Inspire | Human Stories

TAKBIR Ep. 9: Masjid Ramlie Musofa, Berdiri Atas Nama Cinta pada Sang Pencipta

Jumat, 14 Apr 2023 17:38 WIB
TAKBIR Ep. 9: Masjid Ramlie Musofa, Berdiri Atas Nama Cinta pada Sang Pencipta
Jakarta -

Bak mutiara di tepi danau yang memanjang, Masjid Ramlie Musofa tampil memikat siapapun yang melintasinya untuk melipir sejenak; berteduh dari riuhnya dunia, lalu bersimpuh kepada Yang Memiliki Dunia.

Berlokasi persis di Jl. Danau Sunter Selatan 1 blok 1/10 Nomor 12C - 14A, Jakarta Utara, Masjid Ramlie Musofa konsisten menjaga tujuan utama sang pendiri, (Alm) H. Ramli Rasidin, yakni menjadi wujud kecintaan terhadap Allah SWT, agama Islam, keluarganya, hingga kaum muslimin secara luas.

Masjid tiga lantai dengan tiga kubah di atapnya tersebut juga menuangkan aksen-aksen Tionghoa di dalamnya-sebagai latar budaya dari sang pendiri-melalui ukiran Surah-surah Al Quran yang ditranslasi ke dalam bahasa Mandarin.

Belum henti di sana, Masjid Ramlie Musofa yang diproyeksikan sebagai salah satu pintu keindahan Islam bagi masyarakat secara menyeluruh, tidak ketinggalan langkah saat menunjang kebutuhan ibadah Ramadan. Terlihat dari giat salat Tarawih berjamaah (11 rakaat) setiap malam, hingga menyediakan kebutuhan berbuka puasa gratis kepada para jamaahnya.

Mewujudkan Cinta

(Alm) H. Ramli Rasidin pertama kali mengikrarkan syahadat di 'Serambi Mekah', Aceh, saat menginjak usia yang ke-19 tahun. Berangkat dari kesadarannya sendiri, sang pendiri Masjid Ramlie Musofa yang terus berikhtiar pada jalan Allah SWT memutuskan untuk membangun mahligai cintanya kepada Yang Maha Cinta, dengan mendirikan sebuah Masjid pada tahun 2011 lalu, dan selesai tahun 2016.

Ramlie Musofa sendiri memang didirikan atas nama cinta kepada Allah. Karena itu, gaya arsitekturnya terinspirasi dari Taj Mahal, yang di lain sisi, menjadi persembahan cinta Raja Mughal, Shah Jahan kepada mendiang istrinya, Arjumand Banu Begum atau Mumtaz Mahal. Hal ini bisa dilihat dari dominasi warna putih di seluruh bagian masjid, tampak bangunan yang megah dan mewah, hingga tiga deret kubah yang berada di atap.

Kemudian, di samping memiliki gaya arsitektur ala Taj Mahal dan membubuhkan aksen khas Tionghoa-seperti halnya Surah Al Qariah di halaman depan, lalu Surah Al Fatihah yang menempel di sisi tangga yang mengarah ke pintu masuk masjid-pemilihan nama Ramlie Musofa sebagai nama masjid juga terbilang unik.

Alih-alih menamainya dengan Asma-Asma Allah SWT atau tipikal masjid kebanyakan, Ramlie Musofa justru diambil langsung dari potongan-potongan nama keluarga inti (Alm) H. Ramli Rasidin. Kata 'Ram' ditukil dari namanya sendiri; kata 'Li' dipenggal dari nama istrinya, Liu Kin; sedangkan kata 'Mu', 'So', dan 'Fa, merupakan singkatan dari ketiga nama anaknya, Muhammad, Sofian, dan Fabian.

Paling tidak, hal ini cukup membuktikan bahwa selain menjadi persembahan cinta kepada Allah SWT dan agamanya, Ramlie Musofa juga didedikasikan oleh seorang bapak kepada keluarganya yang terkasih.

Cinta Kepada Yang Maha Cinta

Relasi cinta dalam diri manusia menyebar ke dalam beberapa level, terutama, saat membicarakan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Syekh Abdul Qadir Jailani pada kitab 'Al Fathur Rabbani Wal Faydhur Rahmanni' pernah menjelaskan bahwa hubungan manusia-Tuhan yang paling umum berada di level kewajiban, lalu beranjak ke tahapan kebutuhan, dan memuncak pada perasaan cinta, atau lillahi ta'ala (semata-mata karena kecintaan kepada Allah).

Dalam hal ini, yang dimaksud sebagai level kewajiban adalah perasaan patuh melakukan segala perintah, atas dasar kesadaran: keharusan semata. Kasarnya seperti hubungan pegawai dengan bos di kantor, yang secara kaku diatur atas kontrak kerja.

Kemudian, tahapan kebutuhan yang berada satu level di atas kewajiban berkutat soal kepatuhan manusia yang telah melampaui aturan, namun terdapat unsur ketergantungan dan pamrih. Ranahnya bermuara pada ganjaran di balik setiap perilaku, mirip seperti hubungan anak dengan orang tuanya, yang mau tidak mau patuh, karena mengetahui baik atau buruknya konsekuensi berpatokan pada perilakunya sendiri.

Sementara lain, tingkatan paling ihwal dalam relasi manusia-Tuhan akan berada di ranah cinta. Sebab pada tingkat ini, kesadaran untuk patuh, loyal, dan berdikasi penuh, tidak lagi sebatas keharusan, tidak pula demi mengharapkan imbalan, namun semata-mata karena cinta. Cinta, yang tumbuh karena sadar, bahwa sesungguhnya Tuhan lah yang Maha Cinta, yang sedari awal tidak henti mengasihi dan menyayangi manusia.

Secara implisit, upaya (Alm) H. Ramli Rasidin membangun Masjid Ramlie Musofa sendiri bisa dikenali sebagai wujud kecintaan. Sebab, semua yang dirangkumkan Ramlie Musofa mencoba meleburkan keakuan diri seorang hamba dan semata-mata mengagungkan keluhuran cinta-Nya.

Atau paling tidak, kadar keimanan seorang hamba yang bersungguh-sungguh membangun rumah ibadah tidak bisa dibilang receh. Artinya, sosok yang membangun Ramlie Musofa bukan sekadar percaya kepada-Nya, namun juga penuh keyakinan sehingga layak disebut sebagai orang arif, berilmu, dan bercinta kasih hanya kepada-Nya.

(RIA/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS