Inspire | Human Stories

Perkenalan Dengan: Bookhive

Selasa, 13 Jun 2023 15:00 WIB
Perkenalan Dengan: Bookhive
Foto: Instagram
Jakarta -

Selama kurang lebih 3 tahun terakhir, tepatnya sejak pandemi Covid-19, kabar mengenai tutupnya gerai toko buku santer terdengar; mulai dari tutupnya Kinokuniya di Plaza Senayan pada 2021 hingga Books & Beyond yang menutup seluruh cabangnya per Mei 2023.

Terbaru, Toko Buku Gunung Agung mengumumkan akan menutup seluruh gerainya akhir tahun ini, setelah 70 tahun beroperasi. Fenomena ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar mengenai masa depan buku dan literasi di indonesia, dan juga membangkitkan dugaan bahwa buku fisik sudah tak lagi menarik di mata masyarakat.

Namun di kala toko buku komersial mengalami kemerosotan, Bookhive justru membuka akses sebesar-besarnya untuk menikmati buku. Melalui jaringan perpustakaan jalanan yang tersebar di beberapa ruang publik Jakarta, Bookhive membuktikan bahwa budaya membaca bisa dipupuk lewat hal-hal sederhana.

Inisiatif ini dimulai oleh Farid Hamka pada 2021 dengan mengusung tagline "ambil seperlunya, sumbang semampunya". Prinsipnya, siapapun bebas meminjam buku yang ada di rak dan siapapun boleh menyumbang buku untuk menambah koleksi di rak  gratis, tanpa syarat dan (hampir) tanpa batas.

Kepada CXO Media, Farid mengaku bahwa Bookhive sebenarnya bukan sesuatu yang inovatif, sebab public book racks semacam ini sudah banyak bermunculan di luar negeri seperti di Inggris dan Jerman. Namun situasi lockdown yang sempat membuat kualitas udara membaik akhirnya mendorong Farid untuk menikmati Jakarta dengan cara yang berbeda dan dari situ timbul keinginan untuk memberikan sesuatu bagi kota ini. Ia pun akhirnya memilih buku sebagai kontribusinya untuk Jakarta.

Bookhive pertama kali hadir di Taman Situ Lembang dengan wujud sebuah lemari buku kecil berbentuk trapesium yang dilengkapi dengan pintu. Inisiatif ini nyatanya disambut antusias oleh warga sekitar. Dua tahun berjalan, Farid dan timnya kini mengelola 11 Bookhive yang tersebar di berbagai titik di Jakarta, seperti Taman Literasi (Jakarta Selatan), Kota Tua (Jakarta Barat), serta Taman Menteng (Jakarta Pusat). Bahkan beberapa bisnis di luar kota tertarik untuk membeli Bookhive, sehingga kehadiran Bookhive kini juga telah menjangkau Surabaya, Bali, dan Tangerang Selatan.

.Bookhive di Taman Lembang/ Foto: Instagram @jakartabookhive

Ekonomi Berbagi

Bookhive mungkin beroperasi dengan sistem yang sederhana, tapi inisiatif ini membawa dampak kultural yang cukup signifikan. Farid bercerita bahwa Bookhive dilandasi oleh filosofi ekonomi berbagi, yaitu sebuah sistem ideal di mana orang-orang memberikan apa yang mereka bisa berikan untuk komunitas, tanpa adanya imbalan dalam bentuk uang.

"Menurut aku sistem tradisional kayak pertukaran di mana orang bisa memberikan sesuatu untuk orang lain tanpa ada pamrih penting banget buat dilestarikan. Meskipun di Jakarta terus-menerus ada mall, e-commerce, monetisasi, dan sebagainya," ucapnya.

Lebih jauh lagi, Farid merasa ekonomi berbagi sangat cocok diterapkan untuk pertukaran buku, sebab nilai dari sebuah buku bisa berbeda untuk masing-masing orang. Di Jakarta, kota di mana nyaris segalanya dikomersialisasi, tindakan sederhana seperti berbagi buku bisa memberi napas baru untuk kehidupan urban yang kental dengan individualitas.

"Makanya orang-orang juga senang kalau buku yang mereka sumbang dibaca orang lain. Ada nilai tersendiri dari bertukar sesuatu yang timbal baliknya bukan uang, " tutur Farid.

Perubahan yang dibawa Bookhive tidak hanya terletak pada filosofi ekonomi berbagi, tapi juga pada statusnya sebagai proyek komunitas. Dengan kata lain, meski diinisiasi oleh individu, tapi setelah dijalankan Bookhive akan menjadi milik bersama dan tanggung jawab bersama. Maka dari itu, keberhasilan Bookhive   baik dalam hal operasional maupun kemampuannya dalam menumbuhkan minat baca   sangat bergantung pada sense of belonging warga sekitar terhadap perpustakaan publik ini.

Rasa kepemilikan bersama itu nyatanya berhasil tumbuh, meski dibuktikan melalui peristiwa yang tak mengenakkan. Pada Desember 2022, Farid dan timnya mendapati Bookhive Taman Literasi dalam keadaan hampir kosong, nyaris semua bukunya lenyap karena dicuri oleh sekelompok orang tidak bertanggung jawab. Lewat Instagram @jakartabookhive, orang-orang diundang untuk membantu mengisi kekosongan Bookhive Taman Literasi. Warga Jakarta pun menjawab undangan tersebut, dalam waktu kurang dari 48 jam rak buku itu kembali terisi penuh.

[Gambas:Instagram]

Menghapus Sekat, Menghidupkan Buku

Lewat pertukaran buku, Bookhive menghidupkan nyawa perpustakaan yang inklusif dan aksesibel bagi semua. Dengan memilih taman publik sebagai lokasi utama, Bookhive mengubah bagaimana kita membaca buku   aktivitas membaca yang selama ini terpusat di perpustakaan formal atau toko buku, kini menjalar ke ruang publik yang lebih cair. Bookhive pun kerap berkolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari toko buku, organisasi kebudayaan, hingga pemerintah untuk menggelar berbagai kegiatan literasi, misalnya seperti Book Blind Date dan Jelajah Jakarta.

Berbeda dengan dugaan bahwa digitalisasi membuat orang-orang jenuh dengan buku fisik, Farid percaya bahwa buku fisik akan selalu diminati. Hanya saja, ada beberapa faktor yang menjadi barrier bagi orang-orang untuk membaca buku, salah satunya yaitu harga buku yang relatif mahal.

Di samping itu, akses yang sulit juga membuat orang berpikir dua kali untuk membeli atau meminjam buku. "Misalnya kita beli 1 buku terus kita nggak suka, ya sudah kita nggak beli buku lagi. Kita kayak ngerasa, 'I'm betrayed'. Kedua, perpustakaan birokrasinya berbelit-belit, harus sign in terus bikin kartu anggota dulu, itu buat beberapa orang udah jadi sebuah barrier," tutur Farid.

.Warga sekitar membaca buku di Bookhive Taman Lembang/ Foto: Instagram @jakartabookhive

Dengan membuat perpustakaan bersama yang aksesibel, Bookhive berharap bisa menghapus sekat-sekat tersebut dan menumbuhkan budaya membaca yang kuat.

"Dari situ kalau kita ngomong apakah Bookhive itu adalah kompetitor untuk perpustakaan atau toko buku, enggak. Yang kita mau lakukan, bersama dengan gerakan literasi lain, adalah membuat membaca menjadi keren sampai akhirnya kita bisa membuat industrinya jadi sustain," kata Farid.

Kehadiran Bookhive memberikan perspektif baru bahwa ada berbagai alternatif dalam mengelola perpustakaan   ruang publik pun bisa menjadi ruang baca yang menyenangkan; di taman, di jalanan, di mana saja. "Aku pengin Bookhive bisa menjadi platform yang menyoroti all the joys that can come from reading, because there are millions of it."

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS