Interest | Fashion

Prada dan Rencana Baru Sustainability-nya

Kamis, 07 Jul 2022 14:11 WIB
Prada dan Rencana Baru Sustainability-nya
Jakarta -

Rumah mode mewah asal Milan-Prada-meningkatkan upaya sustainability-nya dengan mencoba menurunkan jejak karbon, menggunakan lebih banyak bahan nilon daur ulang dan mencari alternatif untuk bahan kulit. Hal ini dikarenakan pada tahun 2020, Prada mendapat skor di bawah rekan-rekannya dalam masalah lingkungan dan tertinggal dalam perihal tata kelola, menurut skor ESG (Environmental, Social and Corporate Governance) yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Lorenzo Bertelli, kepala tanggung jawab sosial perusahaan Prada, mengacu pada CDP, sebuah organisasi non-profit yang mengukur dampak lingkungan perusahaan mengatakan bahwa Prada menerima B minus untuk CDP saat ini dan mereka ingin menjadi 'A' sesegera mungkin. Lorenzo Bertell yang merupakan calon CEO Prada adalah putra Patrizio Bertelli dan Miuccia Prada, yang bersama-sama mengubah perusahaan yang berbasis di Milan itu menjadi salah satu merek fashion paling bergengsi di dunia. Lorenzo Bertelli bergabung dengan dewan direksi Prada pada tahun 2021 dan ia juga merupakan seorang anggota komite tingkat dewan yang berfokus pada isu-isu keberlanjutan lingkungan dan sosial.

Prada telah bergerak untuk meningkatkan kredensial kemampuan sustainability-nya dalam beberapa tahun terakhir. Pada November 2021, Prada mengatakan akan menggunakan lebih banyak bahan yang berdampak rendah untuk lingkungan dalam produk dan kemasannya, serta berupaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebagai bagian dari dorongan netralitas karbon. Salah satu contohnya adalah perilisan koleksi Re-Nylon yang merupakan koleksi tas pria dan wanita yang diluncurkan tiga tahun lalu. Produk ini terbuat dari benang nilon yang diperoleh dengan mendaur ulang plastik bekas yang dikumpulkan dari tempat pembuangan sampah dan lautan. Sejak akhir tahun 2021, Prada telah mengubah semua produksi nilon murni menjadi nilon yang diregenerasi.

Prada mengatakan bahwa para ilmuwannya kini sedang mencoba menemukan bahan ramah lingkungan lainnya, terutama karena pembeli generasi muda menuntut produk yang lebih sustainable. Tapi kulit yang merupakan bahan andalan untuk koleksi tas, jaket, dan sepatu Prada bukanlah hal yang mudah untuk diganti. "Today, there is no solution in place for scaling back real leather. There are fake leathers but that's different. The culture is changing, but it will take time." ungkap Lorenzi Bertelli.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/MEL)