Interest | Wellness

Produk Kecantikan Pemutih Kulit dan Colorism Serta Bahayanya untuk Tubuh

Kamis, 04 Aug 2022 11:28 WIB
Produk Kecantikan Pemutih Kulit dan Colorism Serta Bahayanya untuk Tubuh
Foto: Karolina Grabowska/Pexels
Jakarta -

Pasti kamu sudah tidak jarang lagi melihat berbagai produk perawatan kulit yang mempromosikan khasiat untuk membuat kulit menjadi lebih terang. Biasanya, tagline yang digunakan dalam produk-produk ini adalah memutihkan kulit dalam kurun waktu yang singkat apabila digunakan secara berkala. Di Indonesia sendiri, produk-produk kecantikan seperti ini sudah sangat marak digunakan oleh masyarakat untuk mencapai impian mereka memiliki kulit yang putih dan cerah layaknya orang-orang barat maupun Asia Timur. Tanpa disadari, memiliki keinginan untuk memiliki warna kulit yang berbeda dari yang dimiliki adalah sebuah bentuk colorism atau diskriminasi warna kulit.

Dengan adanya keinginan dan usaha untuk memiliki warna kulit yang berbeda dari warna natural, hal ini adalah bentuk diskriminasi terhadap warna kulit asli yang dimiliki oleh seorang individu. Melakukan berbagai upaya untuk mengubah warna kulit menjadi lebih terang dengan menggunakan produk-produk lightening atau whitening berarti seseorang merasa bahwa kondisi fisik yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Sudah menjadi persepsi umum bahwa di Indonesia, masyarakat lebih menyukai warna kulit yang cerah layaknya orang Asia Timur dan Barat. Bahkan sebuah riset menyebutkan terdapat sebanyak 71,3% masyarakat Indonesia lebih memilih produk kosmetik yang memiliki label pemutih. Namun, mengapa masyarakat memiliki mindset mengenai kulit putih adalah suatu bentuk fisik yang lebih diinginkan dibandingkan warna kulit naturalnya?

Di Indonesia, kulit putih dianggap sebagai simbol status sosial, kekuasaan, kekayaan, dan terutama sekali kecantikan. Sehingga, perawatan kecantikan untuk memiliki kulit putih pun kian diburu hingga saat ini. Tidak hanya di Indonesia, di beberapa belahan dunia pun memiliki kecenderungan untuk beranggapan bahwa kulit putih merupakan suatu bentuk status sosial karena pengaruh sejarah. Salah satu bentuk sejarah yang mempengaruhi colorism hingga saat ini adalah perbudakan. Faktanya, pada zaman dahulu para budak bisa dipisahkan menjadi 'light-skin black' atau 'dark-skin black' oleh para penguasanya. Light-skin black memiliki privilese untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu berat seperti pekerjaan di dalam rumah, sedangkan para budak yang dikategorikan sebagai dark-skin black ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan di luar rumah yang membutuhkan kekuatan fisiknya.

Tidak hanya di budaya barat, sejarah di benua Asia pun juga menjunjung tinggi kulit putih dengan mengerahkan semua yang dapat mereka lakukan untuk mendapatkan kulit seputih mungkin. Di negara-negara Asia Timur, kulit putih pucat dianggap sangat diinginkan dan diagungkan semenjak 206 SM, bahkan sebelum standar kecantikan barat lahir. Sejarahnya, kulit gelap atau kecoklatan mengartikan bahwa seseorang datang dari golongan pekerja yang menghabiskan banyak waktunya di ladang, sedangkan kulit pucat datang dari orang-orang kelas atas atau bangsawan.

Terlepas dari sejarahnya, banyak orang yang secara tidak sadar tumbuh di dalam lingkup sosial yang menganggap bahwa kulit putih atau pucat lebih baik daripada kulit gelap, baik mereka mengetahui sejarahnya atau tidak. Sehingga, produk yang memiliki label dan klaim dapat memutihkan kulit selalu diserbu habis-habisan oleh masyarakat. Dilansir dari Exposure, produk pemutih kulit sangat booming setiap tahunnya dan tidak pernah sepi peminat, bahkan produk-produk ini diprediksi dapat memiliki keuntungan sebesar US$24 miliar pada tahun 2027.

Padahal, sangat banyak produk pemutih kulit yang beredar di Indonesia tanpa izin resmi dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) karena bahan-bahannya yang tidak memenuhi standar aman untuk diaplikasikan ke kulit manusia. Banyak produk pemutih kulit yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dan hydroquinone. Kedua bahan tersebut memang sangat sering digunakan oleh produk-produk yang memiliki klaim untuk memutihkan kulit namun tentunya, sangat berbahaya bagi kesehatan

Tidak hanya produk yang diaplikasikan langsung ke kulit, banyak pula masyarakat yang rela mengeluarkan uang lebih untuk terlihat lebih putih dengan mendatangi klinik-klinik kecantikan untuk mendapatkan injeksi pemutih. Injeksi pemutih yang biasa dilakukan orang-orang ini biasanya mengandung glutathione dan steroid yang memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan tubuh. Beberapa risiko yang dapat dialami adalah ruam kulit yang parah, bekas luka dan kerusakan pada sistem saraf. Tidak hanya itu, keduanya—baik produk kosmetik yang mengandung merkuri dan injeksi pemutih—juga dapat meningkatkan risiko kanker kulit dan kerusakan ginjal.

Padahal, hanya dengan merawat kulit agar terlihat sehat saja seharusnya sudah cukup untuk mendapatkan penampilan yang menarik. Untuk tampil cantik dan menarik, seseorang tidak harus selalu mengikuti beauty standard yang berlaku di lingkup sosialnya tanpa harus mengubah apa yang sudah dimiliki. Terlebih lagi bereksperimen dengan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Alih-alih memiliki kulit putih layaknya orang Barat atau Asia Timur, yang ada kamu hanya membahayakan kesehatan diri sendiri. Setelah mengetahui akan hal ini, akan lebih baik bagi kamu untuk lebih menghargai diri sendiri dan tidak mudah terbuai dengan embel-embel yang dipasarkan oleh produk-produk kecantikan.

[Gambas:Audio CXO]



(DIP/HAL)