Insight | Science

Riset: 1 Miliar Anak Muda Berisiko Kehilangan Pendengaran

Kamis, 01 Dec 2022 12:00 WIB
Riset: 1 Miliar Anak Muda Berisiko Kehilangan Pendengaran
Foto: Unsplash
Jakarta -

Tiada hari tanpa musik, inilah potret keseharian anak muda masa kini. Di kereta komuter, di mobil, di motor, di bus umum, di kantor, di rumah, di mana-mana orang mendengarkan musik secara khidmat dengan bantuan earphones. Tak hanya saat sedang sendirian, musik juga hadir di keramaian saat anak muda menonton konser ataupun pergi ke klub bersama teman-temannya. Mendengarkan musik dengan volume keras pun akhirnya menjadi hal yang terbiasa bagi banyak remaja. Tapi, pernahkah kalian terpikirkan bahwa paparan terhadap musik dengan volume keras ini bisa memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap pendengaran?

Sebuah studi yang baru saja diterbitkan oleh BMJ Global Health menemukan bahwa lebih dari 1 miliar anak muda di seluruh dunia berisiko kehilangan pendengaran. Risiko ini timbul akibat tingginya jumlah anak muda yang mendengarkan musik secara tidak aman, baik ketika menggunakan personal listening device maupun ketika pergi ke tempat hiburan seperti klub atau konser.

.Ilustrasi pakai earphone/ Foto: Pexels

Studi ini menemukan bahwa di kalangan anak muda berumur 12-34 tahun, sebanyak 23,81% mendengarkan musik secara tidak aman melalui perangkat personal, sedangkan 48,2% mendengarkan musik secara tidak aman di lokasi hiburan dengan suara keras. Berdasarkan estimasi populasi global, jumlah ini bisa mencapai 1,35 miliar anak muda di seluruh dunia.

Risiko kehilangan pendengaran bergantung pada seberapa keras musiknya (volume) dan berapa lama kita terpapar dengan musik bervolume keras tersebut (durasi). Apabila kita terpapar dengan musik keras secara berulang, maka semakin tinggi risikonya. Lantas, bagaimana caranya mengetahui batas aman dan batas tidak aman dalam mendengarkan musik?

Risiko kehilangan pendengaran adalah permasalahan kesehatan global. Untuk mengantisipasi masalah ini, WHO meluncurkan kampanye Make Listening Safe yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta menetapkan standar aman dalam mendengarkan musik. Menurut WHO, standar aman mendengarkan musik menggunakan perangkat pribadi adalah di bawah 80 desibel dengan batas durasi 40 jam per minggu. Sementara itu, batas maksimum di venue hiburan adalah 100 desibel dengan interval waktu 15 menit. Besaran desibel dan durasi waktu di sini berbanding terbalik, semakin kecil desibelnya makan semakin lama durasi waktu yang menjadi batas maksimum.

.Ilustrasi earphone/ Foto: Pexels

Lalu, apa yang terjadi jika kita mendengarkan musik melebihi batas aman secara berulang-ulang? Mendengarkan musik dengan volume keras untuk periode waktu yang lama, apalagi secara berulang-ulang, bisa membunuh sel dan membran rambut di telinga bagian dalam (koklea). Akibatnya, seseorang bisa mengalami kehilangan pendengaran, tinnitus (muncul suara berdengung dari dalam telinga), atau keduanya.

Meski mendengarkan musik sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, tapi fenomena ini menunjukkan bahwa kita harus waspada terhadap dampak jangka panjang yang bisa timbul akibat mendengarkan musik keras-keras. Kunci untuk mencegah risiko ini adalah dengan membatasi exposure terhadap musik keras; bisa dengan mengurangi volume, mengurangi durasi saat mendengarkan musik, atau membatasi frekuensi pergi ke venue hiburan yang memutar musik keras.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS