Inspire | Human Stories

Person of the Month: Timo Tjahjanto

Selasa, 31 Jan 2023 19:35 WIB
Person of the Month: Timo Tjahjanto
Foto: @timobros
Jakarta -

Jika ditanya siapa saja sutradara Indonesia yang mampu menghasilkan karya-karya film dengan kualitas mumpuni di genre horor hingga action, maka apa jawaban kamu? Kalau saya diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka hanya ada satu nama saja yang keluar dari mulut saya: Timo Tjahjanto.

Ya, sutradara yang lahir di masa Jerman Barat masih berdiri kokoh pada 42 tahun silam ini memang memiliki track record bersinar di kancah industri film. Ketika Dara muncul sebagai bagian film antologi horor Takut: Faces of Fear, saya masih ingat bagaimana ketegangan yang dibangun oleh tangan dingin kombinasi mematikan Timo dan Kimo Stamboel di bawah moniker The Mo Brothers. Seiring berjalannya waktu, Timo mulai berdiri kokoh sendiri dengan barisan karya yang memorable. Sebut saja franchise Sebelum Iblis Menjemput, The Night Comes for Us, hingga yang terakhir ada The Big 4 sebagai bagian dari original film Netflix Indonesia.

Saya berkesempatan untuk ngobrol langsung dengannya sebagai sesama orang bernama Timo. Ia bercerita panjang lebar tentang bagaimana The Big 4 bisa menjadi satu karya penting dalam kariernya, kenapa ia memilih Takashi Miike sebagai mentor, dan kabar terbaru tentang film Si Buta Dari Gua Hantu.

Please welcome, Person of the Month Januari 2023: Timo Tjahjanto.

The Big 4 dan Timo Tjahjanto

Kehadiran The Big 4 pada akhir 2022 menjadi penutup yang manis di tahun yang harus diakui memberikan optimisme dalam menjalani kehidupan setelah dua tahun terakhir kita semua dilanda pandemi. Proses pembuatan The Big 4 sendiri ternyata juga cukup terpengaruh oleh pandemi pada saat itu.

"Ketika Covid lagi tinggi-tingginya, banyak masalah ketidakjelasan soal pekerjaan. Dari situ proyek yang lagi di-develop juga nggak jelas juntrungannya gimana. Bioskop juga baru saja tutup. Jadi kita beneran bingung mau gimana. Kebetulan Netflix saat itu juga baru mau masuk ke Indonesia. Kemudian pihak Netflix Indonesia nanya, 'Timo bisa gak bikin sesuatu yang lebih bersahabat?'. Jadi akhirnya gue mencoba menulis karya yang lebih berbeda dari karya-karya gue sebelumnya. Gue juga pingin bikin sesuatu yang lebih optimis dan hopeful, kalau dilihat dari masa pandemi yang memang apa-apa nggak jelas," ucap Timo ketika ditanya tentang proses The Big 4 hingga bisa menjadi film.

Usaha yang dibangun untuk melahirkan karya yang penuh optimisme ternyata berujung manis. Film yang dibintangi Abimana Aryasatya, Putri Marino, Lutesha, Arie Kriting, Kristo Immanuel, dan Marthino Lio dipandang bak oase di tengah keringnya film action yang seru sekaligus terselip fun di berbagai sisi. Bahkan, The Big 4 juga masuk ke jajaran film Top 10 Global Netflix karena ditonton para subscriber dari 79 negara.

Kepuasan Timo tentang The Big 4 sebenarnya tidak bisa mencapai puncak. "Gue nonton The Big 4 sudah ratusan kali, jadi setiap gue nonton, gue langsung mikir, 'Wah harusnya gue bisa gini, bisa gitu'. Tapi kalau dari sisi crew dan cast, gue bangga banget. Ini mungkin jadi satu syuting di mana terasa positive vibes. Padahal mereka sendiri belum tau dan familiar dengan action dicampur komedi. Jadi mereka nggak tahu kayak gimana hasilnya. Tapi mereka selalu tampil 110%".

Di luar itu semua, penggunaan bahasa daerah dengan joke lokal di The Big 4 menjadi salah satu misi yang dibawa Timo ketika dalam proses menulis. Alasannya pun dijawab dengan mantap: Ingin menciptakan film Indonesia yang bisa dinikmati di seluruh dunia, serta menjadi bukti bahwa inilah identitas orang Indonesia yang sebenarnya.

Ketika Kita Dibawa ke Dunia Imajinasi Timo Tjahjanto

Melihat filmography Timo, maka kamu pasti setuju kalau unsur gore, sadis, hingga hal-hal explicit sangat terasa di dalamnya. Timo sendiri mengakui bahwa ia sebenarnya sangat benci dengan hal-hal tersebut. Namun, ada alasan logis mengapa ia tetap infuse unsur-unsur itu ke dalam film-filmnya. "Kesadisan dan kekerasan adalah sebuah gambaran bahwa jangan pernah shock dengan violence di film karena dunia tuh jauh lebih sadis daripada film," ungkap Timo.

Visi-misi Timo juga dibawa ke dalam film-film action-nya dengan melibatkan adegan fast dan terasa kinetik tapi berantakan. Timo melihat bagaimana adegan fighting di film itu harus tetap berantakan seperti apa yang terjadi ketika pertandingan MMA yang memang jago, tetapi tetap terasa clumsy dan ceroboh. Inilah yang membuatnya selalu membuat film action yang harusnya bisa terjadi di real life.

Imajinasi liar yang dibawa oleh Timo ke layar lebar memang terkadang terasa out of the box. Bahkan termasuk film-film pendeknya seperti "L is for Libido" (The ABCs of Death), "Safe Haven" (V/H/S 2), dan "The Subject" (V/H/S 94). Keunikan sentuhan Timo dalam film-film pendek ternyata ia akui untuk menjadi bentuk exercise sebagai seorang filmmaker. Timo malah sering mengingatkan kepada para filmmaker muda untuk terus membuat film pendek walaupun sudah membuat film layar lebar. Alasannya untuk menjadikan film pendek sebagai wadah latihan dengan sangat efektif, khususnya dalam membangun cerita yang rich dalam durasi lebih pendek.

Apa yang sudah diciptakan oleh Timo tidak lepas dari barisan film yang sudah dia tonton. Tapi ia tidak pernah melupakan sosok Takashi Miike yang disebut sebagai satu-satunya mentornya. "Gue ter-influence banget sama filmnya dia. Gimana dia melihat society, dan spirit-nya dia juga bisa dicontoh oleh banyak filmmaker. Kayak kecenderungan kita sebagai manusia sekaligus filmmaker adalah semakin tua malah filmmaking mereka itu berhenti membandel. Sedangkan seorang filmmaker itu harus bisa bandel terus dan makin punk rock ketika makin tua. Jangan sampe energi lo mengantuk," jelas Timo.

Timo mengaku ada jawaban Takashi Miike terhadap pertanyaan tentang apa aspirasi film dari sutradara asal Jepang itu. "Takashi Miike kasih statement simpel kalau dia bikin film buat hidup. Lo harus berterima kasih bahwa di dunia yang makin nggak jelas ini, lo [punya] privilege buat bikin film karena itu merupakan sesuatu yang butuh dana banyak dan tenaga kerja banyak, tapi lo bisa bikin buat orang terbawa ke dunia lain untuk 90 menit ke atas. Dan jawaban itu nggak akan pernah gue lupain."

Kabar Terbaru Timo Tjahjanto

Harus diakui reputasi yang sudah Timo dapatkan sudah ia pupuk sejak tahun demi tahun dan film demi film. Tentu saja kita sangat menunggu kabar terbaru dari project Timo dalam beberapa waktu ke depan. Timo sendiri bercerita tentang beberapa project yang sedang di-develop tapi sekarang sudah masuk ke tahap penulisan. Ditambah lagi, bakal ada project berikutnya bersama Netflix yang semoga saja bisa berjalan baik.

Saya pun penasaran tentang kabar film Si Buta Dari Gua Hantu yang sudah pasti akan hadir secara brutal. Menurut Timo, film ini sebenarnya masih ada dan namanya masih tertempel di project itu. Ia sudah membuat script yang terasa personal banget karena menceritakan perjalanan seorang Barda hingga menjadi superhero Si Buta. Namun sayangnya, masih diperlukan waktu lebih lama untuk menjaga kelangsungan superhero Indonesia tetap terus berjalan, termasuk budget lebih besar.

"Si Buta Dari Gua Hantu itu perlu budget yang lebih. Apalagi kita ngomongin lokasi eksotis kayak gua, perkampungan, dan lembah-lembah. Logistiknya banyak banget yang harus dipikirin. Jadi gue jalanin project bareng Netflix dan US project gue dulu. Tapi gue selalu siap dengan Si Buta Dari Gua Hantu. Tenang aja, project-nya nggak mati kok. Tetap ada," ucap Timo.

Pada akhirnya, apa yang telah Timo curahkan dalam setiap filmnya menjadi bukti bahwa ketika mental punk rock dan niat untuk terus "bandel" dalam setiap plot cerita serta pembangunan adegan, maka filmmaker itu bisa menghadirkan cita rasa berbeda sekaligus memperkaya khazanah industri film Indonesia. Selamat untuk Timo Tjahjanto karena terpilih sebagai Person of the Month Januari 2023 dari CXO Media!

***

Timo Tjahjanto Picks:

5 Film Terbaik
Yojimbo
Hanabi
Magnolia
Texas Chainsaw Massacre
Terminator 2

"Final fight Iko Uwais dan Joe Taslim itu banyak ngambil dari Terminator 2" - Timo

1 Film Terjelek yang Pernah Ditonton
"Gue suka mencibir filmmaker yg udah dikasih duit buat bikin film tapi malah ngadi-ngadi dan asal-asaan. Cuman gue pernah walkout pas nonton How to Lose a Guy in 10 Days yang emang film romantic comedy gitu. Di setengah jam film gue mikir, 'Kenapa gue ada di sini?' Akhirnya gue cabut terus nunggu aja di supermarket di bawah." - Timo

[Gambas:Audio CXO]

[Gambas:Youtube]

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS