Insight | Science

Apa yang Dimaksud dengan Logical Fallacies?

Minggu, 05 Jun 2022 20:00 WIB
Apa yang Dimaksud dengan Logical Fallacies?
Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels
Jakarta -

Satu hal yang membedakan manusia dengan binatang lainnya adalah akal budi. Hal ini dianugerahkan oleh Tuhan agar kehidupan manusia lebih teratur. Dalam memanfaatkan kemampuan berpikirnya, manusia harus mau dan mampu berpikir. Salah satunya dengan mempelajari bagaimana logika bekerja secara baik dan benar, agar tidak menghasilkan output yang buruk karena kekeliruan dalam berpikir dan logika yang cacat, atau yang juga dikenali dengan istilah logical fallacy.

Nyatanya, manusia yang mengaku berpikir memang tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan dalam berpikir. Logical fallacy umumnya terjadi akibat tidak disiplin manusia dalam mengolah pemikirannya, baik secara sadar atau tidak sadar. Logical fallacy dapat terlihat melalui ungkapan-ungkapan atau tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin saja terasa benar dan baik-baik saja namun sebenarnya mengandung kekeliruan mendasar, terutama dalam proses penalarannya.

Pembahasan mengenai kecacatan logika ini sendiri, sebenarnya masih berkesinambungan dengan apa yang dibahas pada Mengenal Bias-Bias dalam Berpikir. Keduanya berisikan ulasan singkat yang merujuk pada tulisan Fahruddin Faiz yang di buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika yang menjelaskan contoh-contoh cognitive bias dan logical fallacy dalam kehidupan.

Terkadang logical fallacy juga termanfaatkan sebagai senjata manipulatif oleh seseorang, ketika berniat culas atau ngotot mengungguli lawan bicaranya. Meski begitu, logical fallacy lebih sering secara natural, baik oleh pelaku atau korban dari kecacatan logika tersebut. Pada kerangka keilmuan yang luas, terdapat banyak sekali jenis logical fallacy yang bisa ditemui. Namun, dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika, Fahruddin Faiz membagi logical fallacy berdasarkan alasan terjadinya. Seperti kesalahan pada dilema, kesalahan karena salah fokus, kesalahan karena berbelok ke subjek, kesalahan karena generalisasi, induksi, juga kausalitas, kesalahan karena ambiguitas, dan lain sebagainya.

Sementara itu, dari beberapa bagian logical fallacy yang diklasifikasikan Fahruddin Faiz dalam bukunya, ada beberapa jenis kesalahan yang penting untuk disoroti karena sering terjadi dalam kehidupan seperti yang dijelaskan di bawah ini.

False Dilemma
Kesalahan berpikir ini seolah menyajikan dua pilihan mutlak di depan kita, padahal masih banyak pilihan lain yang bisa ditawarkan. Kesalahan ini juga dikenali dengan istilah "Hitam-putih" atau "dikotomi palsu". Contohnya, "Kau harus jadi pacarku atau tidak usah kenal sama sekali", dan juga "jika kau tidak mau melawan, berarti kau mendukungnya". Untuk menghindari pelabelan terhadap sesuatu akibat sodoran pernyataan yang dilematis tersebut, kita perlu melihat lebih luas bahwa pilihan tidak berhenti di sana dan banyak kemungkinan tindakan/pilihan lain yang dipilih dalam menghadapi suatu persoalan.

Slippery Slope
Kesalahan berpikir berikutnya terjadi karena manusia kebiasaan menyambungkan banyak hal berdasarkan asumsi semata tanpa dilandasi oleh penelitian atau pengamatan yang lebih akurat. "Jangan merokok. Rokok itu awal dari miras, judi, narkoba, dan segala hal buruk lain". Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan berpikir secara meluas dan maksimal sehingga kesimpulan diambil dari informasi atau referensi yang minim, juga terkesan amat subjektif. Sebab nyatanya, keputusan yang diambil manusia tidaklah pernah pasti. Bukan seperti 1+1=2, namun bisa saja 1-1=0. Artinya tidak semua hal berkesinambungan, malah bisa jadi sebaliknya, yaitu tidak berhubungan sama sekali.

Argumentum ad Baculum
Kesalahan ini merupakan pembenaran pemikiran dengan dasar-dasar kekuasaan seseorang atau sepihak. Misalnya, "Kamu harus patuh dengan kebijakan perusahaan, jika tidak mau kehilangan pekerjaan", atau "X itu jelek, kalau kamu memilihnya, rasakan kesengsaraan hidupmu nanti." Secara logika, kesalahan berpikir ini berwujud pada pemaksaan pengambilan keputusan sepihak atas dasar ancaman kuasa. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan membantah bahwasanya argumentasi tersebut tidaklah mutlak berkaitan dan kebenarannya tidak selalu sesuai dengan ancaman

Argumentum ad Hominem
Sesat berpikir Ad Hominem terjadi ketika hal yang dikritisi lebih mengarah pada subjek atau orang yang melontarkan argumentasi dan bukan inti dari argumen itu sendiri. Contohnya, menyerang dengan abusive seperti ungkapan "Engkau boleh bilang bahwa pemerintah itu korup, tapi kamu hanya mahasiswa bau kencur, yang tidak tahu apa-apa", atau menyerang secara circumstantial lewat pernyataan, "Kita tidak usah percaya dengan pernyataan/kampanye mereka, karena mereka disokong oleh perusahaan X, yang misinya memang seperti itu". Atau diserang secara tu quoque, yakni menyerang pembuat pernyataan karena menganggapnya sama lalai dalam berkelakuan. Misal, "Kamu bilang saya tidak boleh selingkuh padahal kamu lebih dulu bermain api dalam hubungan kita".

