Interest | Wellness

Tren Healing yang Berujung Escaping

Selasa, 18 Jan 2022 15:21 WIB
Tren Healing yang Berujung Escaping
Jakarta -

Memang tidak dapat dimungkiri bahwa setiap orang membutuhkan healing atau self-healing untuk mengatasi berbagai masalah yang kerap mengganggu pikiran dan perasaan atau batin. Mulai dari perihal keluarga, percintaan maupun pekerjaan. Healing atau self healing itu sendiri didefinisikan sebagai suatu personal experience atau penyembuhan setelah mengalami suatu luka batin atau penderitaan tertentu dengan melakukan berbagai kegiatan yang dapat menggantikan pikiran atau perasaan negatif menjadi positif.

Luka batin itu sendiri dapat berasal dari banyak hal, baik trauma masa kecil, suatu kekecewaan mendalam hingga kecemasan yang berlebihan. Kegiatan yang dilakukan untuk healing pun beragam, mulai dari memproyeksikannya ke hal yang konstruktif seperti menulis atau bahkan melakukan me time hingga membiarkan emosi dan kesedihan mengalir begitu saja. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melupakan hal-hal yang membebani pikiran dan menyakiti batin.

Tren healing ini memang merupakan hal yang sangat wajar dan cenderung penting untuk dilakukan apabila memang kamu merasa bahwa masalah atau kesedihan yang dialami sangat amat membebani dan mengganggu pikiran sehingga aktivitas sehari-hari pun menjadi tidak maksimal dan terpengaruh akan hal ini. Maka dari itulah, istilah 'a short escape from reality' mulai diasosiasikan dengan healing. Memang bukan hal yang salah apabila kamu melakukan an escape from reality for a while to get yourself back on track, namun jangan sampai healing menjadi suatu hal yang justru membuat kamu benar-benar kabur dari kenyataan dan melepas semua tanggung jawab yang dimiliki. Pasalnya, banyak orang yang lari dari realita serta menelantarkan kewajibannya sebagai seorang individu dengan kedok self healing.

Self healing yang membuat kita harus rehat sejenak dari pikiran ataupun keadaan yang sangat menekan batin memang sangat direkomendasikan to put yourself back together serta mengembalikan semangat. Namun, jangan salah mengartikan self healing untuk menjadi suatu alasan untuk kabur dari kenyataan hanya karena kamu merasa penat dan juga bosan dengan lingkungan sekitar, karena hal ini bukanlah merupakan esensi dari self healing itu sendiri. Bukannya healing, yang ada kamu malah escaping. Meskipun memang escapism layaknya garam dan gula yang ditaburkan di atas kehidupan, apabila berlebihan pastinya akan merusak kehidupan yang kamu miliki.

Meskipun memang setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk berproses ketika self healing, penting bagi kamu untuk tetap berpegang teguh bahwa kegiatan yang kamu lakukan untuk healing tersebut hanyalah sebuah proses yang hanya sesaat dan tidak selamanya. Apabila bentuk self healing kamu adalah dengan meluapkan emosi yang tertahan, ingatlah bahwa kamu tidak bisa selamanya membiarkan diri kamu terlalu sering dan terlalu dalam meluapkan emosi yang kamu rasakan tersebut secara berkelanjutan. Begitu pula dengan kamu yang memilih self healing dengan berlibur sebagai bentuk me time. Perlu diingat bahwa tidak selamanya kehidupan akan semenyenangkan tempat wisata atau senyaman hotel mewah karena kamu hanya sedang berada dalam proses penyembuhan yang nantinya akan membawa kamu kembali ke realita kehidupan.

Escaping from your disappointment to find tranquility is a part of healing process, tapi perlu diingat lagi bahwa tidak selamanya realita kehidupan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan sehingga healing ini bukanlah sebuah finish line, but a stop for you to rest for a while before continuing your long life journey.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/HAL)