Insight | General Knowledge

Mengapa Teori Ancient Aliens Berbahaya?

Jumat, 25 Nov 2022 17:30 WIB
Mengapa Teori Ancient Aliens Berbahaya?
Foto: Getty Images
Jakarta -

Di seluruh belahan dunia, tersebar berbagai artefak dan bangunan yang menandakan jejak peradaban kuno. Bagi masyarakat modern, peradaban kuno adalah sejarah yang menyimpan misteri masa lampau. Meski banyak yang sudah keropos dan menjadi reruntuhan, tapi berbagai artefak peradaban kuno mampu membuat kita terpukau dengan kemegahan dan kecanggihan teknologi pada masa itu. Contohnya, Piramida Giza yang dibangun ribuan tahun lalu hingga hari ini masih dianggap sebagai keajaiban arsitektur.

Namun karena aspek "ajaib" ini, banyak penganut teori konspirasi dan pseudo-arkeolog yang akhirnya percaya bahwa peninggalan peradaban kuno adalah bukti dari keberadaan alien-teori ini populer dengan sebutan ancient aliens. Teori ancient aliens sudah banyak diangkat ke dalam cerita fiksi, seperti yang ada di film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull. Tapi di luar cerita fiksi, teori ini juga berkembang luas melalui serial dokumenter, buku, dan reportase yang mengatasnamakan sains (atau lebih tepatnya, pseudosains).

Meski teori mengenai sumbangsih alien dalam peradaban kuno sudah berkali-kali dibantah oleh para arkeolog, tapi hal ini tak menghentikan para pendukung teori ancient aliens untuk tetap mencari bukti-bukti yang bisa mendukung teori mereka. Mengapa teori ini bisa muncul?

.Ilustrasi alien/ Foto: Freepik

Chariots of the Gods dan Pseudo-arkeologi

Teori Ancient Aliens pertama kali dipopulerkan oleh Erich von Daniken melalui bukunya yang berjudul Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past (1968). Di dalam bukunya, von Daniken berteori mengenai keberadaan ancient astronauts. Ancient astronauts    alias makhluk luar angkasa    ini dikatakan pernah datang ke bumi dan dipuja sebagai dewa oleh masyarakat prasejarah. Melalui pengetahuan yang diberikan oleh para alien, peradaban kuno akhirnya bisa menghasilkan berbagai arsitektur dan teknologi yang "terlalu maju bagi zamannya". Beberapa artefak yang disebutkan dalam buku ini adalah Piramida Giza di Mesir, Moai di Pulau Paskah, dan Nazca Lines di Peru.

Buku Chariot of the Gods telah menjadi salah satu sumber inspirasi bagi berkembangnya pseudo arkeologi yang mempercayai teori ancient aliens. Para pseudo-arkeolog ini menggunakan embel-embel "sains" dan "arkeologi" untuk meyakinkan publik mengenai kebenaran yang mereka percayai. Salah satu contoh dari produk pseudo-arkeologi ini yaitu serial dokumenter Ancient Aliens yang ditayangkan oleh saluran televisi History. Serial ini membahas berbagai peninggalan kuno di seluruh dunia, mulai dari kota Teotihuacan di Meksiko, Piramida Giza, hingga situs Gunung Padang di Indonesia.

Namun, teori ancient aliens mendapat banyak bantahan dari para arkeolog, salah satunya yaitu antropolog Jeb Card. Menurutnya, teori ini problematis karena mengesampingkan investigasi saintifik dalam sejarah dan menggantinya dengan mitos. Selain itu, banyak akademisi yang memperingatkan bahwa teori ancient aliens bukan hanya konyol, tapi juga berbahaya karena menyebarkan pandangan yang rasis.

.Ilustrasi alien/ Foto: Freepik

Mendukung Supremasi Kulit Putih

Menurut Julien Benoit, peneliti paleontologi dari University of the Witwatersrand di Afrika Selatan, teori ancient aliens setidaknya memiliki dua konsekuensi. Pertama, teori ini mendorong para pseudo-arkeolog untuk melakukan penjarahan dan merusak situs-situs peninggalan kuno demi membuktikan teori mereka. Sebagai contoh, pada tahun 2014, dua warga Jerman yang mengaku sebagai arkeolog masuk ke Piramida Giza dan merusak situs tersebut. Tujuannya? Mereka ingin membuktikan kalau Piramida Giza dibangun oleh bangsa Atlantis.

Kedua, teori ancient aliens mempromosikan gagasan bahwa hanya orang kulit putih yang mampu membangun peradaban maju. Dari sekian situs kuno yang dipercaya dibangun oleh alien, hanya satu yang berasal dari Eropa, yaitu Stonehenge. Meski Stonehenge dipercaya sebagai tempat mendaratnya UFO, tapi bangsa Eropa tidak pernah mendapat label sebagai bangsa yang primitif dan tak pernah menjadi subjek dari kolonialisme. Sebaliknya, bangsa-bangsa di benua Amerika Selatan, Asia, dan Afrika dicap sebagai masyarakat yang terbelakang dan tak terdidik.

Sehingga bukan kebetulan belaka kalau akhirnya banyak di antara pseudo-arkeolog ini adalah orang kulit putih. Sengaja atau tidak, teori yang mereka sebarkan mendukung gagasan bahwa masyarakat yang "primitif" tak mampu mendirikan arsitektur yang megah, sistem pengairan yang canggih, sistem astronomi yang kompleks, dan teknologi canggih lainnya, tanpa bantuan alien.

Bagi orang-orang skeptis, teori ancient aliens mungkin akan dengan mudah dimentahkan sebagai cocoklogi yang tak layak diberi perhatian. Tapi mungkin kalian akan terkejut, ketika mengetahui berapa banyak orang yang telah termakan oleh penjelasan para pseudo-arkeolog mengenai ancient aliens. Harus diakui, penjelasan mereka terkadang bisa sangat meyakinkan dan sekilas terdengar masuk akal. Tapi satu hal yang harus diingat: temuan arkeologi harus bisa dipertanggungjawabkan melalui data saintifik dan bukti-bukti konkret. Kalau tak bisa dipertanggungjawabkan, teori ancient aliens tak lebih dari sekedar dongeng orang kulit putih yang diciptakan untuk memenuhi imajinasi mereka mengenai peradaban kuno.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS