Interest | Art & Culture

Sejarah dalam Semangkuk Soto

Jumat, 22 Apr 2022 16:00 WIB
Sejarah dalam Semangkuk Soto
Jakarta -

Soto Ayam masuk ke dalam daftar sup terenak di dunia versi CNN. Soto memang telah dinobatkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai makanan nasional bersama empat kuliner lainnya yaitu Rendang, Nasi Goreng, Sate, dan Gado-gado. Keabsahan soto sebagai kuliner nusantara memang sudah tidak diragukan lagi, sebab hidangan ini digemari oleh semua kalangan. Meski biasanya sajian berkuah yang hangat lebih diminati di udara dingin, nyatanya negara tropis seperti Indonesia justru memiliki beragam varian soto yang lezat nan menyegarkan. Hampir semua daerah di Indonesia   dari barat sampai timur   memiliki hidangan soto khasnya masing-masing.

Beberapa variasi soto yang ada di Indonesia antara lain adalah Soto Padang, Soto Betawi, Soto Banjar, dan Coto Makassar. Baik cuaca sedang dingin atau sedang panas, semangkuk soto yang hangat akan menjadi santapan lezat yang bisa dinikmati dalam segala kondisi. Namun, di balik keberagaman variasi soto di Indonesia, ada cerita mengenai hibriditas budaya dalam sejarah nusantara. Bagaimana sebenarnya asal mula Soto, dan mengapa setiap daerah bisa memiliki variasi soto masing-masing?

.Soto ayam/ Foto: Freepik

Meski soto dipercayai sebagai makanan khas Indonesia, tapi kemunculan awal hidangan ini bukan berasal dari budaya nusantara. Menurut penelitian dari antropolog Ary Budiyanto dan Intan Kusuma Wardhani (2013), kemunculan soto sebenarnya berasal dari makanan Tiongkok. Dalam bahasa Hokkian, orang Tiongkok mengenal istilah cau do, jao to, atau chau tu, yang artinya jeroan dengan rempah-rempah. Di sini, jeroan babi direbus bersama rempah-rempah untuk menghasilkan kaldu yang kaya akan rasa. Di Nusantara, soto muncul pada abad-19 di Semarang. Kemunculan ini tak bisa dilepaskan dari banyaknya pemukiman warga Tiongkok atau pecinan di era kolonial.

Seiring dengan berkembangnya waktu, soto banyak beradaptasi dengan budaya lokal. Alih-alih menggunakan jeroan babi, masyarakat Nusantara yang mayoritas beragama muslim membuat kaldu dari jeroan sapi dan ayam. Bahan dasar jeroan dipilih karena harganya yang murah. Sehingga pada saat itu, soto identik dengan makanan kelas bawah. Soto pun tidak dijual melalui gerai atau warung, melainkan menggunakan bakul yang dipikul. Popularitas soto pun melebar hingga ke berbagai daerah, dan masing-masing daerah menyesuaikan hidangan ini sesuai dengan bahan dasar yang tersedia dan serta cita rasa yang digemari penduduknya.

.Soto Betawi/ Foto: Freepik

Sejarah soto menunjukkan bahwa kuliner Nusantara tak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya lain yang akhirnya bercampur dengan kearifan lokal. Maka dari itu, varian soto ada bermacam-macam sesuai dengan ciri khas daerahnya. Hingga hari ini, setidaknya ada 20 macam soto yang bisa ditemukan di Indonesia:

  • Soto Medan
  • Soto Padang
  • Soto Betawi
  • Soto Bogor
  • Soto Bandung
  • Soto Cirebon
  • Soto Semarang
  • Soto Pekalongan
  • Soto Tegal
  • Soto Brebes
  • Soto Kudus
  • Soto Solo
  • Soto Tasikmalaya
  • Soto Banjar dari Banjarnegara
  • Soto Banjar dari Kalimantan
  • Soto Klaten
  • Soto Lamongan
  • Soto Sokaraja
  • Soto Madura
  • Coto Makassar

Namun, tak menutup kemungkinan juga ada jenis soto-soto lain yang belum kita ketahui. Dari seluruh macam soto ini, mana yang menjadi favorit kalian?

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)