Insight | Science

Fakta di Balik Tikus yang Selalu Dijadikan Bahan Percobaan Sains

Sabtu, 30 Apr 2022 12:00 WIB
Fakta di Balik Tikus yang Selalu Dijadikan Bahan Percobaan Sains
Ilustrasi tikus percobaan Foto: Pexels
Jakarta -

Mickey Mouse mungkin adalah tokoh tikus yang paling terkenal di seluruh dunia, bahkan mungkin tidak ada anak-anak yang tak tahu tentang dia. Padahal ada tikus yang seharusnya mendapatkan sorotan dan ketenaran serupa, sebab merekalah yang paling berjasa bagi kehidupan manusia, tapi sayangnya kerap dilupakan. Mereka adalah tikus percobaan bagi penelitian ilmiah yang membantu menciptakan berbagai terobosan.

Meski keberadaan mereka sangatlah berarti, tapi terkadang saya merasa, mereka adalah makhluk hidup juga yang mempunyai hak kehidupan sama di dunia ini. Lantas, kenapa ya para peneliti di dunia sejak 200 tahun lalu hingga kini masih memilih tikus sebagai bahan percobaan sains?

.Ilustrasi tikus laboratorium/ Foto: Vit Kovalcik- Getty Images

Genetik yang mudah dimodifikasi

Percaya atau tidak, tikus dan manusia ternyata mempunyai kesamaan genetik sekitar 90 persen. Sehingga secara mengejutkan gen tikus yang mirip dengan manusia ini pas untuk dijadikan subyek uji coba bagi produk yang akan digunakan manusia. Jika dibandingkan dengan hewan lainnya seperti cacing, ragi, atau bahkan anjing, tikus justru mudah dimodifikasi secara genetik.

Para ilmuwan dapat dengan mudah memodifikasi gen tikus untuk mempelajari efek penyakit apapun termasuk virus. 'Model tikus' ini kemudian akan menjalani serangkaian eksperimen yang akan membantu menciptakan dasar untuk pengobatan penyakit pada manusia.

Selain itu, tikus sangat cocok untuk memahami bagaimana gen manusia kita akan bereaksi terhadap faktor tertentu. Di luar genetika, sistem biologis tikus   seperti organ   juga berfungsi sangat mirip dengan manusia. Tak hanya itu, harganya yang murah dan mudah dirawat, menjadi alasan para peneliti lebih menyukai tikus.

Tikus umumnya memiliki umur yang pendek, namun tikus yang dikembangbiakkan di laboratiorium justru hidup sampai 2 tahun. Umur yang pendek ini akan membantu peneliti mempelajari efek penuaan dan perkembangan penyakit selama seumur hidup, dan selama beberapa generasi dalam periode yang cukup cepat. Apalagi dalam satu penelitian memerlukan banyak subyek yang perlu dicek dan dibandingkan, sehingga tikus dianggap paling memungkinkan untuk menghemat waktu peneliti.

.Ilustrasi tikus/ Foto: Wikimedia Commons

Bisakah penelitian dilakukan tanpa menggunakan hewan?

Meskipun dari berbagai sumber yang saya baca menyatakan bahwa tikus percobaan sangat membantu kemajuan obat-obatan modern, hingga mempermudah hidup manusia. Tapi sekali lagi, menurut saya, tikus adalah hewan yang memiliki hak untuk hidup layaknya manusia. Jadi apakah kita bisa melakukan penelitian tanpa menggunakan hewan sama sekali?

Françoise Barré-Sinoussi dan Xavier Montagutelli, dari Institut Pasteur di Paris, Prancis, membahas kontribusi penelitian pada hewan terhadap pengobatan dalam artikel tahun 2015 di jurnal Future Science OA, Ia menyatakan penggunaan hewan tidak hanya didasarkan pada banyaknya kesamaan dalam biologi dengan sebagian besar mamalia, tetapi juga pada fakta bahwa penyakit manusia sering mempengaruhi spesies hewan lainnya juga.

"Ini terutama terjadi pada sebagian besar penyakit menular. Tapi kami juga ingin melihat kondisi yang sangat umum seperti diabetes tipe 1, hipertensi, alergi, kanker, epilepsi, miopati, dan sebagainya. Tidak hanya penyakit ini yang sama tetapi mekanismenya sering juga sangat mirip, sehingga 90 persen obat hewan yang digunakan untuk mengobati hewan identik atau sangat mirip dengan yang digunakan untuk mengobati manusia," tulisnya, dikutip Medical News Today.

Meski begitu tidak semua peneliti setuju menggunakan hewan sebagai bahan percobaannya. Dalam makalah 2018 di Jurnal Kedokteran Terjemahan, Pandora Pound, dari Safer Medicines Trust di Inggris, dan Merel Ritskes-Hoitinga, dari Radboud University Medical Center di Nijmegen, Belanda, berpendapat model hewan praklinis tidak pernah sepenuhnya valid karena ketidakpastian yang diperkenalkan oleh perbedaan spesies.

Yang lain mengingatkan agar berhati-hati saat memilih model dan menafsirkan hasil studi. Dr. Vootele Voikar, dari Universitas Helsinki di Finlandia, menggunakan tikus dalam penelitian neurobehavioralnya. Dalam penelitiannya tersebut, Dr. Voikar menunjukkan bahwa substansi tikus yang terkait secara genetik dari tempat berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam perilaku dasar mereka.

"Beberapa aturan mendasar, ketika menggunakan hewan dalam penelitian dasar (adalah) untuk menghindari antropomorfisasi dan mempertimbangkan perbedaan spesifik spesies sebanyak mungkin. Ini mungkin saja. Dengan desain eksperimen yang cermat, memahami masalah validitas pada tingkat berbeda dan interpretasi kritis yang tepat dari hasil, relevansi, dan beberapa kepercayaan dapat dicapai," ujarnya.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/MEL)