Interest | Home

Ayo Mulai Mengompos!

Minggu, 08 May 2022 14:00 WIB
Ayo Mulai Mengompos!
Foto: Pexels Sippakorn Yamkasikorn
Jakarta -

Sampah makanan atau food wastage telah menjadi hal yang mengkhawatirkan namun sulit sekali kita perhatikan dalam keseharian. Menurut lansiran The Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbanyak kedua di dunia. Food wastage memiliki dua kategori yaitu food loss yang biasanya didapatkan dari bahan pangan-biasanya mentah yang tidak dapat diolah menjadi hidangan dan food waste yang merupakan sisa makanan yang tidak dimakan atau ditinggalkan begitu saja   yang biasanya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

Menurut Antara News, Indonesia menghasilkan food wastage sebesar 184 kilogram per orang per tahun atau total 48 juta ton pertahun yang jika dihitung bisa memberi makan 125 juta orang atau sama dengan mengentaskan kemiskinan dan kelaparan. Sampah makanan dapat merugikan alam karena direct carbon footprint dengan melepaskan gas rumah kaca yaitu metana ke atmosfer yang membahayakan bagi Bumi, memperkeruh pemanasan global, dan menimbulkan ripple effect pada kesehatan sumber dayanya serta memicu bencana alam hingga kepunahan biodiversity.

We know the causes, we feel the heat, and the science is clear. So, do we care to do our bits?

Beragam solusi logis telah tersedia dan penyuluhan pun banyak tersebar di media dan berbagai lembaga swadaya masyarakat dengan akses yang mudah, namun perubahan lifestyle ini bukanlah menjadi prioritas kita. Dari memberhentikan pemakaian plastik sekali pakai, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, menanam pohon, mengurangi konsumsi produk dairy, memilah sampah, hingga penerapan kompos di rumah dan banyak lagi. Again, it may be easier said than done   apalagi dengan kesibukan kita yang menumpuk, rasanya meluangkan waktu untuk mengaplikasikan solusi-solusi tersebut dalam keseharian bukanlah mudah.

Dari rangkaian solusi di atas, mengompos merupakan aksi yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, apalagi kalau kita tidak terbiasa bercocok tanam. Namun, mempunyai manfaatnya yang sangat berarti bagi Bumi, lho!

Apa itu kompos?

Semua yang tumbuh akan membusuk, ini merupakan analogi paling mudah untuk mengerti apa itu kompos dilihat dari sudut pandang bahan atau material. Dengan melakukan kompos, kita dapat membantu mempercepat proses pembusukan tersebut secara ideal bagi bakteri, fungi, dan organisme lain dalam prosesnya. Selain mengurangi penumpukan sampah dan emisi metana, kompos juga berguna sebagai pupuk yang menyehatkan kondisi tanah, menyerap dan menyimpan karbon di bawah tanah, dan menghemat pemakaian air (less irrigation) terutama pada industri agrikultur.

Proses kompos biasanya dilakukan di satu media seperti compost bin dengan cara memasukan organic waste yang akan membusuk dalam satu periode. Kompos juga memiliki bermacam metode yang bisa dilakukan di dalam dan di luar rumah.

Mana yang bisa dikompos, mana yang tidak?

Tidak semua sampah makanan bisa kita kompos karena komponennya yang biasanya lebih padat dan dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai, beberapa sampah makanan juga memiliki aroma yang dapat mengundang rodent seperti tikus yang akan mengganggu proses kompos.

Kompos memiliki dua tipe material yang biasanya disebut sebagai browns and greens. Berikut ini rincian kedua kategori kompos:

Browns (Carbon)

  • Batang pohon
  • Kertas
  • Karton
  • Serbuk kayu
  • Bonggol jagung
  • Jerami
  • Rambut dan potongan kuku
  • Tisu

Greens (Nitrogen)

  • Sampah sayuran
  • Sampah buah
  • Ampas kopi dan teh
  • Biji-bijian
  • Sampah roti
  • Sisa nasi dan pasta
  • Kulit telur
  • Dedaunan

Perhatikan untuk hindari produk dairy, lemak, minyak, daging dan tulang, tanaman yang sakit, kotoran hewan peliharaan, kertas berlapis atau cetak digital, dan apapun yang mengandung bahan kimia.

Bagaimana cara kompos?
Ada 6 metode kompos yang bisa kita aplikasikan seperti; windrow, trench, dan outdoor bin yang cocok untuk rumah dengan halaman atau taman, dan indoor bin, vermicompost, dan bokashi untuk kompos di dalam rumah. Walaupun memiliki cara yang berbeda-beda, setiap metode memiliki basis yang sama.

Begini caranya:

  1. Tempatkan tempat sampah organik (tupperware bekas, tempat sampah kecil, kotak plastik bekas) di dekat wastafel dan atau dapur dan gunakan untuk menaruh browns/greens di dalamnya.
  2. Kosongkan tempat sampah organik ke tempat sampah kompos (yang biasanya dilubangi untuk ventilasi) dengan menumpuk greens pada bagian bawah dan browns di atasnya dengan rasio 1:2 untuk mencegah bau.
  3. Jangan lupa untuk memotong bahan-bahan sebelum masuk ke tempat sampah kompos, untuk mempercepat proses kompos.
  4. Selalu tutup tempat sampah kompos dengan rapat.
  5. Cek secara berkala dan aduk kompos agar sirkulasi udara terjaga.
  6. Akan terjadi perubahan suhu pada kompos; ketika suhu stabil pada 29 derajat celcius, berwarna coklat tua, bertekstur rapuh, dan beraroma tanah menandakan bahwa komposmu telah siap.
  7. Kompos bisa digunakan sebagai pupuk untuk bercocok tanam, dijual, atau disumbang ke pengurus taman di daerah rumahmu.

Yuk, kita coba bersama-sama!

[Gambas:Audio CXO]



(MEL/DIR)