi faktor pendorong yang menjadikan kelapa sawit sebagai bahan baku paling ekonomis untuk memproduksi biofuelSiklus hidup pohon kelapa sawit yang mampu bertahan hingga 30 tahun juga menjadi faktor pendorong yang cukup besar. Biofuel jenis etanol juga menghasilkan karbondioksida 48 persen lebih sedikit dibandingkan dengan bensin konvensional. Hal ini tentunya menjadi pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Tidak hanya sebagai bahan bakar transportasi, biofuel juga dapat dimanfaatkan untuk semua kebutuhan energi manusia. Pemanfaatan tersebut meliputi sebagai pembangkit listrik, atau sebagai pemanas untuk dijadikan kompor atau peralatan memasak lainnya. Contoh nyata pemanfaatan biofuel sebagai pembangkit listrik di Indonesia sudah dilakukan oleh para warga di Desa Wae Rebo, sebuah desa tradisional di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Para warga di Desa Wae Rebo sudah dari lama menggunakan solar energy sebagai pembangkit listrik di desa mereka.

Sudah dapat dipastikan bahwa tentu saja biofuel merupakan alternatif energi baru yang ramah lingkungan dan aman untuk digunakan setiap hari karena menghasilkan emisi yang jauh lebih sedikit. Biofuel menawarkan kemungkinan memproduksi energi tanpa meningkatkan kadar karbondioksida di atmosfer karena berbagai tanaman yang digunakan untuk memproduksi biofuel. Penggunaan biofuel juga mengurangi ketergantungan manusia terhadap sumber energi fosil. Dibandingkan dengan sumber energi fosil, selama tahun 2020 biodiesel berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 22,46 juta ton dan berkontribusi besar dalam peningkatan kualitas lingkungan.

Tidak seperti sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui, biofuel dapat terus-menerus diproduksi dengan hanya kita menanam lebih banyak tanaman untuk menjadi sumber energi. Pada masa yang akan datang, mungkin tidak ada lagi sumber energi fosil, dan kita akan bergantung kepada biofuel sebagai sumber energi baru yang aman dan terbarukan.

[Gambas:Audio CXO]



(PUA/HAL)