Cantik dan keindahan tidak pernah bisa dilepaskan dari dunia perempuan. Kata tersebut selalu menjadi parameter untuk mengukur perempuan. Namun seiring perubahan zaman, pola pikir pun kian berkembang dan bergeser dalam mendefinisikan kecantikan mereka.
Cantik Pada Mulanya
Sumur dapur dan Kasur. 3 kata untuk melabeli tugas utama perempuan di mana kewajiban utamanya adalah mengurus rumah tangga. Label yang sangat erat dilekatkan pada perempuan, terutama Masa Kolonial Belanda (±1600-1942). Periode ketika perempuan Indonesia paling dibatasi. Zaman itu, perempuan mendapat akses yang sulit dalam hal pendidikan dan pekerjaan.
Perempuan ditempatkan hanya di ranah domestik: dapur, sumur, kasur. Perempuan dianggap tidak perlu sekolah, karena "ujung-ujungnya jadi istri", serta tidak diberi hak untuk memilih pasangan dan menentukan hidup apalagi akses pekerjaan formal. Jarang ada perempuan yang memiliki mimpi yang besar.
Beberapa memilih mengubur mimpinya lantaran terhalang berbagai macam hal. Mimpi itu sudah tertutup bahkan jauh sebelum ia sempat tumbuh. Sistem sosial seperti patriarki yang kental turut mempelopori kesenjangan yang terjadi, ketika pria dianggap lebih superior dibanding perempuan sehingga lebih diutamakan.
Perempuan dulunya tidak dididik untuk mendapat pekerjaan dan pendidikan. 'Cantik' kala itu adalah mereka yang berhasil dipersiapkan untuk mengurus rumah, melayani suami, dan membesarkan anak. Dalam mengubah stigma itu, perempuan harus berjuang keras demi dipandang sejajar dan setara dengan pria terutama dalam hal pekerjaan dan pendidikan.
Hal ini jelas tergambar dalam beberapa sejarah tokoh-tokoh perempuan dengan kisahnya membela hak-hak perempuan seperti R.A.Kartini (Jawa), Dewi Sartika (Jawa Barat), sampai Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara) dan masih banyak nama lainnya. Perjuangan hak-hak perempuan tersebut kian memperlihatkan hasil yang nyata di masa kini.
Ilustrasi perempuan terpelajar/ Foto: Istock |
Cantik in New Era, Perubahan Kesempatan dan Ruang untuk Berkembang
Era berkembang dan zaman semakin berevolusi, begitu juga pola pikir yang bertumbuh. Mindset patriarki kini berangsur ditinggalkan dalam beberapa aspek. Dimulai dari profesional, akademisi, sampai politik, perempuan dapat bersaing untuk menunjukkan kompetensinya. Masa kini, terdapat lebih banyak lapangan kerja yang tidak membutuhkan spesifikasi gender khusus seperti pekerjaan virtual-yang bisa dikerjakan dimana saja, dengan berbagai bidang dimulai dari science sampai beauty.
Ada banyak pekerjaan yang bahkan seorang ibu sekalipun dapat mengerjakannya dari rumah sambil mengurus anak, alias tanpa mengganggu peran utamanya sebagai ibu rumah tangga. Akses pendidikan juga semakin terbuka lebar. Dahulu, perempuan mudah dibatasi karena kurangnya pengetahuan dan terbatasnya akses yang dimiliki. Kini banyak beasiswa kuliah maupun sekolah bagi siapa saja yang ingin menggapainya. Peluang ini memberi rasa percaya diri yang kuat bagi perempuan.
Perempuan dapat berpikir lebih kritis serta menunjukkan perannya dalam mengedukasi serta mengkritik. Dengan akses pendidikan yang meledak ditambah percepatan teknologi dan media sosial yang luas, semakin besar panggung yang tersedia bagi sesama perempuan untuk bisa bersuara, menginspirasiĀ perempuan lainnya, dan membangun identitas sendiri tanpa harus terus-menerus berada dalam bayang-bayang pria.
Media sosial memberi perempuan ruang untuk berkarya, membangun citra diri, menghasilkan uang, dan menyampaikan pendapat dari sudut pandang perempuan.
Ilustrasi perempuan maju./ Foto: Istock |
Pendewasaan Pola Pikir Perempuan
Alicia Eva, seorang influencer yang kerap memberikan motivasi yang menampar sekaligus bukti nyata dari konsistensi dalam konten-kontennya. Dimulai dari hal-hal kecil untuk memberi tantangan terhadap dirinya sendiri berkembang menjadi berbagai ide dan projek-projek besar.
