Menjelang tahun 2025 ini, tentu masih banyak perempuan yang merasa kurang dengan bentuk tubuhnya. Standar kecantikan yang ada di masyarakat semakin masif memaksa perempuan untuk tampil "indah" secara fisik.
Hasil survei yang dilakukan oleh zapclinic.com menunjukkan bahwa perempuan Indonesia paling merasa insecure dengan kondisi kulit wajah mereka sekitar 50,1%, ukuran berat badan sekitar 44,9%. Akibatnya, harga yang harus dibayar untuk memenuhi standar yang ada di masyarakat ini bukan saja uang, tetapi waktu hingga mental yang harus dikorbankan.
Rasa tidak aman atau insecurity sering dianggap sebagai persoalan pribadi terutamanya untuk perempuan. Sesuatu yang harus diatasi secara individual melalui perawatan diri, motivasi atau manajemen emosi. Jika diamati lebih jauh, insecurity pada perempuan lebih dari persoalan psikologis.
Fenomena sosial yang memiliki dimensi struktural, ekonomi dan budaya. Perempuan di berbagai lapisan masyarakat harus membayar harga yang tidak kecil untuk memenuhi standar. Seluruh "biaya" itu membentuk apa yang disebut sebagai the cost of insecure. Sebuah biaya sistemik yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas dan harapan sosial yang telah dibentuk oleh lingkungan, pasar serta norma gender yang telah mengakar lama.
Ilustrasi insecure dengan diri sendiri/ Foto: iStock |
Tekanan yang Dimulai Sejak Dini
Banyak perempuan dibesarkan dengan kalimat-kalimat evaluatif tentang penampilan. Misalnya "kamu makin gelapan ya," atau "pipi kamu harusnya lebih tirus." Meski terdengar sepele, justru kalimat-kalimat seperti itu sudah menjadi warisan budaya bahkan dalam keluarga yang akhirnya mendukung adanya standar kecantikan di masyarakat.
Tekanan itu diperkuat oleh media dan iklan. Representasi perempuan yang ditampilkan lewat media arus utama selama dekade terakhir masih didominasi satu tipe visual sebagai contoh nya citra perempuan postur ramping, kulit cerah dan hidung mancung.
Representasi itu sebenarnya, tidak mencerminkan keragaman fisik perempuan Indonesia yang memiliki warna kulit, bentuk wajah, dan karakter tubuh yang beragam. Standar tunggal dilekatkan pada kelompok yang heterogen, menyebabkan rasa insecurity menjadi konsekuensi yang tidak dapat terhindarkan.
Belum lagi beauty tax yang harus dibayar. Istilah beauty tax dalam konteks ini, merujuk pada biaya tambahan yang ditanggung perempuan untuk memenuhi ekspektasi penampilan. Biaya ini muncul dikarenakan tuntutan sosial. Banyak perempuan mengalokasikan pendapatan bulanannya untuk skincare, make-up, perawatan rambut bahkan layanan medis.
Hal ini sebenarnya salah satu cara perempuan merawat diri mereka. Persoalannya, terletak pada motif yang mendorong keputusan yang sering kali didasari untuk memenuhi standar kecantikan yang ada di masyarakat.
Melansir dari fimela.com yang mengutip data dari hasil survei yang dilakukan Populix Sebanyak 77 persen masyarakat Indonesia rutin berbelanja produk skincare setidaknya satu kali dalam sebulan. Sebanyak 93 persen masyarakat mengeluarkan biaya sebesar Rp 250 ribu. Bahkan 1 persen di antaranya mengatakan dapat mengeluarkan biaya Rp750 ribu setiap bulannya, dan terdapat 12 persen masyarakat yang melakukan pembelian produk skincare setiap hari.
Beauty tax membuat perempuan mengeluarkan biaya lebih besar tidak hanya untuk kebutuhan melainkan kerangka standar yang terus bergerak dan justru semakin meningkatkan rasa insecure.
