Insight | Science

Mengapa Manusia Selalu Mempertanyakan Keberadaan Alien?

Kamis, 20 Jan 2022 14:00 WIB
Mengapa Manusia Selalu Mempertanyakan Keberadaan Alien?
Jakarta -

Topik mengenai keberadaan alien di alam semesta ini sering menjadi suatu perbincangan menarik. Baik dalam lingkungan sosial, ilmu pengetahuan, hingga pemberitaan media di seluruh dunia. Baru-baru ini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mencoba melibatkan 24 teolog atau ahli agama untuk mencari kehidupan di luar Bumi alias tempat tinggal alien.

Para pemuka dari seluruh agama yang ada di dunia diminta untuk menilai bagaimana manusia akan bereaksi seandainya jika benar-benar ada kehidupan di planet lain. Dilansir Local12, sebenarnya sejak tahun 2015, NASA menyediakan sejumlah dana untuk programnya di Pusat Penyelidikan Teologis (CTI) di Universitas Princeton, New Jersey. Amerika Serikat.

CTI digambarkan sebagai jembatan pemahaman dengan mengumpulkan teolog, ilmuwan, cendekiawan, dan pembuat kebijakan untuk duduk bersama serta menginformasikan pemikiran publik tentang masalah global. William Storrar, Direktur CTI mengatakan, tujuan program ini untuk mengumpulkan para sarjana di bidang humaniora untuk membahas penelitian dalam astrobilogi, bidang ilmiah yang mempelajari potensi alam semesta di luar Bumi.

"Refleksi ilmiah tentang implikasi sosial astrobiologi ini diterbitkan dalam serangkaian monografi individu dan artikel jurnal akademik peer-review oleh para teolog, cendekiawan agama, filsuf, dan sarjana sastra yang berpartisipasi dalam program penelitian kami untuk sarjana tamu di CTI," kata Storrar.

Pendapat para pemuka agama ini menjadi penting, sebab mayoritas penduduk bumi merupakan penganut agama tertentu dan konsep makhluk luar angkasa. Meski begitu, pemuka-pemuka agama yang tergabung dalam CTI berpendapat bahwa bila suatu hari nanti benar ada kehidupan lain selain di Bumi, mayoritas penganut agama tidak akan menemukan kendala untuk mengonsumsi berita penemuan kehidupan di luar bumi. Bahkan pemuka agama Islam di CTI, Imam Qari Asim dari Masjid Mekah Leeds, Inggris mengatakan tidak akan ada yang berubah dari ajaran Islam seandainya memang ada alien.

Pemberitaan ini hanyalah satu dari banyak berita tentang alien dari tahun ke tahun yang selalu menarik perhatian publik dunia. Ekstensi makhluk hidup lain yang tinggal di luar Bumi selalu menjadi topik teratas yang akan terus-menerus ada, hingga rasa penasaran kita tertuntaskan. Namun, mengapa manusia selalu mempertanyakan keberadaan alien dari masa ke masa?

Alien, antara nyata atau khayalan

Selama ilmu pengetahuan terus berkembang dan penemuan-penemuan baru di luar galaksi ini ditemukan, keingintahuan manusia tentang kehidupan di luar Bumi akan selalu ada. Rasa penasaran manusia tentang alien sebenarnya telah ada sejak lama.

Sebelum paham tentang konsep galaksi dan bumi bulat, banyak peradaban mempercayai adanya makhluk yang tinggal di planet atau galaksi lain. Kepercayaan pada alien terus meningkat sejak lahirnya penelitian alien modern pada 1940-an dan 1950-an, menyusul berita seputar proyek militer rahasia AS di Pangkalan Angkatan Udara Roswell, New Mexico.

Perburuan alien secara sains pun sudah dimulai sejak pertengahan abad lalu, saat Amerika Serikat dan Uni Soviet mendaratkan robotnya untuk pertama kali di Mars pada 1976. Ini menandakan awal mula manusia mencari keberadaan makhluk 'antara nyata dan khayalan' tersebut. Banyaknya laporan tentang alien yang coba dibuktikan oleh NASA atau lembaga antariksa lainnya selama bertahun-tahun, menandakan bahwa manusia cukup terobsesi oleh makhluk ini. Tapi, hal ini justru membuat pertanyaan baru, mengapa kita belum benar-benar bertemu dengan mereka?

Fisikawan Rusia Alexander Berezin, dari National Research University of Electronic Technology (MIET) menyebutnya sebagai 'yang pertama masuk, yang keluar terakhir', sebuah kunci dari Paradoks Fermi. Ia mengatakan, begitu sebuah peradaban mencapai kemampuan menyebar melintasi bintang-bintang, itu pasti akan menyenyapkan semua peradaban lainnya. Sederhananya, alien mungkin malas memperhatikan manusia di Bumi, sebab mereka lebih memilih untuk melintasi antar galaksi untuk melakukan ekspansi eksponensial mereka.

"Mereka tidak akan menyadarinya, sama seperti kru konstruksi yang menghancurkan sarang semut untuk membangun real estate karena mereka tidak memiliki kepentingan untuk melindunginya," tulisnya dalam makalah seperti dilansir Detik. Tapi, banyaknya pemberitaan terus-menerus mengenai alien ini bisakah kita sebut dengan terlalu terobsesi?

Benarkah tanda alien itu nyata?

Sebut saja penemuan cropcircle, catatan tentang kilatan cahaya misterius di langit, pesawat ruang angkasa, dan klaim penemuan tubuh alien, membuat kita sebenarnya-mungkin secara tak sadar-terobsesi dengan makhluk yang kita sendiri belum tahu itu nyata atau tidak.

Bahkan melihat dari sudut pandang psikolog, mereka kurang yakin dan sulit untuk memberikan penjelasan secara ilmiah, serta bisa diterima akal sehat. Survei dalam budaya Barat menunjukkan kepercayaan pada alien mencapai 50 persen di tahun 2015. Terlepas dari kenyataan bahwa itu dianggap langka, sejumlah orang pernah mengklaim bahwa mereka pernah diculik alien. Ya, diculik alien.

Seperti pernyataan pasangan di Amerika Serikat bernama Betty dan Barney Hill tahun 1961 yang mengaku melihat cahaya aneh dan mengalami 'missing time' dan 'lost memories' saat mengemudi. Akibat dari kejadian ini, mereka mengatakan sering kehilangan ingatan, missing time, dan mengalami berbagai masalah psikologis. Seperti berjalan sambil tidur, mimpi buruk, sampai mengalami trauma psikologis.

Meski keabsahannya dipertanyakan, tapi jajak pendapat yang dilakukan oleh Roper Center for Public Opinion Research yang dilakukan 30 tahun kemudian setelah kasus itu, menyatakan bahwa 3,7 juta orang Amerika percaya mereka pernah diculik alien. Tapi faktanya, para psikolog telah menemukan sejumlah alasan ilmiah mengapa banyak orang kerap mengira bertemu alien.

Psikolog berpendapat, orang yang mempercayai mereka pernah diculik alien karena mereka salah menafsirkan, mendistorsi, dan menggabungkan peristiwa yang nyata dan khayalan. Ini mungkin karena adanya proses psikologis dan karakteristik kepribadian orang tersebut. Namun, salah satu karakteristik yang terkait dengan pengalaman penculikan adalah kecenderungan untuk berfantasi. Bukti gabungan mendukung hipotesis bahwa orang yang cenderung fantasi terlibat dalam imajinasi yang rumit dan sering mengacaukan fantasi dengan kenyataan.

Ada juga penjelasan psikologis lainnya, seperti disosiasi--di mana proses mental individu terlepas dari satu sama lain dan dari kenyataan, seringkali sebagai respon terhadap peristiwa kehidupan yang ekstrem atau penuh tekanan, dan ada juga psikolog yang mengaitkan dengan trauma masa anak-anak. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa hipnosis mendorong penciptaan dan mengingat fantasi secara rinci.

Meski begitu, kita juga tidak bisa menyatakan bahwa orang-orang tersebut berbohong karena memiliki gangguan kesehatan mental. Sebab mungkin saja mereka benar-benar bertemu dengan alien. Terlepas dari itu, ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia untuk menjangkau seluruh alam semesta akan terus berkembang, sehingga mungkin saja kehidupan layaknya manusia di Bumi benar-benar ada. Kita tidak pernah tahu.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/MEL)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS