Insight | General Knowledge

Indonesia dan Persoalan Sampah yang Problematis

Kamis, 02 Jun 2022 21:00 WIB
Indonesia dan Persoalan Sampah yang Problematis
Jakarta -

Sampah adalah hal kecil yang tidak bisa dianggap sepele. Bahkan, hal yang sering dianggap remeh ini justru mampu menggulirkan sejumlah persoalan besar. Mulai dari mengganggu kehidupan harian manusia, menyebabkan banyak bencana, hingga menjadi faktor utama kerusakan alam. Pada pangkalnya, sampah juga disebut sebagai musuh utama yang akan mengancam keberlangsungan manusia di masa datang.

Betapa tidak, sampah saat ini bisa ditemukan layaknya udara. Mereka bertebaran di mana-mana, di seluruh antero jagat raya. Sampah mencemari aliran air yang mulanya jernih, mengontaminasi permukaan tanah yang subur, hingga bertebaran tak beraturan di kehampaan ruang angkasa. Di Indonesia sendiri, persoalan sampah merupakan masalah serius yang tidak kunjung direspon sebagaimana mestinya.

Kenyataannya, penanganan sampah di Tanah Air memang jauh dari kata baik. Sistem daur ulang belum tertata rapi dan pihak yang berwenang justru memilih untuk menggunungkannya pada Tempat Pembuangan Akhir, seperti yang terlihat di Bantar Gebang, Bekasi. Sementara itu, di saat penanggulangan sampah yang kita hasilkan belum juga terorganisir dan tepat guna, Indonesia justru--secara diam-diam--dikenal sebagai tempat sampah plastik global terbesar di dunia.

Melalui sebuah film dokumenter investigatif yang diproduksi The Fifth Estate asal Kanada, Indonesia disinyalir menjadi tempat diselundupkannya sampah tidak terdaur ulang--khususnya sampah plastik, pada paket impor sampah yang dipesan Indonesia dari Kanada. Selain itu, merujuk katadata.co.id, Indonesia juga merupakan salah satu importir sampah plastik terbesar di dunia, yang mencapai 138 ribu ton pada 2020 lalu, dari sejumlah negara maju.

Hal ini menjadi suatu fenomena yang ironis. Ketika kita sendiri masih sulit mendaur ulang sampah plastik yang kita hasilkan, Negara justru mengimpor sampah lebih banyak dari luar negeri atas nama industri yang berpotensi menguntungkan. Secara langsung atau tidak, dampak buruk akibat penimbunan dan kesalahan penanganan sampah ini akhirnya menimpa masyarakat kita dan mengancam kehidupan.

Fakta mengenai sampah serta dampaknya di masyarakat Indonesia juga digambarkan oleh rumah produksi film dokumenter lokal, Watchdoc Documentary. Melalui sejumlah dokumenternya, Watchdoc memaparkan bagaimana persoalan sampah menjangkiti ekosistem kehidupan kita. Misalnya melalui film Pulau Plastik (2021) atau lewat serial dokumenter Ekspedisi Tiga Sungai (2022), yang menunjukan dampak buruk sampah pada aliran perairan vital di Pulau Jawa.

Secara umum, Indonesia bukanlah negara yang apik dalam menangani sampah. Sebab pada praktiknya, masih banyak masyarakat yang tidak sadar akan dampak buruk sampah dengan kebiasaan membuangnya secara tidak beraturan ke sungai. Pada film Ekspedisi Tiga Sungai oleh Watchdoc misalnya, banyak masyarakat yang nakal menyebarnya ke sungai, yang juga menjadi sumber kehidupan bagi mereka sendiri.

Belum selesai di sana, kebodohan kita mengelola sampah juga diperparah oleh sampah impor yang datang. Sebab pada beberapa titik, ditemukan banyak sampah asal luar negeri, yang dominan mencemari lingkungan kita. Akhirnya, niat awal menuai untung justru menyebabkan kebuntungan.

Hal-hal seperti di atas sudah sepatutnya menjadi prioritas utama kita bersama. Seperti apa yang diperjuangkan Nina Azzahra, seorang aktivis lingkungan berusia 14 asal Gresik atau Prigi Arisandi dari Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton), yang sama-sama konsisten menyuarakan bahayanya sampah dan limbah bagi lingkungan hidup kita bersama.

Nina bahkan sempat menyuarakan perhatiannya perihal sampah Kanada di Indonesia lewat surat terbuka kepada Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau meski belum berbalas kenyataan yang manis. Sementara Prigi, melalui aktivisme lingkungannya beberapa kali menyuarakan persoalan sampah melalui aksi seni bermuatan kritik melalui beberapa platform media dan rajin mengikuti konferensi lingkungan.

Tetapi hal-hal baik, terutama soal sampah yang carut-marut, tidak bisa terselesaikan begitu saja dengan hanya mengandalkan sosok seperti Nina, Prigi, atau bahkan sebatas mengikuti dokumentari perihal kerusakan lingkungan. Kebaikan baru akan datang apabila setiap dari kita melakukan aksi nyata soal penanggulangan sampah yang lebih tertata, demi memastikan tidak mencemari lingkungan kehidupan kita sendiri.

Untuk itu, upaya terstruktur dari tingkat paling kecil, yakni diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal hingga ke yang lebih besar, sangat perlu diprioritaskan. Langkah ini termasuk mengawal arus buang sampah, dari rumah ke tempat berikutnya yang tepat guna, agar sampah tidak lagi menyelinap di selokan yang menyebabkan banjir, tidak bertebaran di lautan dan merusak biota laut, juga tidak merusak lapisan ozon karena dibakar secara tidak bertanggung jawab.

Perubahan iklim dan krisis kerusakan alam semakin nyata. Dan sampah adalah salah satu penyebabnya yang utama. Oleh karena itu, jika kita ingin Indonesia yang maha kaya alamnya tetap menyajikan berjuta kekayaan alam di masa datang, kita harus lekas berbenah. Menyelesaikan soal-soal sampah dari hulu ke hilir, demi tiada lagi dampak kerusakan terhadap alam akibat sampah yang kita telantarkan.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)