Insight | General Knowledge

Frugal Living: Bukan Pelit, Tapi Irit

Selasa, 19 Jul 2022 10:00 WIB
Frugal Living: Bukan Pelit, Tapi Irit
Jakarta -

Istilah frugal living semakin populer belakangan ini, terutama di masa pandemi. Kebutuhan untuk hidup sehari-hari terus ada dan bahkan bertambah sedangkan penghasilan stagnan atau bahkan terganggu akibat pandemi. Keadaan seperti itu memaksa kita untuk lebih berhemat dan menekan pengeluaran yang tidak perlu. Namun, sebenarnya apa itu frugal living?

Frugal living sendiri adalah sebuah gaya hidup yang menitikberatkan pada konsep menahan keinginan dan fokus pada kebutuhan primer. Secara sekilas memang terdengar mirip dengan gaya hidup minimalisme, tapi ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Jika minimalisme menekankan pada membeli barang hanya sesuai dengan kebutuhan, maka frugality menekankan pada menemukan solusi paling jitu dengan biaya sekecil-kecilnya.

.Ilustrasi frugal living/ Foto: Freepik

Gaya hidup frugal juga bukan berarti pelit. Orang yang hidup frugal masih mempertimbangkan kualitas barang-barang yang mereka beli agar pengeluarannya tidak berlipat ganda akibat membeli barang-barang yang asal murah.

Menyisihkan lebih banyak uang melalui frugal living dapat membuka berbagai peluang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti kebebasan untuk mengejar passion, pensiun dini, kepuasan finansial, menabung, dan berinvestasi. Namun, bagaimana cara untuk hidup frugal agar lebih bahagia di masa depan?

.Ilustrasi frugal living/ Foto: Pexels

1. Hemat dalam Hal Makanan

Jika kamu terbiasa memantau pengeluaran dan penghasilan kamu secara rutin, kamu pasti menyadari bahwa makanan merupakan pengeluaran terbesar kamu. Hal ini bisa disiasati dengan membawa bekal dari rumah. Menyiapkan bekal memang membutuhkan tenaga dan waktu ekstra, tidak praktis seperti memesan makanan dari genggaman smartphone. Namun, jika hal itu juga bukan menjadi opsi bagimu, kamu bisa membeli makanan yang lebih murah.

2. Menghindari Pembelian Impulsif yang Bersifat Emosional

Sering kali pembelian yang kita lakukan didasari oleh emosi sesaat. Misalnya, setelah menjalani hari yang berat, kamu mungkin saja membeli sesuatu tanpa perencanaan yang matang dengan dalil "self-reward". Walau memang penting untuk memanjakan diri sendiri sesekali demi menjaga kewarasan, perlu juga untuk membatasinya agar tidak menjadi kebiasaan buruk.

3. Mengurangi Biaya yang Tak Perlu

Orang yang mengadopsi gaya hidup frugal akan selalu berusaha mencari celah penghematan dalam berbagai hal, termasuk hal yang sepele sekalipun. Misalnya, saat hendak melakukan transfer antar bank, penganut frugal living akan mencari jalan lain untuk mengakali agar biaya transfer seminimal mungkin atau bahkan nihil.

4. Manfaatkan Promo dan Diskon Sesuai Kebutuhan

Tidak ada yang salah dengan terus mencari promo setiap kali sebelum menyelesaikan sebuah transaksi. Pastikan kamu bisa menghemat di setiap pengeluaranmu, walau hanya sedikit. Di sisi lain, meskipun notifikasi promo dan diskon memang menggiurkan, pastikan barang-barang tersebut memang diperlukan dalam keseharian agar tidak sembarang beli hanya karena "mumpung diskon" dan memaksakan adanya justifikasi untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan.

.Ilustrasi diskonan/ Foto: Pexels

Frugal living tidak hanya populer di kelas menengah ke bawah, tapi juga di kalangan menengah ke atas. Beberapa contoh di antaranya adalah tokoh-tokoh publik yang luas dikenal oleh masyarakat seperti Mark Zuckerberg, Leonardo Dicaprio, Keanu Reeves, dan Ed Sheeran. Mereka yang mempraktikkan gaya hidup ini cenderung tidak suka membeli barang-barang yang akhirnya akan jadi mubazir. Gaya hidup ini mengajarkan kita untuk tidak hanya berhemat, tapi juga lebih membumi dan rendah hati dalam keseharian.

[Gambas:Audio CXO]

(HAL/MEL)

Author

Handoko Lun