Insight | General Knowledge

Luruhnya Daun Terakhir: Kala 'Benteng Alam' yang Tak Lagi Bisa Melindungi

Selasa, 30 Dec 2025 16:00 WIB
Luruhnya Daun Terakhir: Kala 'Benteng Alam' yang Tak Lagi Bisa Melindungi
Hutan Sumatera yang mulai terkikis. Foto: CNN Indonesia
Jakarta -

Hujan lebat atau cuaca ekstrem setiap tahunnya kini menghantui kita bahkan belahan dunia manapun. Banjir bandang, tanah longsor, dan kebakaran hutan kerap tampil beringas di planet kita. Seperti yang diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengatakan fenomena La Nina akan terjadi di akhir tahun 2025.

Fenomena La Nina sederhananya adalah curah hujan meningkat akibat penguatan angin pasat atau trade winds. BMKG mengatakan Pulau Sumatra wilayah yang terdampak besar atas fenomena tersebut. Memasuki bulan November wilayah Sumatra mengalami peningkatan curah hujan menjadi kategori Tinggi (300-500 mm) per bulan yang sebelumnya pada Oktober di kategori Menengah (100-300 mm).

Fenomena La Nina mengkhawatirkan, akan berdampak pada munculnya hidrometeorologi: banjir bandang, dan tanah longsor. Kekhawatiran ini menghujam Sumatra. Alam tak menentu ini melahirkan fenomena baru, yakni siklon tropis: massa udara lembab yang mengantarkan hujan ekstrim, angin kencang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir.

Volume air hujan akhirnya berubah, menjadi 300-500 mm per hari, pada (26/11). Bencana besar (hidrometeorologi) pecah-banjir bandang dan tanah longsor-di ruas-ruas wilayah Sumatra: Padang, Medan, dan Aceh. Desiran siklon tropis tak terbendung hingga meluluhlantakkan fasilitas atau bangunan kokoh. Bahkan di Aceh sendiri, di Aceh Tamiang jalur darat sampai terputus membuat warga terisolir beberapa hari.

Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) menaksir kini jumlah nyawa hilang lebih dari 700 jiwa, 600 lebih jiwa yang tak masih ada kabar, dan 200 ribu lebih orang terluka. Jumlah ini masih bisa bertambah sebab proses pemulihan belum usai. Banyak yang mengatakan peristiwa ini disebabkan curah hujan meningkat, atau perubahan alam yang kian tak menentu   siklon tropis.

Namun, menghardik alam saja semata-mata hanya bagian cuci tangan dari ulah kita. Pasalnya muara gelondongan kayu di pusaran banjir hingga Pantai Parkit, Padang menjadi pertanyaan besar: apakah alam menjadi faktor tunggal dari bencana besar ini atau terdapat ulah tangan manusia?

.Hutan di Riau yang rusak karena aktivitas penambakan./ Foto: Wikimedia Commons

'Benteng Alam' yang Kian Terkikis

Tak bisa dimungkiri bahwa adanya kerapuhan pada alam kita: yakni hutan-hutan Sumatra yang seharusnya menampung limpasan air hujan kini tak lagi berfungsi. Fakta lapangan menunjukkan bahwa akibat banyak hutan alami yang berubah fungsi menjadi perkebunan monokultur: kelapa sawit hingga area pertambangan-konon untuk melonjakkan ekonomi suatu negara.

Kalau saja kebijakan mengorbankan hutan alami-penopang ekosistem dan markas keanekaragaman hayati-terus digencarkan, hal ini akan meningkatkan kekhawatiran untuk lingkungan tinggal kita, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, hingga air tak lagi bersih akan menjadi makanan sehari-hari kita. Di titik ini kita seolah sedang menggadaikan alam dengan 'kiamat-kiamat kecil'     jikalau pembabatan hutan alam atau kerusakan lingkungan hari demi hari masih dipraktikkan oleh hasrat keserakahan.

Negara-negara luar serentak mengatakan hutan Indonesia adalah paru-paru dunia. Itu berkat letak Indonesia di garis khatulistiwa. Hutan hujan tropis tersebar di ruas-ruas wilayah Indonesia, antaranya Sumatra (16,01 juta ha), Kalimantan (31,10 juta ha), hingga Papua (33,12 juta ha). Bahkan negeri ini masih dinobatkan "MegaDiversity", negeri dengan keanekaragaman hayati paling meruah di dunia. Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI, 2024) mencatat kiranya 11.137 biodiversitas bermukim di Indonesia.

Hutan tropis Indonesia tak hanya menawarkan kesunyian atau keangkeran   seperti banyak orang mitoskan. Ia sudah menjadi ruang 'dialog' makhluk hidup. Seperti pada sisa-sisa makanan orang utan atau gajah yang dapat menyuburkan pepohonan di belantara. Lebih jauh, hutan alami tumbuh subur tanaman obat yang dapat meningkatkan perekonomian. Maluku salah satunya, menyandang sebagai Kepulauan Rempah atau "The Spice Island" sejak dahulu kala.

Rempah-rempah hasil hutan alami Indonesia memiliki nilai tinggi, misalnya kapulaga menduduki rempah termahal setelah vanili. Ini yang menyebabkan banyak peneliti Eropa dulu, seperti Wallace dan Rumphius, berdatangan ke Indonesia hingga menyandangkan gelar sebagai negeri kaya akan biodiversitas. Tak ayal, bangsa mereka (Eropa) begitu berambisi menguasai hasil-hasil bumi ini pada masa kolonialisme.

Kini, julukan paru-paru dunia seakan tak pantas lagi untuk kita, terasa seperti beban dan sindiran keras. Pasalnya hutan-hutan alami kian tergerus oleh aktivitas manusia (deforestasi): penebangan liar, pembakaran hutan, hingga pembabatan masif hutan alami untuk lahan sawit dan pertambangan.

Data MapBiomas Indonesia menunjukkan wilayah Sumatra sejak tahun 1990 sampai 2024 kehilangan 18 juta hektar hutan alam dan terjadinya peningkatan perkebunan sawit sekitar 17 juta hektar. Permasalahan kian menyertai, yakni daya resapan air hujan dan keanekaragaman hayati menjadi mengecil. Taruhannya banyak spesies endemik diambang kepunahan, seperti orang utan, gajah, dan bunga bangkai.

Titik terang lain diperlihatkan dari kejadian hidrometeorologi di Sumatra pada penghujung November yang melumpuhkan berbagai kota Sumatra akibat resapan air hujan alami dan penopang tanah dari akar-akar hutan tropis tak tersedia lagi. Kerusakan hutan dan lingkungan hidup sungguh mengkhawatirkan ruang hidup kita.

Bayang-bayang berbagai kiamat kecil seperti banjir bandang, tanah longsor, pencemaran air, polusi udara hingga konflik horizontal akan menghantui di keseharian kita. Bahkan praktik deforestasi atau kerusakan lingkungan sudah menjalar ke wilayah Kalimantan dan Papua sebagai harapan terakhir hutan alam dan keanekaragaman hayati tumbuh subur dan aman.

Meminjam artikel Hutan Papua dan Kalimantan Alami Deforestasi yang Tinggi dari Forest Watch Indonesia (2024), bahwa pada 2023 menunjukkan kenaikan deforestasi Indonesia mencapai 257.384 hektar yang sebelumnya 230.760 hektar pada 2022. Deforestasi terbesar yakni di wilayah seluruh Kalimantan sekiranya 90.000 hektar dan Papua Selatan seluas 12.640 hektar.

Langkah Kecil untuk Berubah

Mungkin banyak yang skeptis bahwa sudah terlambat untuk menyesal atau mengubah semua ini. Namun tanpa adanya kesadaran lingkungan dan perubahan nyata, semakin memungkinkan kita melihat kiamat-kiamat kecil terejawantahkan.

Dalam buku yang saat ini sedang saya baca, Reset Indonesia Gagasan tentang Indonesia Baru karya Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu, menawarkan kita cara gaya hidup yang lebih ramah lingkungan alias tobat ekologi. Antaranya melakukan:

  • Perubahan Energi Fosil ke Energi Terbarukan
  • Reboisasi Hutan dan Keanekaragaman Hayati
  • Mengubah Pola Konsumsi dan Aktivitas Kita,
  • Beralih dari Pertanian Monokultur ke Sumber Pangan yang Beragam, serta
  • Memberikan Ruang Lebih untuk Suaka Flora dan Fauna di Darat Maupun Laut

Namun, melakukan tobat ekologi harus disertai dengan kebijakan publik yang tegas. Rakyat tak bisa berdiri sendiri untuk menjaga dan melestarikan bumi Nusantara yang begitu luas. Pemerintah harus turut mendukung dan membersamai-terutama suara masyarakat adat dan aktivis lingkungan yang harus didengar.

Setidaknya langkah kecil di kemudian hari mampu menjadi langkah yang besar bisa mengubah sesuatu untuk jadi lebih baik. Demi bumi yang lebih sehat untuk bisa ditinggali oleh anak cucu kita.

Penulis: Iqra Ramadhan Karim
Editor: Dian Rosalina

*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*

(ktr/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS