Insight | General Knowledge

Apa itu Ageism?

Rabu, 06 Jul 2022 12:00 WIB
Apa itu Ageism?
Jakarta -

Pernahkah kamu memberi ide di tempat kerja, tapi idemu ditolak mentah-mentah karena umurmu yang paling muda di sana? Atau pernahkah kamu melamar pekerjaan, tapi ditolak karena umurmu dianggap terlalu tua untuk posisi yang kamu inginkan? Meski terlihat sederhana, tapi ini adalah bentuk-bentuk diskriminasi berdasarkan usia atau yang juga disebut sebagai ageism.

Selama ini, mungkin kita lebih familiar dengan istilah rasisme atau seksisme. Tapi, ternyata di luar ras dan gender, umur juga bisa dijadikan basis untuk memiliki prasangka terhadap seseorang. Istilah ageism pertama digagas oleh Robert Neil Butler pada tahun 1969. Robert adalah seorang psikiater asal Amerika Serikat, ia pertama kali menggunakan istilah ageism dalam sebuah wawancara di The Washington Post. Dalam wawancara tersebut, ia mengomentari proyek perumahan umum bagi lansia di Maryland. Menurut Robert, kebijakan tersebut bersifat diskriminatif terhadap lansia karena bertujuan untuk menempatkan lansia di satu tempat dan mengeksklusikan mereka dari tempat publik.

.Ilustrasi diskriminasi umur/ Foto: Pexels

Lansia memang kerap menjadi target dari ageism. Seseorang yang sudah memasuki usia senja lebih sering dianggap sebagai individu yang tidak lagi produktif, dan menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi karena tak lagi bisa berkontribusi. Penggambaran lansia di media juga tak kalah bermasalah. Baik di berita maupun cerita fiksi, lansia kerap digambarkan sebagai kelompok yang renta, tak berdaya, dan harus dikasihani. Penggambaran ini memberi pesan seakan-akan kehidupan seseorang telah selesai begitu ia memasuki usia lansia. Berbagai pintu akan tertutup, tak ada waktu lagi bagi lansia untuk belajar hal baru atau melakukan hal-hal yang mereka sukai.

Selain lansia, anak muda juga kerap menjadi target dari diskriminasi usia ini. Hal ini dialami oleh banyak pekerja muda. Prasangka negatif terhadap generasi yang lebih muda adalah bagian dari siklus generasional yang sudah ada sejak ribuan tahun lamanya. Namun menurut Michael North, asisten profesor manajemen di New York University, pekerja milenial dan Gen Z mengalami diskriminasi umur yang lebih buruk dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Pasalnya, mereka dianggap sebagai generasi yang manja, malas, tidak punya rasa hormat, dan radikal.

.Ilustrasi ageism/ Foto: Pexels

Ageism bisa hadir dalam berbagai bentuk, tetapi secara umum ada tiga kategori di mana diskriminasi ini bisa terjadi. Pertama yaitu institutional ageism, di mana diskriminasi dilakukan melalui kebijakan sebuah institusi. Kedua yaitu interpersonal ageism, diskriminasi yang terjadi dalam interaksi sosial. Ketiga yaitu internalized ageism, di mana kita sendiri secara tidak sadar mempercayai dan mempraktikkan ageism kepada orang lain dan juga diri kita sendiri.

Seperti halnya ras dan gender adalah konstruksi sosial, begitu juga dengan usia. Masyarakatlah yang memberi batasan terhadap usia seseorang; kapan mereka bisa diperlakukan dengan hormat, kapan mereka bisa diberi kesempatan untuk belajar, dan kapan mereka harus diikutsertakan dalam kehidupan publik. Padahal, manusia, berapapun umurnya, berhak untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik tanpa harus mengalami diskriminasi.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)