Interest | Wellness

Busting Myths: Birth Control Pills

Jumat, 10 Jun 2022 20:00 WIB
Busting Myths: Birth Control Pills
Ilustrasi Pil KB Foto: Shutterstock
Jakarta -

Seperti namanya, birth control pill atau Pil KB adalah salah satu jenis kontrasepsi untuk wanita dengan tujuan untuk mencegah kehamilan. Pil KB ini berguna untuk mencegah kehamilan dengan kandungan hormon yang terdapat di dalamnya. Pil ini digunakan secara oral melalui mulut sebanyak sekali sehari dan akan efektif apabila dikonsumsi secara efektif dan konsisten pada waktu yang sama di setiap harinya. Pil KB ini dapat mencegah kehamilan dengan menghentikan atau mengurasi ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium), mengentalkan lendir serviks agar sperma tidak masuk ke dalam rahim, serta menipiskan lapisan rahim sehingga sel telur yang dibuahi lebih kecil kemungkinannya untuk menempel.

Ada dua jenis pil KB yang berbeda. Kedua jenis tersebut mengandung hormon yang mencegah kehamilan, mulai dari pil kombinasi mengandung estrogen dan progestin dan pil yang hanya mengandung progestin yang juga disebut Minipill atau "pil mini". Minipill lebih cocok dikonsumsi untuk beberapa wanita, seperti mereka yang sedang menyusui atau memiliki riwayat pembekuan darah dan stroke dan yang tidak boleh mengonsumsi estrogen.

Terlepas dari kegunaannya, banyak pula perempuan yang mengonsumsi pil KB ini bukan hanya untuk mencegah kehamilan. Bahkan, tidak jarang pula bagi mereka yang mengonsumsi pil KB ini mendapatkan stigma yang buruk oleh masyarakat. Padahal, terdapat banyak kegunaan lainnya dari pil KB ini untuk wanita yang bukan hanya ingin mencegah kehamilan. Berikut ini adalah beberapa kondisi hormon yang membuat seorang wanita memutuskan untuk menggunakan birth control pill.

.Ilustrasi pil KB/ Foto: Karolina Grabowska - Pexels

PMS (Premenstrual Syndrome) dan PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder)

Berdasarkan penelitian, kurang lebih sekitar tiga perempat wanita cenderung menjadi mudah tersinggung, marah, atau tegang ketika mengalami menstruasi, hal ini biasanya dikenal sebagai PMS. Bahkan, sekitar 8 persen wanita memiliki kondisi yang lebih parah ketika sedang menstruasi, kondisi yang satu ini dikenal sebagai PMDD. Biasanya, bagi wanita yang mengalami masalah PMS atau PMDD yang cenderung parah, dokter akan memberikan pil KB atau pil hormon untuk mencegah menstruasi serta perubahan suasana hati.

Migrain

Banyak hal yang dapat memicu jenis sakit kepala yang satu ini, tetapi perubahan kadar estrogen dan progesteron dapat membuat situasi menjadi lebih buruk. Bahkan, kamu mungkin saja merasakan migrain yang lebih menyiksa sebelum atau selama masa menstruasi karena penurunan estrogen. Jika kamu mengkonsultasikan kondisi ini ke dokter, kamu mungkin saja disarankan untuk meminum birth control pills agar tidak mengalami menstruasi sehingga tingkat hormon pun tetap stabil.

.Ilustrasi kram menstruasi/ Foto: Freepik

Menstrual Cramps yang Terlalu Menyakitkan

Kram perut kala menstruasi yang intens bisa berarti kamu memiliki kondisi yang disebut dismenore. Rasa sakit ini disebabkan oleh bahan kimia yang terbentuk di rahim yang memicu kontraksi otot. Dengan mengonsumsi pil setelah disarankan oleh dokter, pil KB ini dapat mencegah pelepasan sel telur, yang disebut ovulasi. Dengan demikian rahim tidak akan terasa terlalu sakit karena menghasilkan lebih sedikit bahan kimia yang menjadi penyebab utama rasa sakit tersebut (prostaglandin).

Periode Menstruasi yang Tidak Teratur dan Berlebihan

Ketika tubuh tidak membuat cukup progesteron, kamu bisa saja mengalami periode menstruasi yang tidak teratur dengan jarak yang jauh. Hal ini tentunya memungkinkan lapisan rahim menjadi menumpuk, dan ketika akhirnya menstruasi datang, darah yang keluar akan sangat banyak. Pil KB tentunya dapat menangani masalah ini karena progesteron di dalamnya yang dapat membantu menjaga lapisan rahim menjadi lebih tipis sehingga flow menstruasi tidak berlebihan.

Tidak hanya itu saja, ada pula beberapa alasan lainnya yang membuat seorang wanita mengonsumsi pil KB selain untuk mencegah kehamilan. Mulai dari mencegah anemia dengan membuat periode menstruasi menjadi lebih ringan dan pendek, mengobati sindrom Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), mengobati endometriosis atau fibroid rahim, menurunkan risiko kanker ovarium, kanker rahim dan kanker usus besar, menghentikan pertumbuhan rambut yang tidak diinginkan hingga mengontrol masa transisi ke menopause.

.Ilustrasi birth control pills/ Foto: Freepik

Efek Samping dan Risiko

Sebagian besar wanita tidak memiliki masalah saat menggunakan alat kontrasepsi yang satu ini, tetapi mungkin saja kamu dapat mengalami menstruasi yang tidak teratur dan perubahan suasana hati serta berat badan, terutama selama beberapa bulan pertama mengonsumsinya. Meskipun tidak begitu umum, pembekuan darah pun juga mungkin saja terjadi. Karena hal itulah, apabila kamu memiliki keluhan mengenai kondisi tertentu yang berhubungan dengan menstruasi atau seputar kesehatan rahim, alangkah baiknya bagi kamu untuk mengkonsultasikannya terlebih dahulu ke dokter untuk menemukan jalan keluar yang tepat, baik itu menggunakan birth control pills atau tidak.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/HAL)