Insight | General Knowledge

Perkenalan Dengan: Zoroastrianisme

Sabtu, 02 Jul 2022 12:00 WIB
Perkenalan Dengan: Zoroastrianisme
Jakarta -

Dalam film Bohemian Rhapsody, Freddie Mercury mengamini sebuah ajaran yang diturunkan oleh ayahnya yaitu "good thoughts, good words, good deeds". Ajaran ini adalah bagian dari kepercayaan Zoroastrianisme, agama yang dianut oleh keluarga Freddie Mercury yang merupakan keturunan Parsi-India. Agama ini turut mempengaruhi Freddie Mercury baik sebagai individu maupun sebagai musisi. Namun, apa itu sebenarnya Zoroastrianisme?

Dunia modern mengenal tiga agama monoteisme: Yahudi, Kristen, dan Islam. Tetapi lama sebelum ketiga agama ini berkembang, ada agama yang jauh lebih tua yaitu Zoroastrianisme. Zoroastrianisme merupakan agama monoteistik tertua di dunia, dan pengaruhnya banyak ditemukan di agama samawi yang kita kenal hari ini. Bahkan, agama kuno yang berkembang di Timur Tengah ini memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan agama di dunia Barat.

.Kuil Zoroastrian/ Foto: Wikimedia Commons

Zoroastrianisme pertama kali muncul di Persia    atau yang sekarang dikenal sebagai Iran   4000 tahun yang lalu. Agama ini ditemukan dan disebarkan oleh seorang nabi bernama Zoroaster, atau yang dalam bahasa Persia kuno disebut Zarathustra. Tak ada yang mengetahui kapan tahun persisnya Zarathustra hidup dan menyebarkan ajaran tersebut. Sebelum kemunculan Zarathustra, orang-orang Persia kuno menyembah dewa-dewa agama Iran-Arya kuno, percabangan dari agama Indo-Arya yang hari ini dikenal sebagai Hinduisme.

Namun, Zarathustra mengecam praktik politeisme tersebut dan mengatakan bahwa hanya ada 1 Tuhan yang seharusnya disembah. Penganut Zoroastrianisme menyembah Tuhan yang disebut sebagai Ahura Mazda atau "Tuhan Kebijaksanaan". Konon, Zarathustra menerima wahyu dari Ahura Mazda yang memperlihatkan kepadanya kebenaran spiritual. Melalui wahyu ini, Zarathustra akhirnya meyakini kalau di alam semesta ini hanya ada 1 Tuhan dan ajarannya merupakan kebenaran.

Semua ajaran Zoroastrianisme dirangkum dalam sebuah kitab bernama Avesta yang ditulis dengan menggunakan bahasa Iran kuno. Di dalamnya ada pewahyuan mengenai asal usul alam semesta, hukum, liturgi, dan ajaran Zoroastrianisme. Kepercayaan kepada satu Tuhan bukan satu-satunya warisan Zoroastrianisme kepada agama samawi. Hampir semua ajaran inti dalam agama samawi memiliki kemiripan dengan ajaran Zoroastrianisme. Di antaranya yaitu konsep akan adanya surga dan neraka, konsep akan hari kiamat, konsep dualistik good versus evil, dan juga kepercayaan akan adanya iblis dan malaikat.

.Good versus Evil/ Foto: The British Museum

Mirip seperti kepercayaan dalam agama Kristen, dalam Zoroastrianisme dikenal juga sosok Holy Spirit yang disebut Spenta Mainyu. Musuh dari Spenta Mainyu adalah Angra Mainyu yaitu roh pengrusak atau roh jahat. Dalam agama ini, manusia dipercayai memiliki kehendak bebas sehingga bisa memilih untuk berpihak pada kejahatan atau kebaikan. Untuk berpihak pada kebaikan, manusia harus berpegangan pada esensi Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik.

Zoroastrianisme pun menjadi agama dominan di Persia selama lebih dari seribu tahun. Namun di abad ke 7, pengaruh Islam mulai masuk ke Persia dan para penganut Zoroastrianisme banyak yang dipersekusi. Hal ini memaksa banyak dari penganut Zoroastrianisme untuk pergi meninggalkan Persia. Sebagian besar dari mereka pun mengungsi ke Gujarat di India, dan kemudian dikenal sebagai orang Parsi. Sementara itu, di Indonesia mereka dikenal sebagai penganut agama Majusi.

.Nabi Zoroastrian/ Foto: Flickr

Konsep-konsep dalam Zoroastrianisme juga banyak menjadi inspirasi untuk berbagai karya literasi. Penulis Game of Thrones, George R. R. Martin, mengungkap bahwa ia banyak mengambil inspirasi dari Zoroastrianisme. Hal ini terlihat dalam legenda Azor Ahai dan sosok Lord of Light yang menjadi elemen krusial dalam Game of Thrones. Selain itu, filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pun juga memberi penghormatan kepada nabi Zoroastrian melalui bukunya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra.

Hari ini, penganut Zoroastrianisme di seluruh dunia diperkirakan hanya mencapai 200.000 orang. Agama monoteisme tertua di dunia ini sekarang telah menjadi agama minoritas. Meski demikian, pengaruhnya masih bisa kita rasakan hingga hari ini.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)