Insight | General Knowledge

Streisand Effect: Ketika yang Ditutupi Justru Malah Terekspos

Rabu, 17 Jan 2024 18:30 WIB
Streisand Effect: Ketika yang Ditutupi Justru Malah Terekspos
Jakarta -

Polemik kampanye menjelang pilpres 2024 semakin ruwet dan kompleks setiap harinya. Mulai dari aturan-aturan yang dibengkokkan, sampai penjegalan kampanye paslon-paslon lain. Baru-baru ini, sebuah proyek videotron yang dipasangkan untuk Anies Baswedan dari para pendukungnya—terutama para K-popper yang mulai terjun ke dunia politik melalui Anies Bubble—diturunkan begitu saja secara satu pihak dalam kurun waktu kurang dari sehari, di mana @olpproject yang menginisiasi gerakan penggalangan dana untuk videotron ini mengatakan bahwa seharusnya videotron dipajang selama satu minggu penuh, mulai dari 15 sampai 21 Januari 2024.

Namun, berita mengenai diturunkannya videotron tersebut malah semakin menarik perhatian publik. Layaknya yang ditulis oleh Ismail Fahmi melalui akun X-nya, sebelum di-takedown, hype yang ada di media sosial mengenai proyek videotron ini berada pada angka yang wajar. Namun, setelah ada info mengenai diturunkannya videotron ini, justru malah menimbulkan spike percakapan hingga tengah malam. Bahkan, di pagi hari, percakapan mengenai diturunkannya videotron malah semakin tinggi jumlahnya.

Hal ini pun memicu Streisand effect, di mana mereka yang awalnya tidak tahu mengenai videotron itu, justru menjadi semakin banyak yang tahu, berusaha mencari tahu, hingga melakukan aksi untuk mencari solusi.

Mengenal lebih jauh mengenai Streisand effect
Efek Streisand, fenomena di mana upaya untuk menyensor, menyembunyikan, atau sebaliknya menarik perhatian dari sesuatu hanya membuat perhatian itu semakin besar. Nama ini berasal dari tuntutan hukum penyanyi dan aktris Amerika, Barbra Streisand, terhadap seorang fotografer pada tahun 2003, yang justru menarik perhatian pada foto yang dituntut untuk dihapus dari Internet.

Tuntutan hukum Streisand diajukan terhadap fotografer Kenneth Adelman, pendiri California Coastal Records Project, yang memotret garis pantai negara bagian itu dari helikopter dan mengunggah foto-foto tersebut di Internet. Adelman menunjukkan bahwa gambar-gambar itu dapat digunakan secara gratis untuk kepentingan nirlaba dan telah digunakan oleh lembaga pemerintah untuk penelitian ilmiah. Di antara lebih dari 12.000 foto pantai California, terdapat satu foto di mana rumah Barbra Streisand terlihat. Streisand, yang sebelumnya pernah dikejar dan dikejar oleh penggemar, menggugat sebesar $50 juta, mengklaim bahwa foto itu melanggar privasinya dan menunjukkan cara mengakses tempat tinggalnya.

Pada saat tuntutan hukum diajukan, foto itu hanya diunduh enam kali, termasuk dua kali oleh pengacara Streisand. Tuntutan hukum itu sangat dipublikasikan dan sebulan setelah pengajuan, foto itu dilihat lebih dari 400.000 kali dan diunggah ulang di situs berita dan tempat lain di internet. Dengan demikian, upaya Streisand untuk menekan foto tersebut malah membuatnya jauh lebih terekspos daripada seharusnya. Streisand kalah dalam gugatan dan diharuskan membayar biaya hukum Adelman untuk kasus tersebut. Tidak sampai di situ saja, foto itu pun tetap banyak dipublikasikan di Internet.

Sebelum munculnya kasus Barbra Streisand, fenomena yang serupa sebenarnya sudah dikenal oleh masyarakat tiongkok dengan idiom yù gài mí zhāng yang apabila diterjemahkan menjadi "trying to cover things up only to makes them more evident" atau upaya untuk menutupi sesuatu yang hanya membuat hal tersebut menjadi semakin terlihat.

Para ahli mengatakan bahwa censorship biasanya seringkali malah menjadi bumerang ketika masyarakat melihat adanya upaya yang dilakukan oleh suatu pihak atau organisasi yang berkuasa untuk menindas kebebasan berpendapat. Nyatanya, apa yang terjadi di media sosial mengenai videotron calon presiden yang dipersembahkan oleh masyarakat dan diturunkan begitu saja secara sepihak berhasil memicu kemarahan publik.

Selain itu, upaya sensor yang dapat memicu rasa ingin tahu masyarakat mengenai hal yang ditutup-tutupi justru malah membuat masyarakat menjadi lebih simpati dan berusaha untuk menegakkan keadilan mengenai kebebasan berpendapatnya.

Apabila pasangan capres dan cawapres lain dapat dengan bebas menggunakan ruang publik untuk berkampanye menggunakan banner atau baliho besar yang justru seringkali mengganggu visual bahkan mobilitas masyarakat dengan dana kampanye pribadi, masyarakat wajar mempertanyakan alasan penurunan videotron kampanye untuk pasangan capres lain yang dipersembahkan oleh rakyat dan tidak mengganggu mobilitas masyarakat untuk berkegiatan sehari-hari.

(DIP/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS