Insight | Science

Mengapa Kita Suka Menunda Sesuatu?

Senin, 24 Jan 2022 11:00 WIB
Mengapa Kita Suka Menunda Sesuatu?
Jakarta -

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan kamu sedang dikejar tenggat waktu untuk mengumpulkan tugas kuliah pada jam 12 nanti. Meski sisa waktu hanya dua jam, dan laptop-mu sedang dalam keadaan terbuka, kamu lebih memilih untuk membuka Netflix dan menonton film favoritmu. Tapi kamu pun tak sendirian, jutaan orang lainnya juga pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan dalam keseharian mereka. Adalah Procrastination atau menunda-nunda pekerjaan telah menjadi "penyakit" yang menjangkit manusia, bahkan sejak masa Yunani Kuno.

Dalam sejarah, konsep procrastination sudah dimuat dalam puisi berjudul "Work and Days" yang dibuat oleh penyair Hesiod pada masa 700 Sebelum Masehi. Dalam puisi tersebut, Hesiod menceritakan adiknya, Perses, yang pengangguran dan pergi berfoya-foya menghabiskan harta warisan. Konsep procrastination memang tidak bisa dipisahkan dari konsep kerja. Mereka yang melakukannya pun seringkali dianggap sebagai orang malas. Padahal, menunda-nunda pekerjaan adalah perkara biologis.

Dikutip Ness Labs, psikolog Dr. Tim Pychyl mengatakan bahwa tendensi untuk menunda-nunda pekerjaan disebabkan oleh adanya pertentangan terus-menerus antara sistem limbik dan korteks prefrontal pada otak kita. Sistem limbik atau otak paleomamalia adalah bagian paling tua dan dominan dari otak kita yang memproses respon otomatis atau spontan dari diri kita. Seperti misalnya, kabur ketika menghadapi bahaya.

Sedangkan, korteks prefrontal merupakan bagian dari otak kita yang lebih baru dan tidak sedominan sistem limbik. Korteks prefrontal memproses perilaku-perilaku kompleks seperti pengambilan keputusan, mengekspresikan kepribadian, dan melakukan perencanaan. Sistem limbik yang lebih dominan membuat kita lebih sering memilih untuk melakukan sesuatu yang membuat kita senang di saat itu juga. Sehingga bisa dikatakan, pertentangan antara sistem limbik dan korteks prefrontal adalah pertentangan antara apa yang ingin kita rasakan sekarang dan apa yang seharusnya kita lakukan nanti.

Dilansir dari situs University of Pittsburgh Medical Center (UPMC), ada tiga jenis perilaku menunda-nunda. Pertama, thrill-seekers atau mereka yang menunda-nunda pekerjaan demi merasakan adrenalin ketika bekerja mendekati tenggat waktu. Kedua, avoiders atau mereka yang menghindari pekerjaan karena takut dihakimi hasil pekerjaannya. Ketiga, indecisive atau mereka yang sulit membuat keputusan karena takut akan hasil yang kurang baik dari pekerjaan mereka.

Meski berakar dari permasalahan biologis, kebiasaan menunda-nunda bisa berakibat buruk bagi performa kerja dan bahkan kondisi emosional kita. Kebiasaan menunda-nunda bisa diatasi melalui beberapa langkah. Pertama, kita bisa menyelesaikan tugas yang paling tidak menyenangkan terlebih dahulu agar semakin cepat terbebas dari beban pekerjaan. Kedua, kita bisa membagi pekerjaan ke bagian-bagian yang lebih kecil agar lebih mudah diselesaikan. Ketiga, memberi self-reward atau penghargaan bagi diri kita sendiri ketika berhasil menyelesaikan tugas, agar lebih termotivasi dan kerja keras kita terbayarkan.

Nah, dari jenis perilaku yang suka menunda itu, kamu termasuk yang mana?

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS