Interest | Wellness

Mengapa Kita Suka Pilih-pilih Makanan?

Senin, 25 Jul 2022 12:00 WIB
Mengapa Kita Suka Pilih-pilih Makanan?
Foto: PEXELS COTTONBRO
Jakarta -

Semua orang memiliki makanan favoritnya. Namun, dalam kondisi tertentu, terkadang orang dihadapi dengan situasi dimana mereka tidak menyukai makanan yang telah dihidangkan, sementara tubuh tetap membutuhkan asupan energi dari makanan. Orang yang memiliki kondisi ini sering dikenal sebagai seseorang yang picky eater, dimana mereka sangat selektif terhadap makanan yang dapat mereka konsumsi.

Picky eating merupakan masalah yang umum terjadi pada anak-anak, sehingga terdapat kemungkinan bahwa kondisi ini terus terbawa hingga dewasa. Ada empat kategori picky eater, apakah kamu salah satunya? Simak di sini.

Sensory-dependent eaters
Dimana penderitanya tidak menyentuh makanan yang teksturnya tidak sesuai dengan yang mereka sukai atau yang biasa mereka makan. Mereka juga enggan untuk mengkonsumsi makanan yang memiliki bau tajam atau aneh.

Preferential eaters
Kategori ini terjadi saat orang sulit untuk makan makanan baru yang disajikan bersama dengan makanan kesukaannya.

General perfectionists
Mereka yang masuk ke dalam kategori ini hanya ingin makan jika tampilan makanan di piringnya terlihat sempurna. Semisal, susunan makanan tidak berantakan, tidak diaduk, ataupun tidak disentuh dengan tangan.

Behavioral responders
Kondisi dimana picky eater menginginkan letak makanan ada di posisi tertentu, misalnya nasi di tengah, sayur yang dipisah, atau hanya ingin memakan bagian kuning telur saja, dan lainnya.

Picky eating dapat disebabkan karena beberapa hal seperti faktor biologis dan memori atau pengalaman saat pertama kali mengkonsumsi makanan.

Saat kecil, kita mungkin sudah memiliki kebiasaan pilih-pilih makanan. Sehingga ada beberapa makanan yang tidak kita sukai, entah itu karena rasanya atau karena cara pengolahannya membuat makanan itu tidak enak. Namun, studi baru menemukan bahwa picky eater mungkin berasal dari faktor genetika. Studi yang dipublikasi oleh the American Society for Nutrition conference menyatakan bahwa genetika dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang dan risiko penyakit terkait diet tertentu.

Terdapat gen yang menyebabkan kita lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, bau, warna, dan bentuk sebuah makanan. Gen yang menentukan seberapa kuat orang dapat merasakan pahit dan gurih dapat mempengaruhi kualitas diet secara keseluruhan, sementara gen yang berhubungan dengan rasa manis ditemukan lebih penting untuk kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Meski demikian, hal ini memerlukan studi lebih lanjut untuk mencapai konklusi yang utuh mengenai gen dan kebiasaan makan.

Faktor lain yang berkontribusi pada picky eater adalah pengalaman pada suatu makanan yang pernah dicoba dahulu. Semisalnya, ketika pertama kali memakan mangga yang terlalu asam, dapat menumbuhkan perasaan enggan untuk mencobanya lagi. Seperti ada memori yang melekat terhadap sebuah makanan sehingga menghindari untuk mengkonsumsinya di masa yang akan datang. Selain itu, kebiasaan memakan makanan yang kita inginkan tanpa mencoba makanan baru juga dapat mendorong orang menjadi picky eater.

Menjadi picky eater dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan, namun kehidupan sosial seseorang. Selain nutrisi makanan yang belum tentu dapat terpenuhi karena hanya ingin mengkonsumsi makanan yang disukai, picky eater juga akan menyulitkan si penderita saat berkumpul bersama dengan teman-teman, kolega, atau keluarga karena munculnya kesulitan untuk menikmati makanan yang telah dihidangkan di depan mata.

[Gambas:Audio CXO]



(HAI/DIR)

Author

Hani Indita