Insight | General Knowledge

Mengapa Budaya Asing Selalu Dianggap Eksotis?

Senin, 14 Nov 2022 17:00 WIB
Mengapa Budaya Asing Selalu Dianggap Eksotis?
Jakarta -

Perihal "yang asing" memang tak pernah berhenti dibicarakan, dan nampaknya akan selalu menjadi objek perdebatan. Segala sesuatu yang datang dari "luar", di mata orang-orang lokal pastilah memiliki nilai eksotis. Contohya, beberapa saat yang lalu seorang coach berkulit putih bernama Tessa Davis membuat utas di Twitter mengenai "10 must-know Japanese concepts that will improve your life". Utas ini membahas beberapa istilah dalam bahasa Jepang seperti "Oubaitori", "Kaizen", "Wabi-sabi", dan "Mottainai".

Konten ini pun banjir pujian-kebanyakan dari pengguna sesama kulit putih—dengan komentar seperti "Great content!" atau "Love these, thankyou". Namun kalau diperhatikan, istilah-istilah ini sebenarnya memiliki arti yang sederhana dan bahkan hanya berupa kata-kata biasa dalam bahasa Jepang. Akibatnya, ada juga beberapa pengguna yang merasa konten ini sedang meng-eksotiskan bahasa Jepang.

Bahkan, seorang pengguna memparodikan utas tersebut dengan mengeluarkan utas tandingan berjudul "10 must-know American concepts that will improve your life". Isinya, tentu saja, adalah frasa-frasa yang lebih sering dipakai sebagai banyolan ketimbang jargon filosofis—seperti "See you later, alligator" dan "Bazinga!" Istilah yang kedua itu, tak lain dan tak bukan adalah ungkapan yang sering diucapkan Sheldon Cooper, karakter utama di sitkom The Big Bang Theory.

Utas parodi di atas menunjukkan betapa konyolnya ketika budaya yang biasa saja bagi sekelompok masyarakat—dalam kasus ini warga Jepang—dianggap sebagai sesuatu yang "luar biasa" dan "eksotis" oleh masyarakat negara lain-dalam kasus ini warga Amerika Serikat. Bukan hanya budaya Timur yang dianggap eksotis, terkadang masyarakat Asia pun juga meng-eksotiskan orang kulit putih. Misalnya, setiap kali ada bule yang berkunjung ke Indonesia, mereka kerap menjadi objek tontonan warga lokal. Muncul sebuah pertanyaan: mengapa yang "asing" selalu dianggap eksotis?

Kata "exotic" sendiri memiliki akar dari bahasa Yunani "exo" yang berarti "luar", sehingga kata "exotic" secara harafiah berarti "dari luar". Istilah ini mulai digunakan pada abad ke-15 ketika bangsa Eropa melakukan penjelajahan ke benua-benua lain, dan semakin populer di era kolonialisme. Di abad ke-17, makna dari "eksotis" akhirnya berkembang menjadi keterpukauan terhadap sesuatu yang tidak familiar atau asing.

Bagi bangsa Eropa yang baru saja menginjakkan kaki ke benua lain, segala sesuatu yang mereka temui di benua lain terkesan "aneh" dan oleh karenanya, "eksotis". Eksotisme yang bergaung kencang di masa penjajahan tak bisa dipisahkan dari imperialisme dan gagasan mengenai apa yang "modern" dan apa yang "terbelakang". Bangsa Eropa pun akhirnya mempromosikan berbagai imajinasi yang liar terhadap eksotisme bangsa Timur, atau yang disebut Edward Said sebagai orientalism.

Meski "eksotis" diartikan sebagai pujian, tapi berkaca pada sejarah munculnya istilah ini, eksotisme pada dasarnya adalah sebuah cara pandang yang kental dengan stereotip. Namun pandangan yang stereotipikal ini juga pernah muncul dari bangsa Timur terhadap bangsa Barat. Kita pun juga pernah menganggap segala sesuatu yang datang dari Barat sebagai sesuatu yang eksotis. Misalnya, beberapa tahun terakhir muncul tren tempat wisata lokal yang mereplika landmark Barat, seperti munculnya Menara Eiffel di Bogor.

Pada akhirnya, segala sesuatu yang berjarak dan dianggap "asing" akan sulit lolos dari cap "eksotis". Padahal, terkadang rasa keterpukauan atau fascination itu muncul karena semata-mata kita belum familiar dengan objeknya.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS