Inspire | Human Stories

Hikayat PM Toh: Dongeng Tentang Sang Pendongeng

Selasa, 31 Oct 2023 12:53 WIB
Hikayat PM Toh: Dongeng Tentang Sang Pendongeng
Foto: CXO Media
Jakarta -

Di suatu tempat nan jauh di Barat Indonesia, hidup seorang pendongeng yang berkeliling dari desa ke desa. Orang-orang memandangnya dengan tatapan curiga, mereka diliputi rasa was-was sejak beberapa warga menghilang. Tapi tak ada yang berani bersuara.

Semua berubah ketika si pendongeng datang membawa benda ajaib bersamanya. Benda itu adalah papan tripleks yang disulap menyerupai layar televisi, dengan bagian tengah yang bolong. TV Eng Ong, begitu nama benda ajaib itu.

"Dum Daga Dum Dang Dung Daga Dum Dam Dung," di layar TV Eng Ong si pendongeng mulai berhikayat dengan cengkoknya yang menyihir. Tapi, televisi ini bukan sembarang televisi, sebab semua orang bisa muncul di layarnya. Warga yang tadinya curiga akhirnya saling berebut ingin mencoba kesaktian televisi ini. Di depan televisi, mereka bercerita tentang apa saja; ibu-ibu bercerita mengenai suami mereka yang hilang dan anak-anak bercerita tentang duka yang mereka rasakan.

Suasana desa yang tadinya mencekam akhirnya mulai dipenuhi harapan. Inilah hikayat PM Toh, kisah si pendongeng yang berkeliling dengan televisi ajaibnya.

Hikayat PM Toh Sang Pendongeng

Agus Nur Amal, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung PM Toh, memutuskan untuk pulang ke Aceh setelah lulus dari jurusan Teater di Institut Kesenian Jakarta pada awal tahun '90an. Pada waktu itu, seniman kelahiran Sabang ini bermaksud melakukan riset mengenai seni mendongeng. Namun setibanya di kampung, Agus menemui masalah-orang-orang memandangnya dengan tatapan curiga.

Saat itu, konflik Gerakan Aceh Merdeka baru saja dimulai. Aparat masuk ke desa dan secara sembunyi-sembunyi menculik warga yang dituduh sebagai bagian dari kelompok gerakan separatis. Sementara itu, apa yang terjadi di sana juga tidak diberitakan oleh media nasional. Oleh karena tak ada warga yang berani bersuara, Agus memutar otak untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan pilihannya jatuh kepada seni pertunjukan.

Pertunjukan ini hadir dalam bentuk sebuah televisi buatan bernama TV Eng Ong yang ia gunakan sebagai medium untuk mendongeng. Uniknya, para penonton diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertunjukan. Siapa pun bisa mengambil posisi di balik layar televisi dan "berpura-pura" menjadi pembawa program TV Eng Ong.

"Saya buatlah TV dari tripleks sama anak-anak muda di kampung sore-sore, terus saya jahit layarnya di tukang jahit, nah mulailah buat program itu. [Setelah] 3 hari, seminggu, baru mulai ketahuan satu-satu, pada ngomong semua," kata Agus saat ditemui CXO Media dalam acara Ubud Writers & Readers Festival, Jumat siang (20/10/23).

Pagi harinya, ia mengisi panel diskusi bertajuk "Journey to Freedom", bersama dengan seniman Kuba-Amerika Edel Rodriguez, dan jurnalis Kurdistan-Iran Behrouz Boochani. Saat memberikan demonstrasi pertunjukan TV Eng Ong, orang-orang langsung dibuat takjub sekaligus terhibur olehnya. Ia juga bercerita mengenai televisi buatan yang membuat warga jadi berani bersuara ketika konflik GAM terjadi. Memang itulah kekuatan Agus sebagai pendongeng, ia bisa mengubah tragedi menjadi pertunjukan menghibur yang menumbuhkan harapan bagi siapapun yang menontonnya.

Agus Nur Amal “PM Toh” dalam panel diskusi “Journey to Freedom” di Ubud Writers & Readers FestivalAgus Nur Amal “PM Toh” dalam panel diskusi “Journey to Freedom” di Ubud Writers & Readers Festival/ Foto: CXO Media

Ketika tentara masuk ke kampung-kampung di Aceh pada tahun 2000, Agus mulai berhati-hati ketika mengadakan pertunjukan. "Kalau saya buat pertunjukan di kampung, itu tentara-tentara pada datang untuk berjaga. Akhirnya pertunjukannya nggak jadi, mana ada yang mau nonton   orang malas dijaga. Terus saya kadang-kadang juga diikuti oleh intelnya tentara, orang kampung kan tahu mana yang intel tentara. Akhirnya saya masuk ke kampung itu juga nggak bisa karena diikuti. Akhirnya saya lebih memilih kemana-mana sendiri, naik ojek, kemana-mana naik ojek supaya kita tetap netral," ungkapnya.

