Inspire | Human Stories

Mengenal Kembali RA Kartini

Kamis, 21 Apr 2022 12:00 WIB
Mengenal Kembali RA Kartini
Foto: Dok. Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen via Wikimedia Commons
Jakarta -

Tak ada masyarakat Indonesia yang tidak mengenal nama Kartini. Kontribusinya dalam menyuarakan hak-hak perempuan di era kolonial telah membuatnya sebagai pahlawan nasional. Memang, kita tidak bisa membicarakan isu perempuan tanpa teringat dengan sosok Kartini. Lewatnya, kata "emansipasi" menemukan makna yang sesungguhnya, yaitu untuk menjadi manusia yang merdeka. Kartini bukan hanya seorang pejuang isu perempuan, ia juga adalah seorang pemikir sosial yang progresif dan peduli dengan kondisi masyarakat pada saat itu.

Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Lahir di keluarga bangsawan, Kartini memiliki privilese untuk mengenyam pendidikan seperti saudara laki-lakinya. Keresahan Kartini terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan ia tuangkan melalui surat-surat kepada teman-temannya, yaitu Marie Ovink-Soer, Estella Zeehandelaar, dan juga Rosa Abendanon. Kompilasi surat-surat Kartini kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sebagai seorang perempuan Jawa berdarah ningrat, ia merasakan bagaimana hak-hak perempuan dipangkas dan tak diperlakukan sebagai manusia yang sederajat dengan laki-laki.

Tak hanya isu perempuan, isu sosial lain seperti agama dan rasisme di masa kolonial, juga ia tuangkan ke dalam surat-suratnya. Membaca tulisan Kartini seperti melihat ke dalam apa yang ada di pikirannya. Tulisan Kartini mencerminkan sosok perempuan yang berani, peka, dan tak takut untuk bermimpi. Dengan kegigihan hatinya, Kartini melawan zaman. Meski Kartini telah tiada, tapi tulisannya abadi. Bahkan, beberapa tulisannya pun masih sangat relevan dalam membaca kondisi hari ini. Untuk mengenal Kartini lebih jauh, kami merangkum beberapa kutipan dari surat-suratnya!

"Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya."
Pada masa itu, peran sosial perempuan dibatasi dalam ruang domestik. Hanya ada satu pilihan bagi perempuan, yaitu menjadi istri dan ibu yang membina rumah tangga. Bagi perempuan pada saat itu, untuk memiliki cita-cita yang tinggi adalah sebuah kemewahan. Namun bagi Kartini, identitas perempuan seharusnya tidak menjadi batasan yang menghalangi mereka untuk bercita-cita tinggi dan menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Kita tetap bisa menjadi perempuan dan tetap memiliki cita-cita untuk menjadi apapun yang kita inginkan.

"Pada masa saya masih kanak-kanak ketika kata 'emansipasi' belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan, yang makin lama, makin besar; keinginan akan merdeka, berdiri sendiri."
Melalui kutipan ini, Kartini menceritakan bagaimana sejak kecil ia sudah memiliki keinginan untuk menjadi individu yang mandiri dan merdeka. Meski ketika itu, ia sendiri belum familiar dengan kata "emansipasi". Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya makna dari emansipasi sangat esensial dan dekat dengan keseharian; yakni untuk bisa menjadi manusia yang bisa berdiri pada kedua kakinya sendiri dan bisa membuat keputusan sendiri. Sebab emansipasi, adalah hak dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang.

"Karena bila taraf hidup kesenian suatu bangsa tinggi, maka budi bangsa itu sendiri adalah suatu puisi."
Kartini memang adalah seorang penulis ulung. Ia tak hanya cerdas, tapi juga puitis. Lewat bahasa, Kartini mampu menggerakan hati para pembacanya, seperti pada kutipan di atas. Kartini menuliskan bahwa sebuah bangsa yang menjunjung tinggi kesenian sesungguhnya adalah bangsa yang berbudi luhur. Kartini pun merupakan seorang pendukung dari kesenian rakyat. Pada saat itu, kesenian bukan hanya merupakan bentuk hiburan bagi masyarakat kelas atas. Kesenian, bisa juga menjadi alat perlawanan masyarakat.

"Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!"
Meski emansipasi perempuan menjadi tema sentral dalam tulisan Kartini, tapi ada banyak permasalahan sosial lain yang juga diangkat oleh dirinya. Salah satunya, Kartini banyak membicarakan soal agama. Kartini tumbuh di keluarga yang memegang nilai-nilai agama Islam yang kuat. Namun, Kartini mengkritik bagaimana masyarakat yang agamis ini justru melanggengkan berbagai ketidakadilan terhadap sesamanya. Hingga sekarang pun, kutipan dari Kartini ini masih sangat relevan.

"Hormati segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya."
Kutipan ini sederhana, namun menyimpan pesan yang amat mendalam dan patut diingat oleh siapa saja. Memang, manusia terkadang lupa untuk memanusiakan satu sama lain. Bagi Kartini, sikap mementingkan diri sendiri adalah salah satu kejahatan yang amat tidak disukainya. Padahal, sikap compassionate kepada sesama adalah salah satu fondasi yang bisa menghapuskan ketidakadilan. Dengan menghormati sesama manusia dan tidak mendiskriminasi satu sama lain, kesetaraan akan lebih mudah dicapai. Selain itu, kutipan ini bisa menjadi pengingat bagi kita untuk menghormati segala bentuk kehidupan, termasuk lingkungan hidup dan organisme yang ada di dalamnya.

Lewat Kartini, kita bisa belajar banyak hal. Bagi saya, Kartini tidak kurang dari seorang revolusioner yang tidak lelah dalam memperjuangkan dunia yang lebih baik. Tak ada yang lebih bisa membuat kita mengenal Kartini lebih jauh dibandingkan tulisan-tulisannya. Di Hari Kartini ini, mari kita memperingatinya dengan mengingat kembali apa sesungguhnya yang diperjuangkan oleh Kartini.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/MEL)