Insight | Science

Terlintas Keinginan Melompat dari Gedung Tinggi, Normal Enggak Sih?

Senin, 20 Jun 2022 18:00 WIB
Terlintas Keinginan Melompat dari Gedung Tinggi, Normal Enggak Sih?
Ilustrasi call of the void Foto: Unsplash - Eric Mclean
Jakarta -

Pernahkah kamu berada di ketinggian, lalu melihat ke bawah dan terbesit pikiran "apa rasanya jika aku melompat ke bawah?" Atau mungkin kamu sedang duduk menikmati pemandangan dari atas tebing lalu tiba-tiba berpikir betapa mudahnya untuk melompat ke bawah. Timbulnya keinginan untuk melompat dari ketinggian secara tiba-tiba ini berbeda dengan tendensi untuk bunuh diri, melainkan fenomena sains yang disebut call of t he void.

Fenomena ini ternyata cukup umum dialami oleh banyak orang, bahkan di Prancis ada istilah khusus untuk menyebutnya yaitu l'appel du vide. Call of the void sendiri merupakan terjemahan bahasa Inggris dari ungkapan tersebut. Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan orang untuk memiliki tendensi call of the void, dan apakah ia bisa menandakan kondisi mental seseorang?

.Ilustrasi call of the void/ Foto: Pexels

Salah satu penelitian yang membahas mengenai call of the void diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders. Penelitian ini menemukan bahwa dari setengah dari mereka yang pernah mengalami fenomena ini tidak memiliki pikiran untuk bunuh diri. Sementara itu, 75 persen dari mereka yang pernah berpikiran untuk bunuh diri pernah mengalami fenomena ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan mutlak antara call of the void dengan keinginan untuk bunuh diri. Sebab, ada perbedaan yang signifikan antara berimajinasi melompat dari ketinggian dengan berkeinginan untuk merealisasikannya.

Tapi, bukan berarti call of the void sama sekali tidak berhubungan dengan kondisi mental seseorang. Call of the void lebih banyak terjadi pada mereka yang memiliki kecemasan atau anxiety. Jennifer Hames, peneliti yang memimpin studi mengenai call of the void mengatakan bahwa fenomena ini sebenarnya berkontradiksi dengan keinginan untuk mencelakakan diri sendiri. Sebab, call of the void bisa muncul karena alam bawah sadar seseorang mendorong mereka untuk bertahan hidup atau survival instincts. Sementara itu, orang yang memiliki kecemasan bisa salah dalam menafsirkan sinyal survival instincts tersebut. Sehingga yang terjadi adalah misinterpreted safety signal.

.Ilustrasi call of the void/ Foto: Pexels

Jadi ketika kamu sedang berada di ketinggian dan merasa ada keinginan untuk melompat, otakmu sebenarnya tidak sedang menyuruhmu untuk melompat. Melainkan, memberikan sinyal bahwa dirimu sedang ada dalam bahaya. Apabila kalian pernah mengalami call of the void, tidak perlu khawatir atau merasa tidak normal. Sebab call of the void tidak bisa diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengakhiri hidup.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)