Interest | Wellness

Bagaimana Cara Kerja Birth Control Patch?

Sabtu, 06 Aug 2022 18:00 WIB
Bagaimana Cara Kerja Birth Control Patch?
Foto: Patchbirth/Newsmedical
Jakarta -

Kita tahu bahwa terdapat banyak metode kontrasepsi yang digunakan oleh masyarakat, mulai dari kondom, pil kontrasepsi hingga IUD atau intrauterine device. Namun, tahukah kamu bahwa ada pula alat kontrasepsi yang berupa patch atau tempelan di kulit saja? Ya, alat kontrasepsi yang satu ini disebut dengan birth control patch.

Birth control patch adalah tambalan perekat kecil yang ditempel pada kulit. Alat ini digunakan untuk mencegah kehamilan dengan memberikan kontrasepsi hormonal melalui kulit. Sama halnya dengan pil kontrasepsi oral, birth control patch ini melepaskan hormon ke dalam aliran darah untuk mencegah ovarium melepaskan sel telur. Alat kontrasepsi yang satu ini dipakai selama 3 minggu berturut-turut dan diganti setiap seminggu sekali. Namun, pada minggu keempat, birth control patch tidak perlu digunakan, paling tidak saat sedang mengalami menstruasi.

Alat kontrasepsi yang berbentuk birth control patch ini dapat ditempatkan di bokong, bahu, punggung atas, lengan, dan perut. Namun, birth control patch tidak bisa direkatkan di bagian payudara. Hal ini dikarenakan barang-barang yang mengandung estrogen atau progesteron tidak boleh diletakkan di payudara karena dapat munculnya risiko kanker payudara. Tidak hanya itu, birth control patch juga disarankan untuk tidak direkatkan pada bagian tubuh di mana pakaian ketat bergesekan, dan area sensitif yang dapat mengakibatkan teriritasi. Selain itu, birth control patch juga harus digunakan di tempat yang berbeda pada setiap minggu agar kulit tidak mudah teriritasi.

Lalu, bagaimana cara birth control patch bekerja pada tubuh?

Birth control patch yang ditempelkan ke kulit dapat melepaskan hormon yang diserap oleh pori-pori untuk dialirkan ke darah. Hormon yang terdapat di dalam patch ini merupakan zat kimia yang dapat mengontrol fungsi organ tubuh. Zat kimia tersebut mengandung kombinasi antara hormon progesteron dan estrogen untuk mencegah ovulasi—pelepasan sel telur dari ovarium.

Kedua hormon yang terdapat di dalam birth control patch ini juga dapat mengentalkan lendir yang diproduksi di leher rahim, sehingga sulit bagi sperma untuk masuk dan mencapai sel telur yang mungkin telah dilepaskan. Tidak hanya itu, hormon tersebut juga dapat mempengaruhi lapisan rahim sehingga jika sel telur dibuahi maka akan sulit untuk menempel pada dinding rahim.

Alat kontrasepsi ini namun tidak direkomendasikan untuk wanita di atas usia 35 tahun yang aktif merokok. Hal ini dikarenakan merokok dapat meningkatkan risiko efek samping yang serius dari penggunakan birth control patch, seperti stroke, serangan jantung dan pembekuan darah. Tidak hanya itu, penggunaan birth control patch juga seharusnya dikonsultasikan terlebih dahulu kepada pihak profesional untuk mengetahui efektivitasnya terhadap kondisi kesehatan dan fisik setiap individu.

[Gambas:Audio CXO]



(DIP/DIR)