Insight | General Knowledge

Alasan Mengapa Kita Suka Makanan Bersuara 'Kriuk'

Kamis, 28 Apr 2022 12:00 WIB
Alasan Mengapa Kita Suka Makanan Bersuara 'Kriuk'
Jakarta -

Baru-baru ini, Ikatan Pengusaha Kerupuk DKI Jakarta mengumumkan harga kerupuk warung akan naik dari Rp1000 menjadi Rp2000 setelah lebaran dan berlaku mulai 6 Mei mendatang. Kenaikan harga ini merupakan buntut dari kenaikan harga minyak goreng dan bahan dasar lainnya. Dengan harganya yang murah, kerupuk warung memang selalu menjadi andalan sebagai makanan renyah yang menambah kenikmatan makanan. Mulai dari makanan kering seperti nasi goreng hingga makanan berkuah seperti soto, tak lengkap rasanya kalau tak ada kerupuk.

Masyarakat Indonesia memang memiliki kegemaran terhadap makanan renyah, bahkan kerupuk yang diberi kecap manis bisa menjadi lauk yang dimakan bersama nasi putih. Memang, tak ada yang lebih terobsesi dengan makanan bersuara 'kriuk' daripada orang Indonesia. Coba hitung saja ada berapa jenis keripik atau kerupuk yang bisa ditemukan di sini. Mulai dari keripik tempe, rempeyek, rengginang, kerupuk udang, hingga keripik pisang. Bahan dasar apa pun di Indonesia bisa diolah menjadi cemilan renyah. Tak hanya cemilan renyah, kita juga gemar mengkonsumsi makanan berat yang digoreng dan menghasilkan tekstur garing. Misalnya, ayam goreng tepung, lumpia goreng, hingga kentang goreng.Namun, apa yang sebenarnya membuat kita menyukai makanan renyah bersuara 'kriuk'?

John S. Allen, antropolog dari University of Southern California, menjelaskan bahwa kesukaan manusia terhadap makanan renyah sudah dimulai sejak jutaan tahun yang lalu di zaman berburu dan meramu. Ketika itu, nenek moyang kita gemar menyantap serangga dan sayuran segar yang mengeluarkan suara 'kriuk' ketika dimakan. Dulu, makanan bersuara 'kriuk' bukanlah jajanan mewah, melainkan makanan yang harus dikonsumsi demi bertahan hidup. Melihat perkembangan kuliner hari ini, sekarang makanan renyah justru digemari dan dicari.

John Allen menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh suara yang dihasilkan makanan renyah. Ketika mengkonsumsi makanan, indra kita bekerja sebagai sensor. Misalnya, lidah kita bekerja untuk mengecap rasa yang muncul dari makanan. Tapi, ketika kita makan indra kita yang lain juga bekerja, yaitu indra penciuman dan pendengaran. Misalnya, makanan yang beraroma sedap akan menambah selera ketika kita menyantapnya. Dalam kasus makanan renyah, suara yang muncul menambah pengalaman sensorik kita. Semakin banyak pengalaman sensorik yang muncul, semakin nikmat makanan tersebut.

Suara 'kriuk' dari makanan renyah akan menambah pengalaman kita dalam menyantap makanan sehingga rasanya semakin lezat untuk disantap. Melalui fakta ini, dapat disimpulkan bahwa suara memiliki peran penting dalam menentukan tingkat kenikmatan dari sebuah makanan. Bahkan, tak hanya 'kriuk', suara ketika kita menyeruput mi atau makanan berkuah pun juga akan menambah kelezatan. Sehingga, meskipun kerupuk kini dijual dengan harga Rp2000, saya rasa orang-orang akan tetap membelinya. Sebab, tak ada yang bisa menggantikan sensasi makan kerupuk yang kriuk-kriuk.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/MEL)