Insight | Science

Alasan Kenapa Kita Bisa Melihat Wajah Manusia di Sebuah Benda

Selasa, 07 Jun 2022 11:17 WIB
Alasan Kenapa Kita Bisa Melihat Wajah Manusia di Sebuah Benda
Batu berbentuk wajah Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Sebagai penggemar klenik, masyarakat Indonesia memang gemar mencocok-cocokkan hal-hal di sekelilingnya dengan sesuatu yang berbau mistis. Kegemaran ini ditunjukkan beberapa kali melalui kejadian viral di mana warga gempar karena melihat wajah manusia dalam sebuah benda atau hewan. Salah satu yang paling teringat, tentu saja video ikan pari berwajah manusia. Konon katanya, ikan pari tersebut merupakan seorang anak durhaka yang terkena azab karena menendang ibunya yang sedang salat. Padahal, ikan pari tersebut adalah ikan pari asli berjenis Shovelnose Guitarfish.

Tapi ternyata, bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang suka melihat wajah manusia dalam objek-objek aneh. Seorang perempuan di Amerika Serikat mengaku mendapati wajah Bunda Maria dalam sebuah grilled cheese. Roti keju tersebut berhasil terjual di eBay seharga USD28000. Entah mengapa, wajah manusia bisa muncul di mana-mana, mulai dari noda di tembok hingga terukir di awan. Apakah ini hanya ilusi optik semata, atau kita sedang berhalusinasi?

.Wajah pria di batu/ Foto: Wikipedia

Melihat wajah manusia di benda mati sebenarnya merupakan fenomena sains yang disebut pareidolia. Dalam bahasa Yunani, pareidolia memiliki definisi "melampaui bentuk atau citra" yang artinya menemukan makna atau pola yang sebenarnya tak ada. Dalam model konvensional bottom-up, otak kita secara pasif memproses visual yang ditangkap oleh indra penglihatan. Maka bila otak kita menangkap wajah manusia di berbagai tempat yang tak wajar, mungkin itu karena ada stimulus visual yang secara kasar membentuk dua mata, hidung, dan mulut.

Tapi, pareidolia menunjukkan bahwa otak kita memiliki andil untuk menentukan objek apa yang sedang kita lihat. Kang Lee, seorang profesor psikologi terapan di University of Toronto mencoba membuktikan bahwa proses mengidentifikasi tanda-tanda visual tidak selalu berjalan secara bottom-up. Tetapi sebaliknya, otak kita juga mempengaruhi persepsi kita terhadap visual di sekeliling secara top-down. Untuk membuktikannya, Lee membuat sebuah penelitian. Dalam penelitian tersebut, para partisipan diminta untuk mengidentifikasi beberapa grainy images    beberapa di antaranya tersembunyi bentuk wajah dan sebagian lainnya murni merupakan gambar tak berbentuk.

.Wajah manusia di keran air/ Foto: Wikipedia

Hasilnya, para partisipan merasa mereka melihat wajah manusia sebanyak 34 persen dari total gambar yang ada-padahal tak ada bentuk apapun dalam gambar tersebut. Menariknya, meski tak ada wajah dalam gambar tersebut, hasil fMRI scan para partisipan menunjukkan bagian dari visual cortex mereka menyala. Lee pun menyimpulkan bahwa ada bagian dari otak yang mendorong visual cortex untuk "melihat" sebuah wajah, yaitu inferior frontal gyrus. Area dari otak ini berkaitan dengan bagaimana pikiran kita memproses ide, yang kemudian memberi instruksi kepada visual cortex.

Penelitian ini menunjukkan banyak hal yang kita lihat di sekeliling kita bukan berasal dari penglihatan yang sebenarnya, melainkan dari otak kita. Our minds see what we want to see. Jadi, munculnya wajah manusia di benda-benda yang tak lazim ini bukan karena fenomena mistis atau suatu mukjizat, melainkan karena kerja otak manusia.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)