Insight | Science

Belajar dari Kasus Mario Dandy: Sadarkah Otak Kita Saat Melakukan Kejahatan?

Senin, 27 Feb 2023 18:42 WIB
Belajar dari Kasus Mario Dandy: Sadarkah Otak Kita Saat Melakukan Kejahatan?
Ilustrasi tindak kriminal Foto: Freepik
Jakarta -

Kasus yang melibatkan anak mantan pejabat Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak, Mario Dandy, menyita perhatian publik beberapa hari ke belakang. Bagaimana tidak, pria berumur 20 tahun itu tega memukuli anak salah satu kader GP Ansor, David yang masih berusia 17 tahun sampai koma hingga saat ini.

Tak sampai di situ, di media sosial beredar sebuah video yang menunjukkan seperti apa Mario Dandy memukul David sampai akhirnya terkapar di jalan dan tak bergerak. Bahkan di video yang berdurasi kurang dari 1 menit itu pun terdengar Mario Dandy mengatakan bahwa ia tidak takut kalau korban akhirnya meninggal akibat pukulannya.

Sontak video dan pernyataan itu pun memicu komentar netizen dan rasa tidak percaya bahwa itu bisa dilakukan oleh seorang anak pejabat. Ada yang mengatakan kalau apa yang dilakukan oleh pelaku tidak dipikirkan dengan baik dan cenderung impulsif. Mereka pun bertanya-tanya apakah Mario Dandy menyadari perilakunya akan membahayakan orang lain bahkan dirinya sendiri.

Tak hanya Mario Dandy, terkadang kita pasti bertanya-tanya, apakah pelaku kriminal sadar apa yang dilakukannya akan merugikan dirinya dan melukai orang lain? Padahal sebagai manusia kita telah dibekali otak dan pikiran yang bisa kita kontrol untuk melakukan apapun yang kita inginkan.

Ada yang bilang bahwa ketika seseorang melakukan tindak kriminal, ia tidak menyadari apa yang dilakukannya. Bahkan sebagian besar mengaku hanya khilaf dan tidak sadar ketika melakukan kejahatan tersebut. Tetapi benarkah orang-orang ini merasa kehilangan kesadarannya ketika melakukan tindak kriminal ini?

.Ilustrasi Otak/ Foto: Natasha Connel/Unsplash

Niat Kriminal Bisa Diukur dari Resonansi Otak

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pemindaian otak bisa membedakan antara niat kriminal yang nyata dan perilaku sembrono saja, tetapi pendekatannya masih jauh dari siap untuk ruang sidang. Liane Young, seorang psikolog Boston College, mengatakan studi ini dinilai tidak biasa karena melihat langsung ke otak orang yang terlibat dalam perilaku menyimpang.

Para peneliti yang dipimpin oleh Read Montague, ahli syaraf di Virginia Tech Carilion Research Institute, Roanoke dan University College London, mencoba menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), yang bisa mengukur aktivitas otak berdasarkan aliran darah. Mereka mencoba menganalisis otak 40 orang   pria dan perempuan berusia 20an dan 30an   saat mereka melalui skenario yang disimulasikan mencoba menyelundupkan sesuatu melalui pos pemeriksaan keamanan. Kasusnya adalah mereka tahu kalau mempunyai selundupan dalam salah satu dari lima koper yang harus mereka pilih.

Hasilnya menunjukkan kalau ada pola aktivitas otak yang khas ketika orang tersebut mengetahui dengan pasti bahwa koper yang berisi barang selundupan dan ketika mereka hanya tahu ada kemungkinan itu. Uniknya, ada kejutan yang tidak terduga. Pola otak yang berbeda itu hanya muncul ketika orang pertama kali diperlihatkan berapa banyak pos pemeriksaan keamanan yang dijaga, dan kemudian menawarkan koper.

Dalam hal itu, analisis komputer dari gambar fMRI dengan tepat mengklasifikasikan orang sebagai orang yang tahu (71 persen) atau orang yang ceroboh (80 persen). Meski begitu, Montague tidak yakin mengapa hasilnya bergantung pada urutan skenario yang dibuka. Ada kemungkinan, ada ambang batas untuk jumlah informasi yang dibutuhkan otak sebelum proses berpikir khusus yang terkait dengan kecerobohan muncul.

"Saya melihat ini sebagai bukti prinsip yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban," seperti kata Montague, yang mencatat bahwa timnya yang mengulangi percobaan beberapa kali dengan hasil yang sama.

Para pengacara yang mengerjakan penelitian itu pun kaget pada pernyataan bahwa hasilnya bergantung pada urutan kejadian, karena orang-orang terlibat dalam perilaku berisiko apapun urutannya. "Saya seorang ilmuwan, jadi saya seperti, 'Ini adalah bagian paling menarik dari apa yang kami temukan. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan ini," kata Montague.

Intinya, ketika seseorang melakukan kejahatan, sebenarnya mereka telah memikirkan jauh sebelumnya. Jadi mereka memiliki waktu untuk berpikir apa saja yang akan mereka lakukan kepada korban. Niat tersebut secara tidak sadar akan diolah oleh otak, kemudian tinggal bagian otak kita yakni Lobus Frontal   yang mengendalikan emosi dan perilaku   yang akhirnya mengeksekusi atau tidak.

Jika orang tersebut tidak dikuasai oleh emosi, walaupun di otaknya telah ada niat melakukan tindak kejahatan, namun mereka tetap bisa mengendalikan perilakunya. Terlepas sadar atau tidaknya seseorang dalam melakukan tindak kriminal, kejahatan akan terjadi jika memang ada niat dan keinginan kuat dari pelaku untuk melakukannya.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS