Inspire | Human Stories

Mengapa Kita Suka Melihat Orang Lain Menderita?

Kamis, 21 Jul 2022 10:00 WIB
Mengapa Kita Suka Melihat Orang Lain Menderita?
Ilustrasi senang melihat orang lain terluka Foto: Pexels
Jakarta -

Dulu, saya bersama dengan keluarga suka menonton acara televisi berisi video amatiran yang merekam kemalangan orang lain-seperti ketika seseorang terpeleset atau jatuh dari sepeda. Video tersebut dikemas secara jenaka, dan memang kami selalu berhasil dibuat tertawa karenanya. Padahal, orang-orang di video tersebut mungkin saja mengalami luka-luka setelah mengalami kejadian yang kita anggap "jenaka". Dalam kejadian sehari-hari pun, kita bisa saja dibuat tertawa ketika melihat teman baik kita jatuh. Atau yang lebih ekstrem, merasa puas ketika membuat adik kecil kita menangis. Perilaku yang menertawakan penderitaan orang lain ini dapat dikatakan sebagai everyday sadism.

Selama ini, kita mengenal sadisme sebagai perilaku kejam yang dimiliki oleh para kriminal seperti pembunuh berantai atau pelaku penganiayaan. Sadisme sendiri merupakan kebalikan dari empati. Apabila empati mendorong kita untuk menolong seseorang yang menderita, sadisme justru mendorong kita untuk merasa puas ketika melihat orang lain menderita.Tapi, sadisme memiliki spektrum yang luas, dari yang moderat hingga yang ekstrem. Everyday sadism sendiri merupakan sadisme yang bersifat moderat.

.Ilustrasi orang terluka/ Foto: Pexels

Orang-orang yang menunjukkan perilaku everyday sadism mendapat kepuasan dari penderitaan orang lain baik itu penderitaan fisik maupun psikologis. Bentuknya pun bermacam-macam, dari yang sederhana seperti senang ketika melihat ada perkelahian atau senang ketika ada kolega yang dimarahi oleh atasan. Selain puas ketika melihat orang lain menderita, mereka juga bisa terdorong untuk menimbulkan penderitaan untuk orang lain. Misalnya, dengan mem-bully seseorang atau menjadi internet troll.

Lantas, apakah dengan memiliki perilaku everyday sadism membuat kita menjadi psikopat? Dalam ilmu psikologi, kita mengenal ada tiga dark factors of personality atau sisi gelap kepribadian. Ketiganya yaitu psychopathy yang ditandai dengan absennya empati dan rasa bersalah, Machiavellianism yaitu tendensi untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama, serta perilaku narsistik yaitu perasaan cinta ekstrem kepada diri sendiri. Everyday sadism berbeda dari ketiga perilaku ini, namun seseorang yang menunjukkan everyday sadism bisa saja juga memiliki ciri-ciri psikopat, machiavellianism atau narsistik. Sehingga bisa dikatakan, seseorang yang menunjukkan everyday sadism belum tentu bisa dikategorikan sebagai psikopat.

.Ilustrasi everyday sadism/ Foto: Pexels

Meski umumnya setiap orang dipercayai memiliki empati, tapi penelitian di bidang ini menemukan bahwa everyday sadism merupakan fenomena yang cukup umum. Tapi, apa yang menyebabkan kita merasa puas ketika melihat orang lain menderita? Menurut penelitian yang dilakukan oleh Victor Nell, tendensi manusia untuk menyakiti sesama sudah ada sejak ribuan tahun dan berkaitan dengan predatory instinct yang menjamin survival. Nenek moyang kita menyakiti sesama untuk mendapatkan sense of security, seperti untuk mendapatkan makanan atau untuk memberikan peringatan kepada musuh atau kompetitor. Di masa kini pun, hal ini masih berlaku. Misalnya, banyak orang bergabung dengan geng kriminal untuk menjamin survival mereka dan akhirnya terbiasa dengan kekerasan.

Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa tendensi untuk membuat orang lain menderita terkait dengan kadar serotonin dalam tubuh. Serotonin berfungsi sebagai neurotransmitter yaitu pengantar sinyal antar jaringan saraf. Hormon ini berperan dalam mempengaruhi suasana hati. Serotonin, ternyata, berpengaruh juga terhadap moral judgment. Semakin rendah kadar serotonin dalam tubuh maka akan semakin besar juga kemungkinannya kita melihat penderitaan orang lain sebagai hal yang wajar.

.Ilustrasi senang melihat orang kalah/ Foto: Pexels

Apa pun bentuknya, sadisme memiliki konsekuensi. Meski sadisme bisa bermula dari sesuatu yang sederhana, tapi perilaku tersebut bisa tereskalasi menjadi kekerasan ekstrem yang melukai orang lain. Dengan memahami lebih jauh mengenai sadisme, kita bisa mencari tahu cara untuk mencegahnya. Mengakui bahwa tendensi berperilaku sadis bisa dimiliki oleh setiap orang, adalah langkah pertama yang bisa mengatasi masalah tersebut.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/HAL)