Beban Psikologis yang Tidak Proporsional
Insecurity pada perempuan ini akan mempengaruhi cara mereka melihat tubuh dan menilai dirinya. Misalnya, di tempat kerja, perempuan sering menahan diri untuk mengajukan pendapat, mengambil peran baru atau meminta kenaikan gaji karena khawatir dianggap kurang kompeten.
Sementara itu, perempuan juga memikul ekspektasi ganda seperti, sukses di tempat kerja dan tampil sempurna di ranah domestik. Kombinasi tuntutan tersebut menciptakan tekanan mental yang berlapis dan sulit diurai.
Laporan dari investingwomen.asia terkait data Social Norms and Women's Economic Participation in Indonesia. Memaparkan bahwa, partisipasi tenaga kerja perempuan telah stagnan di sekitar 50% selama dua dekade terakhir. Tanggung jawab keluarga dan faktor struktural terus menjadi hambatan utama yang mempengaruhi partisipasi perempuan dalam tenaga kerja.
Akibatnya, mental perempuan banyak terserap dalam upaya untuk mengimbangi standar, bukan untuk mengembangkan potensi diri. Salah satu akar dari biaya insecurity adalah norma gender yang tidak seimbang. Standar ini menciptakan ketimpangan yang membuat perempuan harus bekerja dua kali lebih keras, untuk kompetensi dan untuk memenuhi ekspektasi yang tidak relevan dengan kapasitasnya.
Selain itu waktu menjadi salah satu biaya yang harus dikeluarkan dari rasa insecurity. Berjam-jam dapat terbuang hanya untuk memikirkan bagaimana orang lain menilai tubuh, wajah atau caranya tampil di ruang publik.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan dari segi pengetahuan dan skil berubah menjadi rangkaian ritual memperbaiki citra diri. Waktu dan dan kesempatan bisa lenyap tanpa sempat digenggam. Kecemasan berulang ini bisa menyebabkan ruang untuk menjadi versi terbaik dirinya.
Ilustrasi percaya diri dengan kecantikan diri sendiri./ Foto: iStock |
Diperlukan cara untuk mengurangi the cost of insecure, perubahan tentang cara masyarakat memandang tubuh dan peran perempuan seperti :
- Perlu ada peninjauan ulang terhadap cara kita membicarakan penampilan. Komentar mengenai tubuh, berat badan atau warna kulit tidak pernah benar-benar netral. Mengurangi komentar semacam ini berarti mengurangi tekanan sosial yang selama ini.
- Representasi perempuan di media perlu lebih beragam. Tubuh perempuan tidak satu warna, satu ukuran atau satu bentuk. Keberagaman ini perlu tampil di media arus utama agar standar kecantikan menjadi lebih inklusif dan realistis.
- Ruang kerja harus dibangun dengan kebijakan dan budaya yang menilai kompetensi, tidak dengan penampilan fisik sebagai indikator profesionalisme.
- Perempuan perlu diberikan dukungan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuhnya dan dengan dirinya sendiri. Ini bukan tugas satu perempuan melainkan keluarga, institusi dan budaya tempat ia tumbuh.
Insecurity pada perempuan bukan persoalan personal yang dapat diatasi hanya dengan kepercayaan diri atau rutinitas self-care. Ini, hasil dari struktur sosial yang menempatkan perempuan dalam standar yang tidak seimbang. Selama standar tersebut tidak dibongkar, perempuan akan terus membayar biaya yang tidak seharusnya mereka tanggung.
Jika masyarakat dapat menciptakan ruang di mana perempuan merasa cukup tanpa harus membayar harga tambahan, maka bukan hanya perempuan yang diuntungkan, tetapi seluruh masyarakat.
Penulis: Ayu Puspita Lestari
Editor: Dian Rosalina
*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*
(ktr/DIR)
Ilustrasi insecure dengan diri sendiri/ Foto: iStock
Ilustrasi percaya diri dengan kecantikan diri sendiri./ Foto: iStock