Insight | General Knowledge

Menelusur Kerja Sama Tesla dan Indonesia

Sabtu, 14 May 2022 15:00 WIB
Menelusur Kerja Sama Tesla dan Indonesia
Foto: pexels pixabay
Jakarta -

Kabar kerja sama antara Tesla dan Indonesia kembali menyeruak ke permukaan. Pembahasan mengenai investasi yang akan dilakukan Tesla di Tanah Air ini, menjadi santer diperbincangkan semenjak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Manves), Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan beserta rombongan, melakukan kunjungan ke markas Tesla Inc. di Texas, Amerika Serikat (26/4/22).

Pada kunjungannya tersebut, Menko Manves, Luhut Panjaitan, terlihat bertemu dengan Elon Musk, CEO Tesla Inc. di Gigafactory Tesla. Melalui laman Instagram pribadinya, Luhut menyampaikan bahwa agenda pertemuannya dengan Elon bertujuan untuk memaparkan potensi industri nikel yang ada di Indonesia. Menurutnya, industri nikel di Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai pemasok rantai kebutuhan energi listrik global   yang mana memang menjadi fokus investasi dari Tesla Inc..

Pembahasan mengenai keberlangsungan kerja sama Tesla dengan Indonesia ini juga dikabarkan akan terus dibahas dalam beberapa waktu ke depan. Kemudian, Luhut juga menuliskan, bahwa Elon Musk diagendakan untuk segera bertemu dengan Presiden Joko Widodo, pada kunjungan kenegaraan Jokowi ke Amerika Serikat pertengahan Mei ini. Selain itu, Luhut bahkan turut mengundang Elon Musk datang ke Indonesia, untuk bisa menghadiri rangkaian perhelatan forum G-20.

Sekilas Jejak Rencana Kerja Sama Tesla-Indonesia
Sedikit menilik ke belakang, sebenarnya kabar investasi Tesla di Indonesia bukanlah wacana yang baru digadang-gadangkan. Sejak tahun 2020 lalu, Tesla telah menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia, seperti wacana investasi proyek pengembangan energy storage system (ESS). Namun begitu, kesimpangsiuran investasi Tesla di Indonesia justru berlangsung sampai saat ini, sehingga kesepakatan kerja antara keduanya tidak kunjung terealisasi.

Ketidakjelasan rencana kerja sama antara Tesla dan Indonesia, disinyalir terjadi karena beberapa hal. Mulai dari beralihnya investasi ESS Tesla ke Australia, belum jelasnya jenis investasi dari pihak Tesla, hingga wacana Tesla yang lebih memilih India sebagai negara pemasok nikel ketimbang Indonesia.

Sementara itu, Tesla sendiri pernah mengungkapkan prasyarat ketat dalam investasi mereka. Dengan tegas, Tesla menyatakan sikapnya untuk hanya berinvestasi pada negara penghasil nikel yang menggunakan teknologi ramah lingkungan. Di sisi lain, merujuk pengakuan Menko Manves, Luhut Panjaitan, kealotan kerja sama Tesla-Indonesia lebih disebabkan oleh sikap Tesla yang mencoba terlampau mendikte Indonesia.

Untung-Rugi Investasi Industri Nikel di Indonesia
Setelah dua tahun simpang-siur, kesepakatan kerja sama Tesla-Indonesia tampaknya akan segera terealisasikan. Hal ini terlihat dari semakin seringnya interaksi antara kedua pihak, yang kebanyakan menghasilkan kabar-kabar positif. Merespon proses jalinan kerja sama Indonesia dengan Tesla, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Tesla Inc. akan merugi jika tidak berinvestasi di Indonesia. Sebab, Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang sangat besar.

"Cadangan bijih nikel Indonesia mencapai 25% atas cadangan nikel dunia. Kita juga punya mangan. Kan ada empat komponen baterai mobil listrik, mangan, kobalt, nikel, dan lithium. Tiga di antaranya itu ada di Indonesia," kata Bahlil, dilansir dari cnbcindonesia.com. Bahlil juga menambahkan, mepetnya Tesla ke Indonesia diduga kuat karena tidak mau ketinggalan dari produsen energi listrik global lain, yang telah lebih dulu berinvestasi di Indonesia.

Terlepas dari drama kerjasama Tesla Inc. di Indonesia, banyak pihak yang mengharapkan agar investasi ini segera terealisasi. Apalagi dengan kekayaan sumber daya alam yang kita miliki, Indonesia jelas berpotensi untuk menjadi penghasil sumber daya listrik ramah lingkungan, sekaligus menjadi produsen mobil listrik yang produktif, khususnya bagi regional Asia.

Namun begitu, melimpahnya sumber daya nikel yang Indonesia miliki turut menghadirkan kecemasan baru. Yakni kerentanan eksploitasi sumber daya alam, sebagaimana yang saat ini kerap terjadi pada bisnis pertambangan lain di Indonesia. Oleh karena itu, faktor pertambangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, perlu diprioritaskan. Jadi, sekalipun investasi Tesla Inc. di Indonesia menjanjikan keuntungan berlimpah, diperlukan sikap waspada saat mengawal keberlangsungannya kelak. Hal ini menjadi penting, demi memastikan nihilnya dampak buruk investasi industri sumber daya alam, yang seringkali menimpa masyarakat dan alam Indonesia.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/MEL)