Inspire | Human Stories

They Don't Talk About: Wibu

Jumat, 29 Apr 2022 15:00 WIB
They Don't Talk About: Wibu
Ilustrasi Wibu Foto: Reddit
Jakarta -

Di kalangan kita, istilah 'Wibu' bukanlah hal yang jarang kita dengar. Wibu selalu mengacu kepada kelompok orang-orang yang memiliki minat tinggi terhadap segala hal yang berbau Jepang. Dilansir dari The Japanese Way, wibu adalah individu yang memiliki obsesi tidak sehat terhadap budaya Jepang. Seorang wibu cenderung menikmati aspek-aspek tertentu dari budaya Jepang seperti anime atau manga tetapi mereka mengabaikan tradisi Jepang yang lebih luas. Bahkan, banyak omongan orang-orang yang mengklaim bahwa para wibu di sekitarnya merupakan segelintir orang yang tidak memiliki kehidupan sosial karena selalu berkutat dengan hobi dan kesenangannya terhadap hal-hal yang berbau Jepang.

Stereotip wibu juga umum berputar pada hal yang tak biasa, mulai dari aneh dan tidak memiliki social life hingga bau bawang. Meskipun terkesan nyeleneh, istilah bau bawang memang kini sudah melekat dengan wibu. Persepsi masyarakat mengenai hal ini dikarenakan beberapa wibu ada yang terlalu fanatik dengan jejepangan, hingga lupa untuk memedulikan diri dan mandi. Stereotip ini memang cukup ekstrem karena dapat menyinggung perasaan siapapun yang mendengarnya. Karena stereotip-stereotip ini, banyak orang yang memiliki minat dengan hal-hal berbau Jepang dipukul rata untuk memiliki ciri-ciri tersebut dan sangat sering dipandang sebelah mata.

Bahkan karena adanya stereotip ini, lingkup sosial masa kini cenderung menjauhi orang-orang yang memiliki ketertarikan tinggi dengan hal-hal seputar Jepang. Hal ini sungguhlah sangat tidak adil untuk mereka yang dianggap wibu, karena hal-hal tersebut belum tentu dimiliki oleh semua orang yang menyukai kultur Jepang. Untuk memberikan pandangan yang seimbang, saya sudah mewawancarai salah satu teman saya   Dimas   yang sangat menyukai semua hal tentang Jepang, mulai dari anime, kultur dan bahasanya. 

.Ilustrasi Wibu/ Foto: CNN

Dimas mengaku sangat menyukai semua hal tentang Jepang dan anime semenjak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Alasan utamanya karena pada saat itu ia sempat mempelajari bahasa Jepang di sekolahnya. Semenjak saat itu, ia semakin tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai kultur Jepang.

"Suka segala hal tentang Jepang semenjak SD, tapi untuk sampai di tahap suka bangetnya sih saat SMA. Soalnya waktu itu ada mata pelajaran bahasa Jepang di sekolah. Alesannya sih berawal memang dari minat tentang Jepang kemudian mulai nonton anime dan baca manga juga. Gue suka banget karena ada feelnya sendiri dari nonton anime atau ngoleksi hal-hal yang berbau anime dan Jepang," ujarnya.

Ia pun sangat paham betul mengenai stereotip yang beredar mengenai seorang wibu di kalangan masyarakat mulai dari no social life hingga perihal bau bawang. Mengenai hal ini, Dimas pun memberikan tanggapan, "Gue mau menyampaikan secara universal aja, sih, mengenai hal ini. Jangan memandang orang sebelah mata karena setiap orang punya kelebihannya masing-masing. Buktinya, banyak wibu yang memiliki kemampuan sangat oke dalam berbahasa Jepang. Enggak hanya itu, mereka juga banyak yang jago gambar dan smart juga in general."

.Wibu/ Foto: Japan Times

Dimas selaku seorang wibu juga menambahkan pembelaannya terhadap stereotip kuno tentang wibu ini yang beredar di tengah masyarakat. "Setiap orang punya hobi dan kesukaannya masing-masing. Gak jauh beda kok sama orang lain yang suka berat sama Korea atau K-pop, olahraga dan hal-hal lainnya. Menurut gue, sebaiknya orang-orang lebih menghargai hobi dan minat orang-orang, sih, karena kan setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing yang mereka temukan di hobi atau minatnya itu," tambahnya.

Berdasarkan statement yang diberikan Dimas, saya pun setuju. Sebenarnya tidak ada yang salah bagi setiap orang untuk memiliki minat yang berbeda-beda dan unik. Jika kamu memang tidak menyukainya, ya sudah, hargai saja. Menarik kembali stereotip aneh mengenai wibu yang sudah disebutkan di atas, tidak semua orang yang menyukai hal berbau Jepang memiliki ciri seperti itu. Alangkah baiknya, generasi muda saat ini harus mulai lebih aware dengan konsep menghargai perbedaan dan preferensi masing-masing pada sesuatu hal.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)