Inspire | Love & Relationship

Ghosting: Dampak dan Alasan Mengapa Mereka Melakukannya

Selasa, 15 Mar 2022 11:00 WIB
Ghosting: Dampak dan Alasan Mengapa Mereka Melakukannya
Jakarta -

Berkenalan dengan orang baru dan mengenal lebih jauh tentang diri mereka merupakan hal yang sangat menyenangkan, terlebih lagi apabila kita sangat tertarik dengan orang tersebut sejak awal. Semuanya akan terasa sangat sesuai dengan rencana, respons yang ia berikan pun terkesan seperti memiliki mutual feelings dengan kita. Namun, it is a common knowledge that everything is determined on the first date, right?

Kencan pertama memang dapat menentukan apakah hubungan pendekatan kita akan lanjut atau tidak. Tidak jarang orang-orang yang menjadi korban ghosting tepat setelah kencan pertama, atau bahkan ketika masih dalam tahap chatting via sosial media. Hal ini tentunya meninggalkan kesan yang sangat jahat dan memberikan dampak tersendiri kepada korban ghosting. Lalu, mengapa mereka melakukan hal demikian, ya?

Ghosting, menurut Merriam-Webster adalah tindakan memutuskan kontak secara tiba-tiba dengan seseorang (seperti mantan pasangan) dengan tidak lagi menerima atau menanggapi panggilan telepon, chat, dan yang lainnya. Menurut Wendy Walsh, seorang profesor psikologi mengatakan bahwa terdapat 3 tingkat ghosting: lightweight ghosting merupakan aksi ghosting yang dilakukan saat dalam masa pendekatan hubungan atau PDKT; midweight ghosting merupakan aksi ghosting yang dilakukan setelah berkali-kali bertemu dan terhubung dalam ikatan emosional; sedangkan heavyweight ghosting adalah ketika sudah melewati tahap berhubungan pendekatan hingga memasuki hubungan seksual lalu mereka meninggalkan semuanya begitu saja.

Aksi ghosting sudah sangat marak di tengah masyarakat terlebih lagi banyak dilakukan oleh para Gen Z. Untuk memberikan pandangan dari kedua pihak, baik yang pelaku ghosting dan korbannya, saya sudah mewawancarai beberapa teman saya yang pernah berada di kedua posisi ini.

Adinda mengaku bahwa ia pernah melakukan aksi ghosting ini dan ia melakukannya karena alasan tertentu. "Karena gue gak nyaman sama move-nya dia, sih. Terus gue emang gampang ilfeel anaknya dan biasanya kalau gue awalnya pure mau temenan aja, daripada dia makin ngarep mending gue kasih jarak dengan ghosting." Adinda pun mengaku bahwa aksi ghosting yang ia lakukan juga didasarkan oleh ketidakberaniannya untuk memberikan closure yang seharusnya ia berikan. "Gue gak berani dan gak enak juga untuk kasih closure, karena takutnya dia gak terima dengan statement gue dan takut jadi makin panjang juga urusannya."

Berbeda dengan Rani (bukan nama asli) yang juga merupakan pelaku ghosting, ia mengatakan bahwa aksi menghilangnya didasari oleh ketidakmampuannya untuk melanjutkan hubungan yang sedang dijalaninya, "Gue emang dasarnya belum berani untuk menjalin hubungan serius ke jenjang pacaran, karena saat itu posisinya gue sama dia lagi pdkt di titik gue udah ngerasa jelas banget kalau dia suka sama gue. Gak tahu kenapa gue jadi terbebani dengan hal itu dan gue langsung cabut gitu aja. Kalau dibilang cupu ya gue ngaku gue cupu dan jahat banget, sih."

Rani mengaku sendiri bahwa ia memiliki penyesalan mengenai apa yang dilakukan, "Bukannya gue nyesel gak ngelanjutin hubungan gue sama dia ya, cuma gue menyesali apa yang gue perbuat aja ke dia, kayak gue ngerasa gue jahat banget dan I know I shouldn't have treated him like that, he didn't deserve that." Meskipun tidak semuanya memiliki alasan yang sama, dari kedua narasumber yang saya wawancarai memiliki alasan yang cukup sama, yaitu tidak memiliki keberanian untuk memberikan kebenaran dan closure yang seharusnya didapatkan oleh sang korban sehingga perilaku ghosting ini dianggap sebagai shortcut baginya.

Tidak hanya pelaku ghosting, saya pun juga mewawancarai beberapa teman saya yang menjadi korban dari perilaku menghilang secara tiba-tiba ini. Dampak yang diberikan oleh ghosting ini dapat dikatakan cukup dalam bagi beberapa orang. "Rasanya kayak you're left wondering, apa ada yang salah sama gue makanya orang itu ninggalin tanpa ngasih closure apa-apa," jawab Melinda ketika ditanya apa yang ia rasakan setelah mendapatkan perilaku ghosting. Sementara menurut Safira yang juga merupakan korban ghosting mengaku bahwa tindakan ini membuatnya merasakan berbagai hal. "Gue ngerasa jadi overthinking, apa gue gak seru ya orangnya sampe ditinggalin gini aja. Tapi ujungnya gue jadi lebih banyak keselnya karena ditinggalin gitu aja gak pake permisi."

Memang dapat dikatakan bahwa perilaku ghosting ini merupakan perilaku yang cenderung tidak bertanggung jawab, terlebih lagi apabila si korban sudah mulai terhubung secara emosional. Memang tidak dapat disangkal bahwa kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk merasakan apa yang kita rasa, sehingga penolakan dalam sebuah hubungan adalah hal yang wajar.

Namun, perlu diingat lagi bahwa penolakan ini seharusnya dilakukan dengan cara yang manusiawi di mana kedua pihak seharusnya menyelesaikan hal tersebut dengan komunikasi dua arah agar bisa saling menerima keputusan masing-masing. Jadi, ghosting seharusnya menjadi suatu culture atau kebiasaan yang tidak dilanjutkan lagi karena setiap orang membutuhkan closure dalam sebuah hubungan.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)