Interest | Wellness

Perfeksionisme yang Sering Bikin Cemas

Senin, 04 Apr 2022 16:00 WIB
Perfeksionisme yang Sering Bikin Cemas
Jakarta -

Apakah kamu sering berusaha keras untuk memenuhi standar yang sangat tinggi yang kamu tentukan sendiri dan suka mengkritik diri sendiri dalam hal itu? Mungkin kamu adalah seseorang yang perfeksionis. Selain kedua tanda di atas, ciri-ciri lain yang dilihat oleh profesional kesehatan mental dalam mengidentifikasi perilaku dan pola pikir seseorang yang perfeksionis antara lain memerlukan ketertiban dan kerapian dalam berbagai hal, khawatir akan kesalahan yang dibuat, serta memiliki kepekaan tinggi terhadap kritik. Terkadang, mereka juga menetapkan standar tinggi yang tidak realistis untuk orang yang dianggap penting dalam hidup mereka.

Jadi apa itu perfeksionisme? Dilansir dari VeryWellMind, perfeksionisme adalah "keinginan untuk menjadi orang yang sempurna atau tanpa cacat dalam berbagai aspek, baik dalam kehidupan internal atau eksternal seseorang." Menjadi sempurna itu harus. Perfeksionisme pun melibatkan standar yang sangat tinggi untuk dicapai dan berlebihan dalam melihat detail. Hal ini dianggap sebagai aspek kepribadian seseorang.

Di satu sisi, perfeksionisme dapat menjadi faktor pendorong dalam mencapai tujuan kita dengan melatih diri untuk terus menjadi lebih baik dan berusaha lebih keras untuk mewujudkan keinginan. Namun, di sisi lain, banyak orang perfeksionis sering terjebak dalam karakteristik selalu ingin menetapkan standar yang sangat tinggi, dan kaku. Keinginan ini sering kali membuat seseorang kecewa berat jika dihadapkan pada kegagalan, dan berujung pada mengevaluasi diri dengan konotasi yang negatif.

Selain itu, mereka cenderung tidak mau berinovasi karena belum mengetahui kepastian dari hasil akhirnya. Hal ini membuat perfeksionisme dapat menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan (anxiety). Perfeksionisme dan kecemasan pun sering berjalan beriringan. Orang-orang yang telah didiagnosis dengan kecemasan cenderung menunjukkan sifat yang lebih perfeksionis daripada rata-rata orang.

Perfeksionisme biasanya juga dapat dimotivasi oleh rasa takut, seperti mengkhawatirkan bagaimana orang lain memandang kita. Sebagai contoh, kita mungkin langsung berasumsi bahwa orang lain tidak akan menerima kita jika mereka tahu tentang kondisi atau kekurangan kita. Hal ini salah satunya diidentifikasi dengan ketakutan yang mereka hadapi ketika kualitas kinerja tidak sempurna. Pada akhirnya, mereka akan sulit menerima kritik dan menjadi defensif. Kurangnya rasa percaya diri pada seorang perfeksionis juga menjadi faktor besar dalam hal ini. Maka akan muncul pola perilaku sering menghindar, kesepian dan terisolasi, dan bahkan depresi.

Kecemasan dan gejala gangguan panik (panic attack) lainnya akan sulit dikelola oleh seorang perfeksionis. Untuk mengatasinya, mulailah dengan belajar menghargai diri sendiri lebih lagi untuk melepaskan kecemasan yang sering menghantui. Jika kita menilai diri kita dengan seberapa sempurna kita melakukan berbagai peran dalam hidup, harga diri kita mungkin jatuh ketika tujuan itu tidak terpenuhi. Kita akan menjadi kecewa berat dengan diri sendiri. Stop terus-menerus mengkritik diri dan menaruh beban pada diri sendiri karena kesalahan yang dilakukan maupun tindakan lain yang dikerjakan. Mulailah meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri. Kita dapat lebih aktif bersosialisasi dan berbagi cerita dengan orang-orang terdekat mengenai hal-hal yang membuat kita cemas, me time dan melakukan perawatan diri, ataupun meningkatkan kontribusi sosial seperti membantu orang yang membutuhkan. Dari sini, kita dapat perlahan mulai melepaskan stres. Perasaan stres dapat menguras energi, berpotensi meningkatkan kecemasan, dan mempengaruhi gejala panik lainnya. Mari belajar untuk melepaskan cemas yang berhubungan dengan perfeksionisme.

[Gambas:Audio CXO]



(SAS/HAL)