Insight | General Knowledge

Kenapa Negara Asia dan Afrika Bersinar di Piala Dunia 2022?

Senin, 05 Dec 2022 15:17 WIB
Kenapa Negara Asia dan Afrika Bersinar di Piala Dunia 2022?
Jakarta -

Piala Dunia 2022 di Qatar yang pada awalnya terasa minim hype dan dipenuhi kontroversi malah berbalik 180 derajat. Setelah menjalani puluhan pertandingan hingga sekarang sudah masuk ke babak 16 besar, ternyata kita disajikan berbagai keseruan yang harus diakui, sudah jarang terjadi saat Piala Dunia bergulir. Salah satunya saat beberapa perwakilan benua Asia dan Afrika beraksi mengacak-ngacak negara-negara Eropa yang memang selalu diunggulkan. Tentu saja tren positif ini memiliki alasan khusus yang belum banyak disadari masyarakat saat ini. Jadi, kenapa negara Asia dan Afrika bersinar di Piala Dunia 2022?

Gaya Bermain Lebih Cepat

Berbicara soal taktik, harus diakui bahwa beberapa negara Asia dan Afrika, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Maroko memiliki gaya bermain yang cepat. Beberapa pemain mereka jauh lebih unggul dari sisi kecepatan sehingga transisi bola juga jauh lebih cepat. Akhirnya banyak negara Eropa yang kelimpungan dalam meredam kecepatan para pemain tersebut.

Dua pertandingan yang beneran membuktikan hal ini adalah Kroasia vs Maroko dan Uruguay vs Korea Selatan. Kedua pertandingan pertama dari masing-masing negara tersebut di Piala Dunia 2022 ini memang terasa berbeda. Kroasia dan Uruguay harus diakui memang kalah dari sisi gaya bermain yang terlihat lebih pelan. Saat transisi serangan berubah ke kaki lawan-lawan mereka, kedua negara tersebut benar-benar kerepotan hingga membuat skor yang berakhir 0-0 untuk kedua pertandingan itu menjadi terlihat tidak adil. Harus diakui, jika Maroko dan Korea Selatan jauh lebih jitu dari sisi penyelesaian akhir, maka Kroasia dan Uruguay dipastikan kalah total.

Mental Nothing to Lose

Setiap digelar Piala Dunia, negara Asia dan Afrika selalu menjadi yang paling tidak diunggulkan. Kemampuan dan juru taktik yang mereka miliki selalu dinilai ada di bawah negara Eropa dan Amerika Selatan. Namun hal itu tidak terbukti lagi di Piala Dunia 2022.

Negara Asia dan Afrika berhasil menjadi kuda hitam yang mampu mengacak tatanan kekuatan negara Eropa dan Amerika Selatan. Lihat saja bagaimana Argentina harus menahan malu saat dikalahkan Arab Saudi, dan Jerman yang dibuat acak-acakan oleh Jepang. Jika dilihat dari point of view yang lebih luas, negara Asia dan Afrika sama sekali tidak kalah mental.

Mereka malah memiliki mental nothing to lose yang terasa dari gaya bermain penuh risiko. Bisa dilihat dari passing yang lebih berani menusuk ke jantung pertahanan lawan, atau bagaimana mereka berani meliuk-liuk melewati musuh walaupun posisinya sedang ditekan. Mental nothing to lose ini yang malah membuat negara lawannya menjadi takut untuk bermain lebih berani karena sudah diprediksi akan menang mudah.

Negara Unggulan Semakin Menua

Skuad negara unggulan seperti Jerman, Belgia, hingga mantan finalis Piala Dunia 2018 Kroasia, sudah memasuki masa tua dengan regenerasi yang tidak sepesat negara lainnya, seperti Prancis atau Brasil. Terasa sekali gaya main mereka tidak sebrilian dulu sehingga lebih mudah untuk diacak-acak lawan yang padahal tidak diunggulkan. Memang, Jerman pun sudah membawa beberapa pemain muda, tapi jika dituntut untuk bermain apik di Piala Dunia pertama mereka, maka sebaiknya jangan berharap banyak.

Generasi emas Belgia bahkan sudah diakui oleh pemainnya sendiri, Kevin de Bruyne, kalau sudah terlalu tua. Saat ditanya peluang negaranya untuk juara, ia malah menjawab, "Tidak mungkin, kami sudah terlalu tua. Saya pikir peluang kami ada pada [Piala Dunia] 2018. Kami memiliki tim yang bagus, akan tetapi sudah menua." Jika sudah kalah mental sebelum menginjakkan kaki di atas rumput lapangan, maka apa yang bisa diharapkan? Belgia pun harus pulang terlebih dahulu karena tidak lolos babak grup.

Dengan melihat fakta di lapangan, maka kita tinggal menunggu kejutan apa lagi yang akan hadir di Piala Dunia 2022. Jika bisa memilih, semoga ada pemenang baru di Qatar agar semakin menetapkan status sebagai salah satu Piala Dunia terseru di era modern.

(tim/DIR)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS