Inspire | Human Stories

Srikandi, Sosok Transgender yang Kini jadi Simbol Perempuan Kuat

Kamis, 01 Sep 2022 16:30 WIB
Srikandi, Sosok Transgender yang Kini jadi Simbol Perempuan Kuat
Foto: CXO Media
Jakarta -

Kalau dalam semesta pahlawan super Barat kita mengenal Wonder Woman, maka di Indonesia kita mengenal Srikandi sebagai karakter perempuan "super" yang mampu menghadapi segala rintangan. Srikandi yang diadaptasi dari cerita Mahabharata ini telah menjadi ikon feminisme dan simbol dari sosok perempuan kuat. Sosok yang terkenal dengan kemampuan memanahnya ini bahkan menginspirasi julukan "3 Srikandi" untuk 3 atlet panahan Indonesia yaitu Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani.

Tapi, siapakah sebenarnya Srikandi dan bagaimana kisahnya? Srikandi adalah sosok pejuang dalam epos kuno Mahabharata, ia berperan penting dalam kematian Bisma. Mahabharata adalah kitab yang ditulis 500 tahun SM oleh Kresna Dwaipayana Byasa. Naskah yang disebut sebagai puisi terpanjang di dunia ini bercerita tentang konflik antara Pandawa dan Kurawa yang memperebutkan tahta Hastinapura.

Namun kisah Srikandi memiliki dua versi, yaitu versi kitab Mahabharata dari India dan versi pewayangan Jawa. Dari kedua versi ini, ada perbedaan yang mencolok yaitu mengenai identitas gender dari Srikandi. Dalam versi India, Srikandi atau Shikhandi adalah sosok transgender-ia adalah perempuan yang kemudian bertransisi menjadi laki-laki. Sedangkan dalam versi pewayangan Jawa, Srikandi dilahirkan sebagai perempuan namun digambarkan memiliki sifat-sifat maskulin.

.Shikandhi versi India/ Foto: Twitter

Versi India

Dalam versi India, Srikandi adalah reinkarnasi dari Amba, putri sulung dari Raja Kasi. Suatu hari, Bisma yang merupakan pangeran Hastinapura membawa Amba untuk dinikahkan dengan adiknya yaitu Wicitrawirya. Namun, Amba menolak untuk menikah dengan Wicitrawirya karena sudah memilih Raja Salwa sebagai calon suaminya.

Bisma pun kemudian memperbolehkan Amba untuk bisa menikah dengan Raja Salwa. Tak disangka, Raja Salwa justru menolak menikah dengan Amba karena merasa harga dirinya sudah terlanjur diinjak-injak oleh Bisma yang "mencuri" Amba darinya. Amba pun kehabisan pilihan karena sekarang tak ada yang mau menikahi dirinya.

Akhirnya, Amba berdoa kepada Dewi Siwa agar dia bisa membunuh Bisma. Sebab bagi Amba, Bisma merupakan penyebab dari semua hal buruk yang terjadi pada dirinya. Dewi Siwa pun membalas doanya dengan mengatakan bahwa Amba bisa menjadi orang yang menyebabkan kematian Bisma, namun di kehidupan selanjutnya.

Amba pun mengakhiri hidupnya dan terlahir kembali sebagai Srikandi, anak dari Raja Drupada. Meski dilahirkan sebagai perempuan, namun Srikandi dibesarkan oleh Drupada sebagai laki-laki. Hal ini dikarenakan, Dewi Siwa memberitahu Drupada bahwa suatu saat Srikandi akan menjadi laki-laki.

Gender Srikandi berperan penting dalam kematian Bisma. Diceritakan, Bisma yang saat itu berada di kubu Kurawa tidak akan pernah mau bertarung dengan perempuan. Maka kubu Pandawa menyerang Bisma dengan bantuan Srikandi. Melihat Srikandi, Bisma menurunkan senjatanya. Dalam kesempatan itu, Srikandi yang dibantu oleh Arjuna, melepaskan panah yang akhirnya membunuh Bisma.

.Srikandi versi Jawa/ Foto: Indonesia Kaya

Versi Pewayangan Jawa

Hampir sama seperti versi India, Srikandi dalam versi Pewayangan Jawa merupakan anak dari raja Drupada. Sejak kecil, Srikandi memang gemar dan ahli dalam seni militer dan mahir dalam menggunakan panah. Kemahiran Srikandi dalam memanah semakin meningkat setelah ia meminta Arjuna untuk mendidiknya.

Srikandi pun akhirnya menikah dengan Arjuna. Dalam perang Bharatayudha, Srikandi menjadi panglima perang di kubu Pandawa. Di perang ini, Srikandi berhasil membunuh Bisma dengan menggunakan panahnya. Namun Srikandi akhirnya tewas terbunuh oleh Aswatama, prajurit andalan Kurawa. Sejak saat itu, Srikandi menjadi sosok pahlawan perempuan yang terkenal karena keberanian dan keahliannya di bidang militer    sesuatu yang didominasi laki-laki.

Perbedaan antara Srikandi versi India dengan versi Jawa salah satunya disebabkan oleh perkembangan agama di Nusantara. Mahabharata sangat bertumpu pada ajaran-ajaran agama Hindu, yang juga berkembang di tanah Jawa. Dewa-Dewi dalam agama Hindu sendiri dikenal sebagai entitas yang non-biner, sehingga sosok transeksual adalah sesuatu yang lazim ditemui dalam mitologi Hindu.

Meski Hindu juga berkembang di Nusantara, tapi Hindu Jawa berbeda dengan Hindu India. Terlebih lagi, agama di nusantara mengalami perkembangan seiring dengan masuknya Islam. Maka tak heran, terjadi perbedaan versi antara Srikandi dalam Mahabharata yang ditulis di India dengan pewayangan Jawa. Namun walaupun ada perbedaan versi, keduanya sama-sama menekankan sosok Srikandi yang tidak terkungkung oleh satu gender tertentu.

Sosok Srikandi akhirnya bisa menjadi pengingat bagi kita, bahwa perempuan bisa menjadi kuat dan mandiri tanpa harus dibatasi oleh peran-peran gender yang kaku dan biner. Sifat penting yang patut diteladani dari Srikandi bukanlah keahliannya dalam memanah ataupun berstrategi dalam perang, tapi keberaniannya untuk melakukan hal-hal yang ia inginkan tanpa didikte untuk menjadi perempuan atau laki-laki.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)