Alicia Eva kerap melakukan berbagai kegiatan positif dimulai dari mengajar anak-anak pedalaman papua dengan yayasan yang dia bangun bernama Jiwa Emas Foundation, sampai membuat event bazar yang dinamai Her Era. Eva bercerita bahwa ia bukan berasal dari keluarga dengan ekonomi tinggi.
Ia dulunya juga sudah berjualan sedari bangku sekolah, bahkan Eva merintis bisnis perhiasan yang kini dinamakan Soul of Gold. Eva menjadi icon bahwa perempuan mampu untuk berdaya bahkan sedari usia muda. Ia konsisten, berani mulai dari kecil, dan bahkan memulai sesuatu tanpa harus menunggu kondisi ideal.
Salah satu pemimpin perempuan Indonesia yang saat ini tengah menjadi sorotan publik yaitu Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda yang dapat diikuti pada akun Instagramnya: s_tjo. Beliau memimpin Maluku Utara serta menjadi ibu tunggal untuk ketiga anak-anaknya. Sebuah kutipan yang diambil dalam salah satu wawancara beliau mengatakan 'Perempuan sering kali merasa tidak cukup mampu, padahal sebenarnya mereka memiliki banyak kelebihan yang bisa dikembangkan'. Maka dari itu, ia menekankan pentingnya memusatkan energi pada kekuatan yang dimiliki.
Kita dapat mengamati pergeseran pola dari zaman dulu dan sampai sekarang. Perempuan kini sudah jauh berkembang. Kesetaraan gender banyak disuarakan, dan kepercayaan terhadap perempuan untuk memimpin kian meningkat. Pemimpin perempuan, influencer perempuan, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang seakan membuka kesempatan besar untuk para perempuan mampu memberdayakan diri.
"Cantik" kini tidak lagi hanya sekedar paras ataupun penampilan, namun juga berarti kompeten dan berdampak bagi sesama. Banyak influencer yang tidak lagi hanya mengagungkan kecantikan namun juga mendorong perempuan untuk mampu memberdayakan diri, meningkatkan skill, dan punya pemasukan mandiri, terlepas dari latar belakang apapun yang dimiliki orang tersebut.
Sayangnya, pola pikir ini belum menyebar ke seluruh perempuan Indonesia. Di beberapa kota sekalipun masih banyak para anak-anak muda yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SMA. Mereka memilih antara langsung bekerja atau membantu orangtua di rumah. Kita juga tidak bisa menutup mata dengan masih banyaknya fenomena putus sekolah, menikah dini, atau perempuan yang merasa "tidak perlu bermimpi besar" di Indonesia.
Perjuangan untuk mengedukasi para perempuan Indonesia agar mampu berdaya dan memiliki mimpi yang tinggi masih harus lebih digaungkan lagi, sehingga harapannya tidak ada lagi perempuan yang berpikir bahwa gender akan membatasi fleksibilitasnya, tidak ada yang masih memiliki pemikiran bahwa perempuan hanya sebatas didalam rumah. Perempuan juga memiliki daya juang yang sama hebatnya seperti para lelaki.
Definisi Cantik/ Foto: Istock |
Definisi 'Cantik' Hari Ini
Cantik adalah keberanian. Berani mengambil keputusan hidup sendiri, dan berani menolak standar lama. Cantik kini bukan lagi tentang meniru, mengikuti standar masyarakat, ataupun standar sosial media melainkan tentang menjadi diri sendiri, menunjukkan sisi paling otentik dalam diri dan menjadi sisi paling jujur dalam diri sendiri.
Caranya dengan fokus ke pengembangan diri (skill, wawasan, mental). Seperti motto yang banyak digaungkan; brain, beauty, behavior. Rawat diri karena menyayangi diri dan bersyukur pada hidup, bukan karena tuntutan. Bangun personal value & tetapkan boundaries dari hal-hal yang bertentangan dengan value. Terakhir, temukanlah tujuan hidup dan passionmu sendiri.
Cantik di era ini adalah kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri. Bukan hanya soal wajah, tapi soal value, karakter, dan kontribusi. Mari redefinisi cantik-untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.
Penulis: Tiara Lovita Ginting
Editor: Dian Rosalina
*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*
Ilustrasi perempuan terpelajar/ Foto: Istock
Ilustrasi perempuan maju./ Foto: Istock
Definisi Cantik/ Foto: Istock