Inspire | Human Stories

Menjadi Dewasa adalah Perkara Serius yang Melibatkan Sedikit Tawa

Senin, 25 Jul 2022 14:00 WIB
Menjadi Dewasa adalah Perkara Serius yang Melibatkan Sedikit Tawa
Foto: Pexels/Andrea Piacquadio
Jakarta -

Jauh sebelum mampu memahami segala sesuatu dan berkata-kata, bayi manusia cuma punya tangis air mata dan tawa untuk berkomunikasi. Jika lapar; maka menangislah dia. Jika nyaman; si bayi lantas tersenyum juga tertawa. Apabila disadari lebih lanjut, ternyata dua hal barusan menjadi ekspresi natural yang mengiringi manusia hingga fase dewasa. Hanya saja, intensitas tawa   atau bahkan tangisan   terus berkurang seiring umur yang bertambah.

Tawa dan tangis berganti ekspresi lain yang lebih ambigu. Kasarnya: lebih sulit dibaca, demi menimbulkan citra atau persona tertentu. Misalnya, tangguh dan serius. Padahal di masa kecil, perkara mengompol saja mampu menciptakan tangis yang hebat. Tidak jauh berbeda, sedikit hal konyol di depan mata, pernah membuat tawa anak manusia pecah tak karuan meski sebatas candaan "cilukba" bersama ibu atau bapak.

Inilah yang dimaksud dengan tawa yang mengiringi pendewasaan; di mana setiap anak manusia yang tadinya cenderung mudah tertawa akan hal-hal kecil   lepas mengekek dengan bebas tanpa peduli teknik-teknik humor, ketersinggungan, bahkan anggapan citra diri yang kurang elegan   berangsur menghilang seiring preferensi komedi dan sifat sok dewasa manusia yang bertambah di dalam diri.

Berdasarkan survei atas 1,4 juta sampel dari 166 negara, Gallup menggambarkan bahwa selera dan respon humor manusia menyerupai tebing. Grafiknya akan terus menanjak hingga fase dewasa awal, dan konstan mengalami penurunan pada usia tertentu, yakni sekitar umur 23 tahun. Data tersebut dirangkum Naomi Bagdonas dan Jennifer Aaker pada mereka: Humor, Seriously, yang menguraikan perkara siklus tawa manusia yang terus menurun seiring perkembangan usia, padahal praktiknya amat dibutuhkan   baik secara pribadi maupun pada karir profesional mereka.

.The Humor Cliff/ Foto: NYPOST/Mike Gullen

Ironisnya, selera atau respon humor manusia akan kembali meningkat pada usia dini; ketika manusia lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disayang, dan mulai meninggalkan citra profesionalitas yang dibangun semenjak bertumbuh dewasa..


Menjadi Dewasa dan Mulai Ogah Tertawa
Tebing humor yang dimaksud oleh Aaker dan Bagdonas beranjak dari kebiasaan tertawa anak-anak dan orang dewasa yang jauh berbeda intensitasnya. Sewaktu balita, manusia bisa tertawa hingga 300 kali per hari. Sementara ketika menuju usia 40 tahunan, seseorang membutuhkan waktu sekitar 2 bulan lamanya untuk tertawa dengan intensitas hebat.

Jika dicermati lebih lanjut, amatan sederhana barusan memang mungkin benar terjadi. Salah satu alasan kuatnya adalah mentalitas pekerja. Sebab, ketika manusia mulai masuk ke dunia kerja, karakter remaja yang bebas dan lepas akan segera berganti dengan kostum profesional sok serius; yang meliputi rangkaian perilaku formal membosankan   yang dianggap menunjang karir atau persona profesionalitasnya. Ada pula sikap orang dewasa yang   saya anggap   munafik, di mana tampil misterius dan seelegan mungkin dianggap lebih bijak daripada easy going yang penuh kerecehan tawa dan seyuman.

Dalam Humor, Seriously, Aaker dan Bagdonas menguraikan beberapa alasannya. Pertama, adalah anggapan bahwa humor "tidak memiliki tempat di tengah pekerjaan yang serius". Kedua, adalah ketakutan dianggap jayus saat melontarkan humor atau menertawakan sesuatu yang tidak sesuai selera umum.

Dua alasan barusan, sekaligus mendasari dua alasan berikutnya; di mana kebanyakan orang merasa, jika memiliki selera humor yang baik berarti mereka wajib menjadi lucu setiap saat. Sedangkan, alasan terakhir mengapa siklus humor manusia terus menurun saat dewasa. adalah kesalahpahaman seputar humor yang dianggap sebagai bawaan lahir yang tidak dimiliki semua orang.

Secara langsung atau tidak, alasan-alasan di atas terus melatarbelakangi keogahan tertawa, juga mereduksi respons humor manusia pada usia dewasa. Meskipun sebenarnya, kebutuhan manusia atas humor itu sendiri justru berkebalikan dengan sikap yang diterapkan. Maksudnya, humor malah membantu manusia tampil lebih autentik dan manusiawi, juga tidak mengalangi sikap penuh keseriusan dalam lingkup profesional. Humor juga meningkatkan kreativitas dengan membantu kita melihat hubungan "yang sebelumnya kita lewatkan, dan membuat kita merasa cukup aman secara psikologis untuk membagikan ide-ide kita yang berisiko atau tidak konvensional."

Terlepas dari itu semua, mempertahankan atau menjaga selera humor, bukan berarti kita wajib menjadi pelawak yang melucu setiap saat. Hal ini justru lebih berfungsi sebagai pencair keadaan dan batasan-batasan antarmanusia yang berguna untuk memperluas pertemanan atau koneksi antarsesama; di mana humor mampu mengatasi stres, menciptakan peluang kolaborasi antarmanusia, serta membuat pekerja lebih disukai orang banyak   termasuk atasan, sekaligus mendapuk pelakunya sebagai orang yang kompeten dan punya kredibilitas dalam menuntaskan suatu pekerjaan.

Sampai di sini, agaknya kita bisa menjadi lebih sadar, bahwa kepekaan atas humor merupakan sikap fundamental yang dapat berpengaruh postifi bagi diri sendiri atau sekitar, baik pada sektor pribadi maupun profesional. Dalam Humor, Seriously, Aaker turut membubuhkan kisah penutup singkat yang bijak. "Ibuku bekerja di rumah sakit," kata Aaker. "Apa yang sering dikatakan orang pada hari-hari terakhir kehidupan mereka adalah, 'Saya berharap saya tidak menjalani hidup dengan terlampau serius."

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/MEL)