Insight | Science

Busting Myths: Deja vu

Jumat, 08 Apr 2022 14:00 WIB
Busting Myths: Deja vu
Jakarta -

Tentunya, kamu pasti tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Deja vu digunakan untuk menjelaskan perasaan di mana sepertinya hal tersebut sudah pernah terjadi, meskipun kenyataannya kamu baru mengalami kejadian itu untuk pertama kali. Seperti misalnya, kamu berada di sebuah percakapan yang berjalan sama persis untuk 'kedua kalinya'. Fenomena yang tidak diduga ini seringkali membuat orang berseru, "Eh, gue deja vu!" Atau mungkin seperti yang Olivia Rodrigo suarakan di lagunya--do you get deja vu when she's with you?

Deja vu merupakan kata yang diambil dari bahasa Perancis, déjà rêvé, yang secara harfiah berarti sudah pernah melihat. Fenomena deja vu diusungkan oleh filosofis dan ilmuwan asal Prancis Émile Boirac pada tahun 1876. Kejadian deja vu biasanya berlangsung selama 10 hingga 30 detik. Sensasi yang dirasakan secara singkat ini membuat deja vu sering dihubungkan dengan hal supernatural maupun erat kaitannya dengan kejadian masa lampau sebelum reinkarnasi ataupun konsep "previous life". Ada juga yang berpendapat bahwa deja vu merupakan dampak dari alien abductions. Namun, adakah penjelasan ilmiah mengenai kejadian yang sering kita alami?

Fenomena deja vu menjadi sebuah hal yang rumit untuk dibuktikan secara sains karena studi tentang pengalaman deja vu bersifat retrospektif sehingga sulit untuk mencari stimulus yang memicu fenomena tersebut. Menurut neurologist Sigmund Freud, deja vu berhubungan dengan adanya keinginan yang terpendam. Sementara, psikiater Carl Jung berpendapat bahwa deja vu merupakan fenomena yang berhubungan dengan alam bawah sadar.

Beberapa riset telah dilakukan untuk menggali fenomena di balik deja vu. Pada tahun 2006, peneliti dari Leeds Memory Group mencoba menggunakan teknik hipnosis untuk melihat pemicu deja vu dalam otak. Langkah pertama, para peneliti mencoba untuk membuat rekayasa memori seperti melihat sebuah kata dalam suatu warna tertentu ataupun bermain gim. Partisipan kemudian diminta untuk melupakan dan atau mengingat memori tersebut yang diharapkan dapat memicu sensasi deja vu saat mereka melakukan aktivitas yang sama. Ada juga riset yang menggunakan virtual reality dengan tujuan dan maksud yang sama.

Eksperimen ini membuat para peneliti menyimpulkan bahwa deja vu merupakan sebuah fenomena memori, yaitu di mana saat kita sedang mengalami situasi yang mirip dengan memori sesungguhnya namun kita tidak dapat betul-betul mengingat memori tersebut. Dalam artian lain, otak kita mengenal kemiripan dengan kejadian yang sedang terjadi dan kejadian di masa lampau.

Meski belum dapat dijelaskan dengan mutlak, sementara waktu, terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena deja vu, dikutip dari Healthline.

1. Teori split perception

Dalam teori split perception, dijelaskan bahwa deja vu dapat terjadi saat orang melihat hal yang sama di waktu berbeda. Otak membentuk ingatan dalam sekali pandang meskipun dalam waktu yang singkat. Hal ini dapat terjadi saat kita hanya melihatnya secara sekilas dan kemudian fokus mengerjakan hal lain.

2. Teori memory recall

Teori yang satu ini mirip-mirip dengan teori split perception, di mana teori memory recall mengacu pada memori yang berlangsung di tempat yang berbeda dengan suasana yang serupa. Teori ini menyatakan bahwa deja vu disebabkan oleh respons otak terhadap peristiwa yang pernah dilalui sebelumnya. Hal yang bisa memicu respons ini dapat disebabkan karena kenangan masa kecil, hingga aroma parfum yang dapat membawa kita untuk mengenang masa lalu.

3. Malfungsi sirkulasi otak

Beberapa berpendapat bahwa deja vu dapat terjadi sebagai hasil dari adanya gangguan sirkulasi otak atau minor brain circuit malfunctions. Memori yang dilihat saat ini harusnya disimpan di memori jangka pendek, namun otak kita malah langsung membawanya ke ingatan jangka panjang. Sehingga, teori ini menjelaskan bahwa deja vu terjadi apabila otak salah merespons kejadian yang sedang berlangsung.

4. Kejang lobus temporal

Teori terakhir menjelaskan deja vu yang terjadi akibat kejangnya lobus temporal. Lobus temporal otak merupakan bagian di otak yang bertanggung jawab dalam memproses emosi dan penyimpanan ingatan jangka pendek. Jika bagian ini terganggu, maka dapat menyebabkan respons seseorang terhadap lingkungan sekitar menjadi menurun yang kemudian dapat membuat pengidapnya berhalusinasi dan merasakan deja vu. Namun, biasanya hal ini umum dialami oleh penderita epilepsi, stroke, tumor, ataupun kelainan pembuluh darah di otak.

5. Teori hologram

Dicetuskan oleh psikiater Hermon Sno, memori diibaratkan bekerja seperti hologram, di mana kita dapat menciptakan kembali seluruh gambar dari setiap kepingan memori secara utuh. Dalam teori ini, deja vu dapat terjadi ketika detil-detil dalam situasi yang sedang kita alami serupa dengan sisa-sisa memori lampau yang menyebabkan otak kita membuat kembali gambaran tersebut dari pecahan memori itu.

Menurut Dr. Akira O'Connor, dosen senior jurusan Psikologi di University of St. Andrews menyatakan bahwa deja vu bukan berarti tanda-tanda kerusakan otak. Bahkan kebalikannya, karena menurut O'Connor, deja vu terjadi saat bagian otak terluar mencoba untuk mengoreksi memori yang salah.
"For the vast majority of people, experiencing déjà vu is probably a good thing. It's a sign that the fact-checking brain regions are working well, preventing you from misremembering events. In a healthy person, such misremembering is going to happen every day. This is to be expected because your memory involves millions and billions of neurons. It's very messy," ungkapnya.

Dengan teori-teori yang masih belum dapat menjelaskan fenomena deja vu seutuhnya, deja vu menjadi sebuah misteri tersendiri. Entah itu hasil dari ingatan kehidupan masa lalu, ataupun glitch dalam pemrosesan memori, deja vu bukan sesuatu yang harus kamu waspadai kecuali jika mengalami gejala kejang-kejang.

[Gambas:Audio CXO]



(HAI/MEL)

Author

Hani Indita