Interest | Wellness

Sekilas Tentang Teeth Grinding alias Bruksisme Saat Tertidur

Sabtu, 23 Apr 2022 20:00 WIB
Sekilas Tentang Teeth Grinding alias Bruksisme Saat Tertidur
Jakarta -

Saat tertidur, manusia tidak lagi memiliki kuasa sadar atas tubuhnya. Perilaku manusia ketika tertidur justru lebih sering diisi respon dari alam bawah sadar, dan/atau gejala fisik yang kausal, seperti halnya bermimpi, mengigau, mendengkur, hingga menggeretakkan gigi. Tidak jarang, hal-hal yang kita lakukan saat tertidur itu malah mengganggu kualitas tidur kita sendiri atau bahkan orang lain. Misalnya, bebunyian ngilu akibat menggeretakkan gigi saat tertidur.

Teeth grinding atau menggeretakkan gigi dikenal dengan istilah bruksisme, yaitu perilaku mengatupkan rahang secara berlebihan, yang menimbulkan bunyi intens dari gigi akibat tekanan dan gesekan. Dr Robert Wassell dalam bukuĀ Applied Occlusion menyebutnya sebagai aktivitas parafungsional oral. Sementara penyebab utama teeth grinding secara umum belum bisa disebutkan karena banyak faktor berkaitan yang bisa menyebabkan tiap episodenya.

Sebenarnya, bruksisme juga dilakukan oleh orang yang terjaga. Dunia medis menyebutnya dengan awake clenching. Namun begitu, menurut Jurnal Rehabilitasi Mulut, sleep bruxism memiliki perbedaan yang mendasar dengan awake clenching. Kemudian, episode bruksisme saat tertidur disinyalir berkaitan dengan sistem saraf pusat, yang melibatkan gangguan tidur; kelainan neurotransmitter; adanya keabnormalan pada gigi, seperti ompong atau patah; hingga disebabkan oleh nyeri pada otot sekitar bagian wajah dan kepala.

Jika kita melihat dari kacamata yang lebih luas, bruksisme pada manusia saat tertidur sebenarnya merupakan perilaku umum; karena pelakunya menyentuh angka 8-30% dari populasi. Namun hanya ada 5% di antaranya yang mencapai bruksisme kronis. Selain itu, apabila bruksisme tidak ditanggulangi dengan bijak, maka akan menyebabkan beberapa hal. Seperti keausan pada gigi, yang membuatnya semakin rentan dan lebih berisiko untuk rusak dan tanggal. Kemudian, efeknya juga menyasar pada otot dan tulang yang berada di sekitarnya, seperti rahang dan bagian kepala.

Sementara itu, terdapat beberapa cara untuk menghilangkan kebiasaan bruksisme ketika tertidur. Misalnya menggunakan alat bantu oral seperti pelindung gigitan oklusal, yang berfungsi mereduksi gesekan pada gigi. Alat pelindung ini memang tidak otomatis menghentikan bruksisme, tetapi bisa mereduksi geretakan terus menerus yang mengarah pada keausan gigi. Selanjutnya, beberapa teknik relaksasi juga bisa dimanfaatkan pada permasalahan ini. Melalui terapi-terapi kognitif, ketegangan otot-otot sekitar gigi bisa berkurang secara perlahan. Solusi lain yang bisa ditempuh dari permasalahan ini adalah memperbaiki keabnormalan struktur gigi, yang menjadi penyebab gangguan. Atau, para pengidap bruksisme saat tidur juga bisa menerapkan pola hidup yang baik dan benar, sehingga bisa mengurangi kemungkinan episode sleep bruxism. Salah satunya dengan tidak mengkonsumsi kafein di sore atau malam hari.

Itulah sekilas pembahasan mengenai bruksisme, atau teeth grinding, atau gigi gemeretak. Jika kamu atau orang di sekitarmu mengidap bruksisme dan ingin menanggulanginya, maka langkah-langkah di atas sepertinya patut untuk kamu coba. Pasti capek 'kan, krenyet-krenyet setiap tidur?

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)