Bicara soal pernikahan, sebagian dari kita mungkin langsung membayangkan pesta meriah, dekorasi cantik, gaun memukau, serta ratusan tamu yang hadir. Begitulah standar yang sering terbangun ke kepala masyarakat Indonesia. Menikah identik dengan resepsi besar, anggaran fantastis, dan energi yang harus terkuras sejak persiapan hingga hari H.
Belakang ini, muncul tren yang kian populer di kalangan anak muda mulai dari milenial dan Gen Z menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Akad sederhana, sah secara agama dan negara, tanpa pesta besar, tetapi masih dengan suasana hangat dan penuh makna. Fenomena ini bukan hanya tentang kepraktisan saja, tetapi tentang paradigma baru bahwa pernikahan tidak harus mewah untuk disebut sah dan bahagia.
Salah satu yang memilih jalur ini adalah Wilda, 34 tahun. Ia bercerita, tentang bagaimana ia dan pasangan memaknai sebuah pernikahan, alasan memilih menikah di KUA, hingga pandangannya tentang generasi muda yang semakin terbuka dengan konsep pernikahan sederhana.
Ilustrasi menikah di KUA/ Foto: Pasar Pernikahan |
Menikah di KUA Tak Perlu Malu
Menurut Wilda, menikah itu komitmen jangka panjang yang harus disadari betul sebelum dijalani. Baginya, persiapan menikah tentang kesiapan mental dan komunikasi dua arah.
"Sebelum menikah, ngobrol tentang apa pun dengan pasangan. Kelebihan, kekurangan sampai target-target jangka pendek dan panjang. Itu wajib biar nggak kaget setelah menikah," ujar Wilda.
Wilda memilih memperkuat fondasi hubungan terlebih dahulu, berdiskusi soal keuangan, cara menyelesaikan masalah, visi keluarga bahkan kebiasaan kecil sehari-hari. Sebab pada akhirnya, pernikahan tentang bagaimana dua orang mau saling menerima dan tumbuh bersama. Ada stigma bahwa menikah di KUA itu biasa saja, tak istimewa, bahkan dianggap "tidak berkesan." Wilda justru melihatnya berbeda.
"Saya sudah mampu ngumpulin uang, jadi sayang jika uang itu habis untuk pesta mewah. Saya tidak butuh validasi orang lain. Saya lebih suka intimate bersama keluarga dan rekan terdekat," jelasnya.
Konsep intimate wedding kini semakin banyak diterima, banyak pasangan ingin pernikahan yang sakral, personal dan menikah KUA menjadi solusi realistis, terutama karena gratis jika dilakukan pada hari dan jam kerja, sah secara negara dan agama, proses administrasi terstruktur, serta tidak menuntut biaya besar.
Berdasarkan peraturan pemerintah No.48 Tahun 2014, menikah di KUA tidak dipungut biaya alias gratis apabila dilakukan pada hari kerja. Jika berlangsung di luar lokasi atau jam kerja, biayanya Rp 600.000 masih jauh ekonomis dibandingkan sewa gedung yang bisa mencapai jutaan hingga ratusan juta.
Bagi Wilda, keputusan itu membuatnya lebih tenang secara finansial. Uang tabungan bisa dialihkan ke kebutuhan pasca menikah seperti tempat tinggal, modal usaha atau sekedar tabungan masa depan. No debt marriage, No pressure.
Ilustrasi menikah/ Foto: Pexels |
Langkah Berani yang Didukung Keluarga
Keputusan menikah sederhana seringkali berbenturan dengan ekspektasi keluarga atau lingkungan. Namun Wilda bersyukur, keluarganya mendukung penuh keputusannya. "Keluarga kami setuju, karena kami menjelaskan alasan-alasannya dengan baik. Justru kami jadi jembatan untuk memberi perspektif baru bahwa menikah di KUA itu hal yang wajar."
Kuncinya adalah komunikasi. Jika pasangan mampu menyampaikan tujuan dengan bijak, memilih menikah di KUA karena realistis dan matang keluarga pun bisa menerima. Ini penting, karena sering kali yang menekan bukan pasangan, melainkan lingkungan. Padahal, sejauh akad sah dan keluarga bahagia, masihkah pesta menjadi tolok ukur.
Wilda melihat bahwa Gen Z sekarang lebih pragmatis, mereka bukan tidak suka kemewahan, melainkan lebih sadar finansial dan kestabilan mental.
"Gen Z ingin simpel. Mereka sadar hidup itu tanggung jawab sendiri. Jadi memilih menikah di KUA juga bentuk kemandirian," ungkapannya.
Pandangan ini sejalan dengan survei yang digelar Jakpat How Indonesian Plan Their Big Day pada 26-30 2025, sebesar 50 persen generasi milenial dan 41 persen generasi Z di Indonesia ingin merayakan pernikahan secara sederhana. Kemudahan, 1 dari 4 milenial di Indonesia menginginkan pesta pernikahannya dihadiri kurang dari 50 orang.
Selain itu, para responden berpikir bahwa fenomena "nikah di KUA" dapat menghemat biaya 78 persen, lebih sederhana 72 persen serta menarik untuk dicoba 36 persen, sementara itu, 1 persen responden memiliki pendapat lain.
Menariknya, responden yang tertarik dengan konsep "nikah di KUA" lebih cenderung menginginkan pernikahan intim/privat 40 persen, sedangkan 34 persen responden menginginkan pernikahan sederhana dan 35 persen responden menginginkan pernikahan yang besar.
Selain ekonomis, menikah secara resmi di KUA mematikan status hukum pasangan dan anak di masa depan. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pencatatan nikah resmi penting sebagai perlindungan keluarga, terutama anak. Ia juga menyayangkan anggapan bahwa menikah di KUA mahal, karena kenyataannya gratis bila sesuai prosedur.
Tanpa pencatatan, urusan administrasi seperti KK, BPJS, hak waris hingga akte anak bisa rumit. Maka pilihan menikah di KUA justru merupakan langkah bertanggung jawab. Saat diminta memberikan pesan kepada calon pengantin, Wilda tersenyum.
"Nikah di KUA itu seru. Atmosfernya beda dengan nikah di gedung. Nggak usah malu, kalau mau ya go ahead aja!"
Menikah seharusnya bukan ajang untuk kompetisi, menikah tentang perjalanan dua orang yang saling berjanji. Jika pesta besar membuatmu bahagia, silakan, tetapi jika hatimu condong pada keintiman yang hangat di KUA juga valid, sah dan layak dirayakan.
Sejatinya, pernikahan bukan tentang memuaskan mata ratusan tamu, tetapi bagaimana setelah hari itu kamu dan pasangan bisa saling menatap dan berkata: "kita siap menjalani ini bersama."
Penulis: Ayu Puspita Lestari
Editor: Dian Rosalina
*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*
(ktr/DIR)
Ilustrasi menikah di KUA/ Foto: Pasar Pernikahan
Ilustrasi menikah/ Foto: Pexels