Insight | General Knowledge

Bisakah Kita Hidup Tanpa Barang Impor?

Jumat, 08 Apr 2022 18:00 WIB
Bisakah Kita Hidup Tanpa Barang Impor?
Jakarta -

Akhir Maret lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan kemarahannya karena banyak kementerian yang masih mengimpor produk-produk untuk kebutuhan operasional. Kemarahan ini ia sampaikan di depan jajaran menteri dan kepala daerah dalam acara Afirmasi Bangga Buatan Produk Indonesia. Menurutnya, jumlah impor yang sangat besar ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan tidak mensejahterakan UMKM lokal. Sedangkan menurut Jokowi, barang-barang yang diimpor ini bisa diproduksi di dalam negeri. Barang-barang impor yang diprotes Jokowi antara lain adalah alat kesehatan, seragam aparat negara, alat tulis, dan alat pertanian.

Mengimpor produk dari luar negeri memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan yang sumber dayanya tidak tersedia di negeri sendiri. Selain itu, bisa saja kita memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan tapi tak memiliki teknologi untuk mengolahnya. Sehingga terkadang, mengimpor produk dari luar negeri pun mau tak mau menjadi pilihan. Tapi di luar itu, apakah ketergantungan kita terhadap barang impor sudah berlebihan? Bisakah kita hidup tanpa barang impor, meski sehari saja?

Bisa atau tidaknya kita hidup tanpa barang impor sangat bergantung pada pola produksi dan konsumsi yang ada di masing-masing negara. Di Indonesia, barang impor datang dengan berbagai bentuk, mulai dari migas, barang-barang elektronik, plastik, hingga bahan pangan seperti kedelai, bawang merah dan bawang putih, daging sapi, hingga garam. Cakupan barang impor yang sangat banyak ini membuat kita mungkin saja tidak sadar, dari mana sebenarnya barang-barang yang kita konsumsi ini berasal.

Misalnya, barang-barang esensial seperti pakaian dan smartphone pun lebih banyak datang dari produk impor. Padahal, Indonesia memiliki tenaga kerja yang berlimpah. Sayangnya, tenaga kerja ini justru lebih sering dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan luar negeri untuk mendapat buruh murah agar bisa menekan biaya produksi. Brand-brand pakaian luar negeri yang kita gunakan, mungkin saja sebenarnya dibuat di Indonesia oleh tenaga kerja Indonesia, tapi lalu dikirim kembali ke luar negeri dan dijual kembali ke sini dengan harga yang tentu saja lebih mahal.

Sebenarnya, hampir mustahil bagi sebuah negara untuk 100 persen bergantung pada produk dalam negeri, akibat dari keterbatasan sumber daya tadi. Tapi, dengan kondisi negara di mana industrinya masih bertumbuh seperti Indonesia, kebutuhan untuk barang impor menjadi semakin besar. Pemerintah memang seharusnya mendukung UMKM lokal, tapi bukan hanya dengan membeli produk mereka. Dukungan dari segi modal, infrastruktur, dan payung hukum yang menjamin kesejahteraan pekerja juga penting agar industri bisa berkembang. Jika ini tidak dilakukan terlebih dahulu, maka akan sulit bagi Indonesia untuk menjadi negara produsen. Dan tentu saja, kita tidak akan bisa lepas dari barang impor, walau sehari saja.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)