Insight | Science

Busting Myths: Multitasking

Kamis, 14 Apr 2022 12:00 WIB
Busting Myths: Multitasking
Jakarta -

Di dunia yang sangat dinamis ini, kita sering dituntut untuk bisa menyelesaikan 2-3 pekerjaan sekaligus. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu dan tenaga agar dapat mengerjakan pekerjaan lainnya dengan lebih efisien. Banyak orang berpendapat, efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan berasal dari kemampuan otak untuk melakukan beberapa hal sekaligus atau biasa yang dikenal dengan multitasking atau multitugas.

Beberapa orang mengira multitasking muncul pada seseorang yang diberkahi kemampuan otak luar biasa. Sehingga mereka bisa mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus tanpa menemui kesulitan apapun. Tapi, benarkah multitasking memang berasal dari kemampuan otak segelintir orang saja?

Faktanya, multitasking adalah mitos belaka. Otak manusia ternyata tidak dapat melakukan dua tugas yang membutuhkan fungsi otak tingkat tinggi sekaligus. Fungsi seperti bernapas dan memompa darah tidak dipertimbangkan dalam multitasking, hanya tugas yang harus kamu 'pikirkan' yang dipertimbangkan. Namun, yang sebenarnya terjadi pada otak ketika kita cepat beralih dari tugas satu ke tugas lainnya adalah sebuah kontrol otak.

Korteks serebral yang menangani 'kontrol eksekutif' otak dibagi menjadi dua tahap untuk mengatur pemrosesan tugas otak. Pertama adalah pergeseran tujuan yang terjadi ketika kamu mengalihkan fokus dari satu tugas ke tugas lainnya. Kedua adalah aktivitas aturan, yang memungkinkan otak menyelesaikan tugas yang diberikan sebelum beralih mengaktifkan aturan untuk tugas yang baru.

Jadi, ketika kamu berpikir bahwa kamu sedang melakukan banyak tugas sekaligus, kamu hanyalah mengubah tujuan dan menghidup-matikan aturan masing-masing secara berurutan. Uniknya otak memiliki 'sakelar' yang bisa dihidup-matikan sepersepuluh detik, sehingga kamu mungkin tidak menyadarinya. Namun, penundaan dan hilangnya fokus itu bisa bertambah.

Cynthia Kubu, PhD, seorang neuropsikolog mengatakan, ketika kita berpikir bahwa kita dapat melakukan banyak tugas, sebenarnya kita tidak benar-benar melakukannya. "Tetapi sebaliknya, kita melakukan kegiatan satu per satu secara berurutan atau hanya pengalihan tugas," ujarnya dikutip Cleveland Clinic.

Selain itu, studi menunjukkan bahwa ketika otak kita terus menerus berpindah sakelar untuk bolak-balik di antara tugas-tugas--terutama tugas rumit--kita menjadi kurang efisien dan lebih mungkin membuat kesalahan. Mungkin ini tidak terlalu berdampak pada kegiatan sederhana dan rutin dilakukan seperti mendengarkan musik sambil berjalan atau melipat cucian sambil menonton TV. Tapi ketika melakukan tugas yang kompleks, justru akan mempersulit kinerja otak kita atau bahkan berbahaya.

Studi lain menunjukkan bahwa orang yang sering melakukan multitasking media, akan lebih mudah terganggu dan kurang mampu memusatkan perhatian mereka, bahkan ketika mereka hanya melakukan satu tugas saja. Ini juga bisa mempengaruhi kemampuan kita untuk belajar.

"Semakin banyak kita melakukan tugas, semakin sedikit yang benar-benar selesai, karena kita perlahan kehilangan kemampuan untuk fokus belajar. Jika terus-menerus mencoba melakukan banyak tugas, kita tidak terlatih untuk bisa melakukan pemrosesan pembelajaran lebih dalam," kata Dr. Kubu.

Multitasking mungkin akan memberikan efisiensi waktu bagi kamu yang sedang bergegas menyelesaikan sebuah deadline. Namun ketimbang menyelesaikan suatu tugas dengan terburu-buru, dan tidak fokus, ada baiknya melakukan satu per satu tugas untuk hasil yang lebih memuaskan.

[Gambas:Audio CXO]



(DIR/MEL)