Hal-hal tersebut menjadi masalah karena karakter atau kondisi seseorang tidak berhubungan langsung dengan benar atau salahnya pernyataan yang diungkap. Kita bisa menyikapinya seperti yang terkandung pada adagium populer, "Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berkata".

Style Over Substance
Kesalahan berikutnya masih mengacu pada subjek dan bukan terletak pada objek pembicaraan. Style over substance merangkum pengambilan kesimpulan yang bertitik berat pada kondisi atau perilaku orang tersebut ketika menyampaikan dan bukan inti yang dibicarakan. Contoh, "Tokoh A kalah dalam debat antar kandidat karena dahinya tampak berkeringat", atau "Mengapa engkau menolak mentah-mentah saran dari pelajar yang terbata-bata itu?" Dalam bersikap, kita diharuskan kembali menelaah substansi dari argumentasi yang terlontar dan tidak boleh terfokus pada cara penyampaiannya.

Hasty Generalization atau Over Generalization
Kesalahan berikut merupakan penarikan kesimpulan secara singkat dan terburu-buru, padahal sampel yang dipakai tidaklah merepresentasikan kebenaran karena kurang memadai. Misalnya, "Ayung anak Tanjung Priok mencuri handphone-ku. Berarti semua anak Priok berwatak pencuri", atau "Kemarin ada siswa yang membolos, berarti siswa sekolah ini memang cenderung membolos dan malas sekolah".

Strawman
Kesalahan pikir ini terjadi saat orang terlampau menyederhanakan suatu kondisi/argumentasi dan membuatnya seakan mudah dibantah atau sepele. Sebaliknya, fakta di lapangan justru mengindikasikan bahwa hal yang dibantah sebenarnya lebih kuat dan mengandung kebenaran. Misal, "Kamu terlalu berlebihan menyikapi ancaman FIFA untuk mencekal Timnas Indonesia, santai saja. Itu cuma gertak sambal", kata pengurus PSSI. Hal ini menjadi salah karena sikap menyepelekan itu malah merugikan kita sendiri, terlebih karena yang berwenang mencoba "sok santai" padahal ancamannya adalah hal yang rawan dan sangat nyata. Dalam menghadapinya, kita perlu menunjukkan bahwa argumen tersebut berangkat dari kesalahpahaman dan tidak signifikan dalam mengatasi persoalan yang ada.


Post Hoc Ergo Propter Hoc
Kesalahan ini menggunakan bahasa Latin yang berarti, "setelah ini, oleh karena itu disebabkan oleh ini". Kurang lebih, seperti itulah kesalahan proses berpikir terjadi. Seseorang menganggap sesuatu sebagai sebab bagi sesuatu yang lain hanya karena muncul lebih awal. Contohnya, gelombang urbanisasi dari desa ke kota besar meningkat setelah lebaran. Akibatnya lapangan pekerjaan menyempit dan sukar meraup tenaga kerja. Pada kenyataannya, pola pikir seperti ini adalah salah, karena akibat tersebut bisa saja eksis walaupun sebabnya tidak terjadi, dan penyebab masalah belum tentu menjadi akibat. Misalkan Jakarta memang kejam bagi tenaga kerja kurang skill atau para pendatang sebenarnya tidak sama sekali menyebabkan kesulitan kerja karena lapangan kerja di Jakarta memang sulit.

No True Scotsman
Kesalahan berikutnya disebabkan oleh klaim yang subjektif dan semena-mena. Misal, "Semua anak desa X bisa menombak paus di laut", kata salah satu petua desa X. Lalu seorang pemuda desa X menjawab, "Saya anak desa ini dan tidak bisa menombak", lantas tetua itu menasbihkan bahwa si pemuda bukanlah anggota desa X yang sejati. Dari cerita singkat barusan, jelas tetua desa X mengalami logical fallacy. Sebab kenyataannya, kesahihan dan generalisasi pada klaim tersebut terkadang memiliki pengecualian juga dan belum tentu sesuai.

Shifting the Burden Proof
Salah pikir yang terakhir pada artikel ini, biasa terjadi ketika seseorang yang telah kalah dalam adu argumen menuntut bukti lebih jauh dari argumentasi lawan bicaranya, karena ia sendiri tidak memiliki bukti yang valid atau lebih memuaskan. Asumsinya biasa berputar-putar pada satu kesimpulan yang baru akan menganggap kebenaran jika belum ada bantahan yang lebih memuaskan. Contoh, "Baik. Kalau kamu tidak setuju bahwa pemerintah dikendalikan oleh reptil kloning, apa kamu punya bukti sebaliknya?" Kekeliruan ini bisa disikapi dengan memaparkan bahwa kebenaran pernyataannya terletak pada pembicara dan bukan pada lawan bicara yang menentangnya.

***

Itulah beberapa jenis logical fallacy yang sering ditemui di masyarakat, merujuk pada paparan yang dituangkan Fahruddin Faiz pada buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika. Sebenarnya masih banyak kecacatan logika lainnya yang bisa dijelaskan. Untuk lebih lanjut, kamu juga bisa membaca buku yang tulis oleh Fahruddin Faiz tersebut atau membaca buku yang ditulis Bo Bennet berjudul Logically Fallacious: The Ultimate Collections of Over 300 Logical Fallacies.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)