Sejarah PM Toh Sebagai Pendongeng

Kepada kami, Agus bercerita bahwa nama "PM Toh" sendiri sebenarnya adalah nama gurunya, yaitu Tengku Adnan yang merupakan master storyteller di Aceh. Tengku Adnan mendapat julukan "PM Toh" dari masyarakat Aceh karena ketika sedang berhikayat, ia kerap meniru suara klakson bus PMTOH-perusahaan bus asal Sumatera yang telah berdiri sejak 1957. "Seninya pun dijuluki PM Toh, kemudian jadi aliran. Dan yang belajar sama beliau juga memakai [nama] PM Toh ini, jadi ada yang lain yang lebih tua dari saya yang berguru sama dia," ungkapnya.

Setelah berguru dengan Tengku Adnan "PM Toh", Agus lalu mengembangkan gayanya sendiri dalam bercerita. Karakteristik yang membedakannya dari pendongeng lain ialah penggunaan properti yang "seadanya". Di tangan Agus, kantong plastik bisa menjadi awan; sepatu sandal bisa menjadi karakter bernama Budi; dan gayung mandi bisa menjadi helikopter.

Meski hanya seorang diri dan menggunakan peralatan seadanya, pertunjukan yang diberikan oleh Agus mampu memiliki kekuatan yang besar dalam berkomunikasi kepada penonton. Menurut Agus, seni pertunjukan rakyat menjadi istimewa dibandingkan kesenian lainnya karena terjadi interaksi yang aktif dengan penonton. Sehingga, seni bisa menjadi medium untuk berkomunikasi mengenai berbagai peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat.

Ketika tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, Agus juga berkeliling dari desa ke desa untuk menghibur anak-anak dan warga yang menjadi korban bencana. "Cerita-cerita saya zaman-zaman konflik dan zaman-zaman tsunami adalah cerita orang-orang [yang] kehilangan harapan. Tapi di ending-nya ya semua ini pasti ada balasannya, kira-kira begitulah tema-tema saya. Penderitaan ini pasti akan berakhir, kesusahan ini pasti akan berakhir, itu saja yang saya yakinkan," jelasnya.

[Gambas:Youtube]

Meski Agus dan TV Eng Ong-nya sudah keliling dunia (ia pernah tampil di Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman), tapi pertunjukan yang paling berkesan justru di tanah air sendiri, tepatnya di Desa Sumberklampok, Bali, pada tahun 1995. Saat itu, ada perpecahan antara umat Hindu dengan umat Islam, sebagai imbas dari peristiwa pembantaian massal 1965. Proyek rekonsiliasi ini berlangsung selama kurang lebih 2 bulan, dan ditutup dengan pertunjukan yang dibuat bersama-sama oleh Agus dengan para warga.

Reputasi Agus sebagai pendongeng cukup terkenal di antara anak-anak yang tumbuh besar di era '90-an hingga 2000-an, tapi rupanya generasi yang lahir sesudahnya banyak yang tidak mengenal TV Eng Ong. Agus mengatakan ada kerinduan dari mereka yang tumbuh besar bersama dongeng-dongengnya, "TV Eng Ong ini sangat terkenal sebetulnya di Aceh dulu. Sekarang sudah rindu. Dulu anak-anak ikut main, sekarang sudah pada tua-tua."

Sekarang Agus menghabiskan hari-harinya dengan menerima panggilan untuk mendongeng, mengisi diskusi, dan membuat karya seni rupa seperti lukisan dan instalasi. Di saat yang bersamaan ketika ia menjadi pembicara di UWRF, karya seni Agus juga dipamerkan di Gedung Stovia, Jakarta Pusat, dalam rangka acara Pekan Kebudayaan Nasional yang berlangsung hingga 29 Oktober 2023.

Agus berharap kesenian Indonesia bisa lebih berkembang, salah satunya dengan mengembalikan format acara seni rakyat yang bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Menurut Agus, acara kesenian yang banyak ditemui hari ini sudah dianggap hebat kalau bisa berlangsung hingga 3 hari. Padahal, itu merupakan konsep Orde Baru. "Nah kita kembali kalau buat acara tuh yang lama gitu, sehingga dampaknya terasa baik bagi seniman atau bagi masyarakat. Jadi gagasan 1 hari [sampai] 2 hari itu ditinggalkan."

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS